Penulis: Mochammad Daffa Putra Anggrianto

RisetAnakBangsa.id-Di lorong malam yang menggulung sunyi,

ia berjalan dengan bayangannya sendiri,

menyimpan rahasia seperti bulan yang setengah,

tak pernah utuh, tapi selalu menerangi dari jauh.

 

Ada nama yang ia jaga di dalam diam,

seperti api kecil di dasar hujan,

tak padam meski angin mencoba merampas,

tak terang, tapi cukup untuk membuatnya bertahan.

 

Namun pagi selalu punya cara membongkar rahasia,

ketika adiknya datang seperti tawa yang mekar,

menabrak hening dengan riang yang ceroboh,

membuat gelap di dadanya berhamburan keluar.

 

“Lihat aku!” katanya, dengan mata penuh bintang,

dan ia hanya tersenyum, pura-pura biasa,

padahal di dalam, semesta kecilnya berpesta,

warna-warni seperti langit yang lupa caranya muram.

 

Tapi waktu, seperti ombak yang tak kenal lelah,

perlahan mengubah arah kebersamaan,

bukan merampas hanya menjauhkan pelan,

memberi ruang bagi langkah yang ingin tumbuh.

 

Ia melihat adiknya berjalan lebih jauh,

mengejar langit yang dulu mereka bagi berdua,

dan ia belajar dengan dada yang sedikit sesak.

bahwa menjaga tak selalu berarti menggenggam.

 

Di sudut malam yang lain, ia tersenyum tipis,

menyimpan rindu tanpa ingin memanggil pulang,

karena ia tahu: bukan hilang yang terjadi,

hanya jarak yang sedang belajar menjadi dewasa.

 

Lalu ia bangkit bukan sebagai yang sama,

melainkan bayangan yang lebih tenang dari luka,

membalut hatinya dengan sunyi yang dingin,

menjadikan jarak sebagai bentuk baru dari cinta.

 

Jika dunia berani melukai adiknya,

ia akan menjadi malam yang tak bisa ditembus,

gelap, dalam, dan penuh rahasia,

tempat semua ancaman hilang tanpa jejak.

 

Dan di balik tatapan yang tak lagi sederhana,

terdapat cinta yang berubah wujud,

bukan lagi sekadar peluk yang dekat,

melainkan penjagaan abadi meski dari jauh.