Agus Mahfudin Setiawan 

Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Intan Lampung

                                                                                                                            

RisetAnakBangsa.id-Generasi muda selalu menjadi wajah masa depan bangsa. Namun, di era serba digital dan instan, arah gerak pemuda sering kehilangan makna historis. Dalam peringatan Sumpah Pemuda ke-97, kita perlu menengok kembali peran pemuda 1928 yang tidak hanya berjuang melawan penjajahan, tetapi juga membangun kesadaran spiritual dan kebangsaan. Saya berpandangan bahwa di tengah kemajuan teknologi, pemuda hari ini justru ditantang untuk menghidupkan kembali nilai keislaman dan kebangsaan yang dulu menjadi fondasi perjuangan.

Sejarah mencatat, kebangkitan nasional tidak dapat dipisahkan dari peran para pemuda yang berpikir visioner dan berani melampaui batas-batas kedaerahan. Sumpah Pemuda 1928 menjadi simbol dari kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan hanya dapat dicapai dengan persatuan dan semangat keilmuan. Di balik peristiwa bersejarah itu, berdiri berbagai organisasi pemuda yang mewakili beragam latar belakang budaya dan agama. Salah satu yang memiliki peran besar dalam membangun kesadaran keislaman dan kebangsaan di kalangan pelajar adalah Jong Islamieten Bond (JIB).

Didirikan pada 1 Januari 1925 oleh Raden Syamsurizal, JIB lahir dari keprihatinan terhadap sistem pendidikan kolonial yang tidak mengajarkan agama di sekolah-sekolah seperti MULO dan AMS. Menurut catatan Saidi (1984), Syamsurizal sempat mengusulkan kepada Jong Java agar pelajaran agama diberikan kepada anggotanya, namun ditolak. Ia kemudian berkonsultasi dengan H. Agus Salim, dan dari sanalah lahir gagasan membentuk organisasi yang berlandaskan Islam tempat bagi para pelajar pribumi untuk belajar agama sekaligus memperkuat persaudaraan (ukhuwah islamiyah).

Dengan bimbingan tokoh-tokoh besar seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, dan H. Fachrodin, JIB menjadi wadah pembinaan karakter, intelektual, dan spiritual. Organisasi ini tidak lahir untuk terlibat langsung dalam politik, tetapi dalam praktiknya, ia menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan harga diri umat Islam yang tertindas. Dalam Kongres pertamanya di Yogyakarta pada Desember 1925, JIB menegaskan empat tujuan utama: menghidupkan ajaran Islam, menumbuhkan simpati antarumat, menyelenggarakan kegiatan ilmiah dan kebudayaan dengan landasan Islam, serta memajukan jasmani dan rohani anggotanya (Agustina Dwi, 2010).

Kegiatan JIB pun berkembang luas. Mereka menyelenggarakan kursus, ceramah, dan debat ilmiah untuk membentuk pola pikir modern di kalangan pemuda Islam. JIB bahkan membentuk bagian khusus bagi perempuan, JIBDA (Jong Islamieten Bond Dames Afdelling), yang aktif memperjuangkan isu-isu keperempuanan dan pendidikan. Dalam perjalanannya, organisasi ini melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Jusuf Wibisono, dan Kasman Singodimejo, yang kelak memainkan peran penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Kehadiran JIB membuktikan bahwa pemuda Islam mampu menjadi pelopor perubahan sosial dan intelektual tanpa kehilangan akar spiritualitas. Mereka memahami bahwa perjuangan tidak hanya melawan penjajahan fisik, tetapi juga melawan kebodohan, ketertinggalan, dan krisis moral. JIB mengajarkan keseimbangan antara akal dan iman, dua hal yang hari ini semakin sulit ditemukan di tengah gaya hidup digital yang serba cepat dan dangkal.

Ketika para pemuda dahulu memperjuangkan kemerdekaan dengan idealisme dan kesederhanaan, pemuda masa kini harus berjuang melawan penjajahan gaya baru  individualisme, hedonisme, dan disinformasi digital. Inilah wujud baru perjuangan yang menuntut keberanian moral, bukan sekadar keberanian vokal.

Dalam konteks kekinian, kemajuan teknologi membawa peluang besar bagi pemuda untuk berinovasi, namun juga menyimpan ancaman terhadap nilai dan karakter. Media sosial, misalnya, telah menjadi ruang perjuangan baru, tempat ide, opini, dan identitas bersaing untuk mendapatkan pengakuan. Banyak pemuda yang aktif bersuara, tetapi kehilangan arah perjuangan. Spirit kebangsaan yang dulu lahir dari ruang-ruang diskusi kini sering tergantikan oleh budaya viral dan konten instan.

Oleh karena itu, refleksi terhadap semangat JIB menjadi penting. Pemuda hari ini harus meneladani semangat intelektual, ukhuwah, dan pengabdian sosial yang ditanamkan JIB hampir satu abad lalu. Mereka bukan hanya membicarakan perubahan, tetapi mempraktikkannya melalui pendidikan, diskusi, dan pengabdian. Di era digital, semangat itu dapat diterjemahkan dalam bentuk baru seperti gerakan literasi digital, kampanye toleransi, atau inisiatif sosial berbasis teknologi.

Sebagaimana JIB menanamkan nilai Islam sebagai fondasi perjuangan, generasi muda masa kini pun harus menjadikan moralitas sebagai pusat gerak. Pendidikan tinggi dan kemampuan teknologi tidak akan bermakna jika kehilangan nilai kejujuran, empati, dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks inilah, nilai keislaman yang diajarkan oleh para tokoh seperti Agus Salim dan Tjokroaminoto tetap relevan. Mereka menanamkan prinsip bahwa kemajuan tidak akan pernah lepas dari etika dan kesadaran spiritual.

Perbedaan zaman tidak menghapus substansi perjuangan. Jika dulu pemuda mempersatukan bangsa dengan semangat “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa,” maka hari ini pemuda harus menyatukan bangsa dengan semangat “satu moral, satu nilai, satu cita-cita.” Persatuan bukan hanya soal politik, melainkan tentang membangun empati dan solidaritas di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh dunia digital.

Menjadi pemuda di era sekarang berarti siap menghadapi kompleksitas. Dunia tidak lagi hitam putih, dan tantangan tidak lagi datang dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri: bagaimana tetap berprinsip di tengah godaan pragmatisme, bagaimana tetap berilmu di tengah banjir informasi, dan bagaimana tetap beriman di tengah relativisme moral.

Sejarah telah membuktikan bahwa pemuda selalu menjadi motor perubahan bangsa. Dari Jong Islamieten Bond hingga Sumpah Pemuda 1928, mereka menyalakan api perjuangan melalui ilmu dan iman. Kini, di era digital, tantangan pemuda bukan lagi senjata dan kolonialisme, melainkan arus global yang bisa mengikis nilai dan identitas. Karena itu, saya percaya bahwa kebangkitan pemuda masa kini hanya akan bermakna bila disertai kebangkitan moral dan spiritual. Perjuangan bukan lagi di medan perang, melainkan di ruang kesadaran untuk tetap menjadi manusia Indonesia yang beriman, berilmu, dan beradab.