Kita saudara, kita sedarah,
lahir dari rahim yang sama,
dari denyut nadi yang serupa,
namun takdir menulis garis berbeda
di peta perjalanan jiwa.
Ada darah yang mengalir,
Seperti tinta merah di kitab purba,
Menyambung nama, menyulam sejarah,
Namun arah hati tak pernah tunduk
Pada kompas yang satu.
Kita saudara, kita sedarah,
Tapi kita tak searah.
Seperti dua bintang di langit kelam,
Bersinar dari inti yang sama,
Namun orbitnya tak pernah bertemu,
Hanya saling menatap dari kejauhan.
Dan mungkin, di situlah keindahan:
bahwa persaudaraan bukan sekadar sejalan,
melainkan keberanian merawat ikatan
meski langkah tak pernah sebidang.ah tak pernah sebidang.
Penulis: Sarah Arnila Yeni

Leave a Reply