Pendahuluan

Memasuki abad ke-16 dan ke-17, dunia Islam berada pada puncak kejayaan yang gemilang di bawah naungan tiga entitas politik raksasa: Kerajaan Usmani (Ottoman) di wilayah transkontinental Asia-Eropa-Afrika, Kerajaan Syafawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di anak benua India. Ketiganya tidak hanya memegang supremasi militer dan teritorial, tetapi juga menjadi episentrum kebudayaan, arsitektur, dan perdagangan dunia.

Namun, roda peradaban berputar secara dramatis ketika memasuki rentang tahun 1700–1800 M. Periode ini menjadi saksi terjadinya degradasi multidimensional di tubuh ketiga kerajaan tersebut. Di saat yang sama, Eropa Barat yang sebelumnya terkungkung dalam abad kegelapan (Dark Ages), justru mengalami akselerasi peradaban yang eksponensial melalui Renaisans, Aufklärung (Pencerahan), dan Revolusi Industri Jurnal ini akan membedah secara komprehensif anatomi kemunduran Syafawi, Mughal, dan Usmani, serta bagaimana momentum tersebut berkelindan dengan bangkitnya supremasi Barat di panggung global.

Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Syafawi (Persia)

Kerajaan Syafawi yang memproklamirkan Syiah sebagai mazhab resmi negara mencapai puncak kejayaannya pada masa Syah Abbas I (1588–1629 M). Namun, setelah wafatnya Syah Abbas I, struktur politik dan militer Syafawi mengalami pembusukan dari dalam yang berujung pada kehancuran total pada paruh pertama abad ke-18.

Dekadensi Kepemimpinan dan Sistem Haram

Faktor internal paling merusak dalam tubuh Syafawi adalah perubahan sistem suksesi dan pengasingan putra mahkota di dalam haram (pingitan istana). Berbeda dengan masa awal di mana para pangeran dilatih memimpin pasukan dan wilayah, para pengganti Syah Abbas I seperti Syah Safi (1629–1642 M) dan Syah Abbas II (1642–1667 M) tumbuh tanpa pengalaman politik dan militer.[^3] Mereka menjadi pemimpin yang lemah, cenderung tenggelam dalam kemewahan istana, dan mudah dikendalikan oleh para selir serta kasim istana.

Konflik Keagamaan dan Kehilangan Dukungan Militer

Integrasi ideologis yang awalnya kokoh perlahan retak. Pemaksaan mazhab Syiah secara ketat oleh ulama-ulama istana (seperti Muhammad Baqir Majlisi pada masa Syah Sultan Husain) memicu resistensi keras dari kelompok minoritas Sunni di wilayah perbatasan, terutama suku Pashtun Ghilzai di Afghanistan. Di sisi militer, pasukan Ghulaman (budak Kristen yang dikonversi) yang dibentuk untuk menandingi dominasi militer tradisional Qizilbash justru kehilangan loyalitas ideologisnya akibat pemotongan anggaran dan korupsi akut di tingkat elit.

Invasi Dinasti Hotaki dan Keruntuhan Total

Kerapuhan ini dimanfaatkan oleh Mahmud Khan, pemimpin suku Afghanistan bermazhab Sunni. Pada tahun 1722 M, pasukan Afghanistan mengepung ibu kota Isfahan. Kota metropolitan yang megah itu mengalami bencana kelaparan hebat hingga akhirnya Syah Sultan Husain menyerah tanpa syarat.[^6] Meskipun Nadir Syah (seorang panglima perang dari suku Afshar) sempat mengusir bangsa Afghan dan memulihkan kekuasaan secara de facto, eksistensi kultural dan politik formal Dinasti Syafawi telah berakhir. Kematian Nadir Syah pada 1747 M membawa Persia ke dalam anarki politik berkepanjangan hingga akhir abad ke-18.

Kemunduran dan Runtuhnya Kerajaan Mughal (India)

Kerajaan Mughal di India menyajikan tesis menarik mengenai bagaimana sebuah imperium multikultural runtuh ketika fondasi toleransi sosialnya goyah dan sistem administrasinya mengalami kegagalan struktural setelah wafatnya Aurangzeb pada tahun 1707 M.

Polarisasi Sosio-Keagamaan dan Beban Militer Aurangzeb

Meskipun Aurangzeb (1658–1707 M) berhasil memperluas wilayah Mughal hingga mencapai titik terjauh di India Selatan, kebijakan ortodoksi Islamnya yang kaku memicu polarisasi komunal. Penghapusan sistem Sulh-i-kul (toleransi universal) yang diinisiasi oleh Akbar Agung, serta penerapan kembali pajak jizyah bagi non-Muslim, memicu pemberontakan masif dari aliansi Hindu-Maratha, Sikh di Punjab, dan Rajput.[^8] Perang gerilya melawan konfederasi Maratha di Deccan menghabiskan kas negara secara masif dan melemahkan moral pasukan Mughal.

Krisis Agraria dan Keruntuhan Sistem Mansabdari

Sistem Mansabdari (birokrasi militer-sipil berbasis kepemilikan tanah/jagir) mengalami inflasi struktural pada abad ke-18. Terjadi krisis jagirdari, di mana jumlah pejabat (mansabdar) jauh melebihi jumlah tanah produktif yang tersedia.[^10] Akibatnya, para pejabat melakukan eksploitasi berlebihan terhadap para petani demi mengejar keuntungan instan. Krisis agraria ini memicu gelombang pemberontakan petani (peasant revolts) yang melumpuhkan rantai pasok ekonomi imperium.

Desentralisasi, Invasi Asing, dan Penetrasi EIC

Pasca-1707 M, suksesi cepat para “Kaisar Bayangan” (Later Mughals) membuat kontrol pusat melemah. Wilayah-wilayah kaya seperti Bengal, Awadh, dan Hyderabad memisahkan diri menjadi negara merdeka secara de facto.[^12] Pukulan telak terjadi ketika Nadir Syah dari Persia menjarah Delhi pada 1739 M dan membawa lari Takhta Merak (Peacock Throne). Kelemahan kronis ini membuka celah bagi East India Company (EIC) milik Inggris untuk menancapkan kuku kolonialnya setelah memenangkan Pertempuran Plassey (1757 M) dan Pertempuran Buxar (1764 M), yang secara formal mereduksi Kaisar Mughal menjadi sekadar pensiunan Inggris di istananya sendiri.

Kemunduran Kerajaan Usmani (Ottoman)

Berbeda dengan Syafawi dan Mughal yang runtuh total pada abad ke-18, Kerajaan Usmani menunjukkan daya tahan (resilience) yang lebih panjang. Kendati demikian, abad ke-18 tetap menjadi fase kemunduran struktural yang mengubah posisi Usmani dari “Teror Eropa” menjadi “Orang Sakit dari Eropa” (The Sick Man of Europe).

Degradasi Militer dan Korosinya Korps Janissari

Pasukan Janissari yang dulunya merupakan mesin perang paling ditakuti di dunia mengalami domestikasi dan korupsi fungsi. Mereka menolak modernisasi taktik dan persenjataan, serta lebih fokus pada perdagangan, politik praktis istana, dan melakukan kudeta terhadap Sultan yang reformis.[^14] Kekalahan tragis Usmani dalam Perang Turki Besar yang diakhiri dengan Perjanjian Karlowitz (1699 M) menandai pertama kalinya Usmani kehilangan wilayah teritorial besar di Eropa Tengah kepada Kekaisaran Habsburg.

Desentralisasi Politik: Sistem Ayan dan Kafes

Di bidang politik interior, pengenalan sistem Kafes (sangkar)—di mana para pangeran dikurung di istana alih-alih dikirim memimpin provinsi—menghasilkan barisan Sultan yang inkompeten dan mengalami paranoia.[^16] Di daerah, kekuasaan bergeser ke tangan para Ayan (tuan tanah lokal/feodal) yang mengabaikan perintah Konstantinopel. Sementara itu, sistem ekonomi Iltizam (pajak sewa) berubah menjadi Malikane (pajak sewa seumur hidup) yang memiskinkan kas pusat negara dan memperkaya elit lokal.

Kekalahan Militer Abad ke-18 dan Krisis Timur

Sepanjang abad ke-18, Usmani terjebak dalam perang berkepanjangan melawan Kekaisaran Rusia yang sedang bangkit di bawah Catherine Agung. Perjanjian Küçük Kaynarca (1774 M) menjadi salah satu pukulan paling memalukan dalam sejarah Usmani. Negara harus menyerahkan wilayah Crimea (wilayah mayoritas Muslim pertama yang lepas), memberikan Rusia hak perlindungan atas umat Kristen Ortodoks di wilayah Usmani, serta akses ke Laut Hitam.[^18] Hal ini menandai lahirnya “Krisis Timur” (Eastern Question), di mana eksistensi Usmani mulai bergantung pada dinamika keseimbangan kekuatan (balance of power) kekuatan Barat.

Kebangkitan Eropa (Barat)

Di balik tirai kemunduran dunia Islam, Eropa Barat mengalami metamorfosis radikal yang membalikkan pendulum peradaban global. Transformasi ini terjadi melalui tiga pilar utama: revolusi intelektual, rekonstruksi ekonomi, dan inovasi militer-navigasi.

Renaisans, Aufklärung, dan Supremasi Intelektual
Ketika dunia Islam terjebak dalam dogmatisme dan penutupan pintu ijtihad secara kultural, Eropa membebaskan diri dari hegemoni teologis Gereja abad pertengahan. Semangat Renaisans (kelahiran kembali) memicu lahirnya metode ilmiah empiris yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Francis Bacon, Rene Descartes, dan Isaac Newton.[^19] Memasuki abad ke-18, era Aufklärung (Pencerahan) menempatkan rasio, kebebasan individu, dan hukum alam sebagai pilar utama kehidupan bermasyarakat. Ilmu pengetahuan tidak lagi sekadar teoretis, melainkan diaplikasikan secara praktis guna memecahkan masalah-masalah material manusia.

Merkantilisme, Revolusi Industri, dan Kapitalisme Global

Secara ekonomi, negara-negara Eropa menerapkan sistem Merkantilisme—sebuah kebijakan ekonomi yang menekankan akumulasi logam mulia melalui ekspor maksimal dan impor minimal—yang ditopang oleh pembentukan perusahaan-perusahaan dagang berpiagam khusus seperti VOC Belanda dan EIC Inggris.[^21] Puncaknya terjadi di Inggris pada paruh kedua abad ke-18 melalui penemuan mesin uap oleh James Watt, yang memicu Revolusi Industri. Produksi barang massal, mekanisasi tekstil, dan revolusi transportasi (kereta api dan kapal uap) menciptakan kapasitas ekonomi baru yang tidak dapat ditandingi oleh ekonomi berbasis agraris-tradisional milik Tiga Kerajaan Islam.

Revolusi Militer dan Hegemony Maritim

Eropa mengadopsi apa yang oleh sejarawan Michael Roberts sebut sebagai “Revolusi Militer” (The Military Revolution). Ini mencakup penggunaan formasi barisan infanteri yang disiplin, standardisasi senjata api (musket berbayonet), dan modernisasi artileri bergerak.[^23] Lebih dari itu, supremasi navigasi laut yang dimulai sejak Era Penjelajahan memungkinkan Eropa menguasai jalur perdagangan maritim internasional, memotong rute perdagangan sutra darat tradisional yang melintasi dunia Islam, dan langsung mengeksploitasi sumber daya alam di benua Amerika dan Asia.

Kesimpulan

Abad ke-18 (1700–1800 M) bukan sekadar catatan tentang pergantian dinasti, melainkan sebuah pergseran paradigma peradaban dunia. Kemunduran Tiga Kerajaan Besar Islam terjadi akibat konvergensi problematik internal yang akut: pembusukan moral elit politik, stagnasi pemikiran sains, kerapuhan ekonomi domestik, dan kegagalan modernisasi militer. Di seberang benua, Eropa Barat dengan cerdik memanfaatkan momentum transisi ini dengan membangun peradaban berbasis rasionalitas, industrialisasi, dan kapitalisme global.
Ketika Syafawi runtuh, Mughal didomestikasi oleh kolonialisme Inggris, dan Usmani kehilangan wilayah-wilayah vitalnya, Barat secara resmi memegang kemudi peradaban modern. Peristiwa historis pada abad ke-18 ini menjadi cermin bagi dunia Islam di masa-masa berikutnya akan pentingnya fleksibilitas institusional, keterbukaan intelektual, dan penguasaan sains-teknologi dalam mempertahankan eksistensi sebuah peradaban.
ahankan eksistensi sebuah peradaban.

Daftar Pustaka

A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 3 (Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995), hlm. 228.

A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium Turki Usmani (Jakarta: Kalam Mulia, 1988), hlm. 50.

Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Peradaban Barat dari Zaman Yunani Kuno sampai Zaman Modern (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), hlm. 118.

Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 203.

Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 162.

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Kuliah Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011), hlm. 129.

Dede Efrianti Lubis, Ahmad Muhajir, dan Zaini Dahlan, “Peradaban dan Pemikiran Islam Pada Masa Dinasti Mughal di India”, Jurnal Resource Center, Vol. 1, No. 2 (2021), hlm. 58.

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 241.

Fatimah Nurul Zahara, dkk., “Analisis Faktor Kemunduran Turki Utsmani dan Dampaknya terhadap Dunia Islam”, TIPS: Jurnal Riset, Pendidikan dan Ilmu Sosial, Vol. 2, No. 2 (2024), hlm. 106.

Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 2003), hlm. 18., hlm. 18.

Hilal Alifya Dalimunthe

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab  UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan