RisetAnakBangsa.id-Angin malam itu berembus pelan, membawa aroma laut yang samar-samar mengingatkanku pada satu hal—dirimu.

Aku masih ingat pertama kali kita dipertemukan di sebuah forum. Bukan tentang tempatnya yang membuatku bertahan dalam ingatan, melainkan caramu berbicara. Ada sesuatu dalam logatmu yang terasa akrab, seperti pulang ke rumah yang lama kutinggalkan. Sejak saat itu, tanpa sadar, aku mulai mencari tahu tentangmu. Mungkin karena kita berasal dari tanah yang sama, atau mungkin karena ada rasa yang diam-diam tumbuh tanpa izin.

Ketika pesan pertamamu masuk, aku tidak benar-benar siap. Aku membalas seadanya, dingin, seolah-olah tidak tertarik. Padahal, di balik itu semua, ada perasaan yang sulit kujelaskan. Hingga akhirnya, kamu berhenti. Dan anehnya, justru saat itu aku merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat kumiliki.

Empat bulan berlalu, dan kamu kembali.

Kali ini, kehadiranmu datang di waktu yang tepat. Saat aku sedang jatuh, saat pikiranku penuh, saat aku hanya butuh seseorang untuk mendengar tanpa menghakimi. Kamu ada. Dan perlahan, aku mulai membuka diri, meski bayang-bayang masa lalu masih sering menghantuiku.

Aku takut.
Takut memulai lagi.
Takut mengulang luka yang sama.

Namun kamu berbeda. Kata-katamu menenangkan, caramu memahami membuatku percaya bahwa mungkin, kali ini akan berbeda. Hingga tanpa sadar, aku mulai menaruh harapan. Kita berbagi cerita, tawa, dan perasaan yang semakin hari semakin dalam.

Sampai suatu malam, kamu bertanya tentang kita.

“Apa sebenarnya hubungan kita?” tanyamu.

Aku tidak punya jawaban pasti. Yang kutahu, aku merasa memiliki dan dimiliki. Hingga akhirnya, kamu yang memutuskan—kita adalah sepasang kekasih. Aku mengiyakan, meski di dalam hati, masih ada ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.

Waktu berjalan, dan aku benar-benar mulai pulih. Aku percaya padamu, sepenuhnya. Bahkan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berani membayangkan masa depan.

Denganmu.

Namun, rasa takut itu ternyata tidak pernah benar-benar pergi.

Suatu hari, aku bertanya, “Apakah kamu akan meninggalkanku?”

Kamu menjawab dengan ringan, namun penuh keyakinan,
“Selama angin laut masih berembus, aku tidak akan melepaskanmu.”

Aku mempercayainya.

Sampai akhirnya, kamu benar-benar pergi.

Tanpa banyak penjelasan. Tanpa perlawanan. Hanya diam yang panjang, yang perlahan berubah menjadi jarak yang tak lagi bisa kujangkau.

Aku mencoba memahami. Mencari alasan. Bahkan memaksakan diriku untuk melihat sisi burukmu agar lebih mudah melupakan. Tapi anehnya, aku tidak menemukan alasan yang cukup untuk membencimu.

Aku tahu kamu baik. Aku tahu kamu sedang menanggung banyak hal. Dan mungkin, aku hanya bagian kecil dari beban yang tak sempat kamu ceritakan.

Aku pernah bilang padamu—tidak apa-apa jika kamu ingin terlihat lemah di hadapanku. Tidak apa-apa jika kamu ingin mengeluh, bahkan menangis. Tapi kamu tidak pernah memilih itu. Kamu memilih diam.

Dan diam itu, perlahan menghapusku.

Aku masih ingat saat kita bertemu di Makassar. Hari itu, kita sedang tidak baik-baik saja. Namun kamu tiba-tiba datang dan mengajakku bertemu. Kita berjalan bersama di tengah keramaian, seolah tidak ada yang salah.

Kamu mengajakku menonton film. Aku tidak terlalu tertarik, tapi tetap mengiyakan.

Di dalam ruangan gelap itu, aku tidak benar-benar menonton. Mataku lebih sering tertuju padamu. Wajahmu terlihat tenang, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan.

Aku menyentuh pipimu perlahan.

Dalam hati, aku berdoa,
“Tuhan, aku sangat menyayanginya. Tolong jaga dia untukku.”

Namun ternyata, itu adalah salah satu terakhir kalinya aku bisa menatapmu sedekat itu.

Beberapa bulan setelahnya, kamu kembali menjauh. Hingga pada satu malam, kamu memutuskan semuanya. Alasan yang kamu berikan terasa asing, sulit kupahami.

Aku menangis. Bertanya tentang janji-janji yang dulu kamu ucapkan. Tentang mimpi kecil yang pernah kita bangun bersama—tentang rumah, tentang masa depan, tentang dermaga tempat kita akan berlabuh.

Namun kamu hanya diam.

Dan malam itu, aku belajar satu hal—

Bahwa tidak semua yang terasa seperti rumah, benar-benar ditakdirkan untuk menjadi tempat pulang.

Sekarang, aku tidak lagi menunggumu.

Tidak lagi berharap pada dermaga yang pernah kita impikan bersama.

Karena pada akhirnya, aku sadar—
aku harus belajar berlayar sendiri, tanpa menunggu seseorang yang telah memilih pergi.

BY:INTAN PUTRIANTARI