LATAR BELAKANG

Sejarah kebangkitan islam di jazirah arab merupakan sejarah pertamakali munculnya islam, yang di utus oleh Allah kepada Nabi Muhammmad untuk disampaikan kepada umat manusia menjadi umat islam.Dan Nabi Muhammad dalm berdakwah menyiarkan isalam sangat banyak rintangan yang sangat luar biasa .

Nabi Muhammad lahir sudah ditandai dengan tahun gajah dan ditinggalakan oleh kedua orang tuanya saat dia dikandungan dan sebelum ia baligh, kemudian di asuh oleh kakek dan belum lama dari itu kakenya pun meninggal dilanjut diasuh oleh paman nya. Di umur 25tahun ia menikahi khodijah ,dan diumur 40 tahun dia diutus menjadi nabi dan rosul dan turun wahyu pertama di gua hira ,kemudian derdakwah secara bersembunyi selam 3 tahun dan berdakwah secara terbuka yang membahas tentang penguatan aqidah umat muslim ,menimbulkan kebencian terhadap kaum kafir kepada Nabi Muhammad Karena umat muslim sudah merasa tidak diterima lagi oleh kaum kafir di mekkah dan Nabi Muhammad beserta umatnya hijrah eke yastrib (madinah),disana mereka sangat disambut dan diterima dan membuat peradaban islam agar umat muslim lebih maju dan tersebar luas.

Nabi Muhammad merupakan sosok manusia yang dipilih oleh Allah, yang sengaja diutus Allah sebagai dengan misi kenabian ditengah masyarakat jahiliah pemuja berhala. Ia lahir di kota Mekkah , yang terletak dibagian agak selatan Jazirah Arab, pada tahun 570 M. Kelahiran beliau dikenal sebagai “Tahun Gajah “,karena bertepatan dengan peristiwa pasukan Gajah Abrahah menyerang mekkah, kira kira 12 Rabiul Awal 570 M.Tujuan mereka ingin menghancurkan Ka’bah,meski akhirnya justru mereka yang mengalami kehancuran.

Ayahnya bernama Abdullah anak dari Abdul Muttalib(kepala suku Quraisy yang sangat berpengaruh)dan ibunya bernama Aminah Binti Wahab dari Bani Zuhrah.Abdullah (ayahnya) telah wafat ketika dia didalam kandungan ibunya. Sebagaimana tradisi kaum bangsawan Arab yang menitipkan anaknya untuk diasuh dan dibesarkan di pedesaan, Muhammad pun mengalami keadaan serupa. Setelah beberapa lama diasuh oleh ibunya, hak asuh atasnya kemudian dipercayakan pada Halimah dari Suku Banu Sa’ad. Hingga berusia 6 tahun, Muhammad dalam asuhan Halimah dan dibesarkan di tengah kultur Badui, hingga akhirnya dikembalikan kepada ibunya. Meskipun demikian, saat ibunya bermaksud menziarahi makam suaminya di Madinah, di tengah perjalanan yakni di Abwa, Aminah menderita sakit dan menghembuskan napas terakhirnya di sana. Sejak saat itu, Muhammad menjadi yatim-piatu dan selanjutnya dipelihara oleh kakeknya, Abdul Muthalib selama dua tahun (hingga kakeknya meninggal). Dalam usianya yang ke-8 tahun, Muhammad dalam asuhan pamannya yang bernama Abu Thalib.

Masa mudanya banyak dihabiskan dengan aktivitas menggembala ternak dan tentu saja harus bekerja keras. Betapa tidak, Abu Thalib bukanlah seorang yang kaya, sebagaimana nenek moyangnya. Dengan demikian, bersama anggota-anggota keluarga muda lainnya, Muhammad harus bergiliran menjaga ternak. Saat ia berusia 12 tahun, Muhammad dibawa pamannya sberdagang ke Suriah (Syam) dan di sanalah ia menyaksikan banyak hal termasuk penderitaan orang-orang, kejahatan, pertengkaran serta perselisihan. Bahkan kehidupan para Rahib Suriah melahirkan kesan mendalam atas pikirannya, terutama dalam hal penggunaan mediasi (perantaraan) untuk memperoleh kebenaran.

Uraian tersebut menunjukkan bahwa aneka tantangan dan pengalaman hidup, telah menempa mental dan mengonstruksi pribadi Muhammad menjadi sosok manusia yang mulia akhlaknya. Karena itu, tidak heran jika ia dicintai banyak orang dan kepribadiannya menjadi teladan. Kejujuran, kesederhanaan, kemurahan hati, dan semua hal yang baik yang melekat pada diri Muhammad, menyebabkan sosok manusia pilihan ini menjadi paripurna.

Dalam usianya yang ke-25 tahun, Muhammad berkenalan dengan seorang janda kaya bernama Khadijah. Ia diterima oleh pedagang kaya ini dan mempercayakan usaha dagangnya dengan kafilah. Hubungan ini segera disusul oleh perkawinan, meskipun usia keduanya berbeda jauh. Khadijah yang telah berusia 40 tahun, berarti 15 tahun lebih tua dari Muhammad. Perkawinan keduanya membuahkan kebahagiaan, di mana Khadijah dapat mengimbangi bahkan jadi pendorong kuat bagi pengembangan jiwa Muhammad.

Sejarah kebangkitan Islam di Jazirah Arab menjadi titik awal perubahan besar dalam peradaban manusia, yang ditandai dengan pengutusan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah Allah SWT. Peristiwa ini berlangsung di tengah kondisi masyarakat yang dikenal sebagai zaman Jahiliah — masa di mana penyimpangan akidah, ketidakadilan sosial, dan kemerosotan akhlak merajalela. Masyarakat saat itu memuja berhala, mengutamakan kekuatan fisik dan kabilah, serta mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati.Dalam konteks tersebut, kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tahun 570 M atau yang dikenal sebagai Tahun Gajah, merupakan awal dari persiapan sejarah panjang pemurnian ajaran Tuhan. Sejak kecil, beliau telah ditempa oleh berbagai pengalaman hidup: menjadi yatim piatu, diasuh oleh kakek dan paman, hidup sederhana di lingkungan pedesaan Badui, bekerja menggembala ternak dan berdagang. Semua peristiwa tersebut membentuk kepribadian beliau yang jujur, sederhana, berakhlak mulia, dan bermental tangguh — kualitas yang membuat beliau dihormati dan dipercaya oleh masyarakat Mekkah bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi.

Pada usia 40 tahun, tepatnya tahun 610 M, turunlah wahyu pertama di Gua Hira yang menandai dimulainya tugas kenabian dan kerasulan. Risalah yang dibawa bukan sekadar perubahan kebiasaan, melainkan perombakan menyeluruh yang bertujuan memurnikan akidah tauhid, menyucikan jiwa, memperbaiki tatanan kehidupan bermasyarakat, hingga menegakkan keadilan bagi semua golongan — termasuk kaum wanita dan budak yang sangat terpinggirkan saat itu.

Dakwah berjalan dalam dua tahap: tersembunyi selama tiga tahun dan kemudian terbuka, yang menghadapi tantangan berat serta penolakan keras dari kaum Quraisy yang merasa kepentingan dan tradisi mereka terancam.Puncak dinamika sejarah terjadi melalui peristiwa Hijrah ke Madinah tahun 622 M, yang sekaligus menjadi awal kalender Islam. Di sana, dakwah tidak hanya berupa seruan individu, tetapi berkembang menjadi pembentukan peradaban baru. Melalui pembangunan Masjid Nabawi, persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar, Perjanjian Piagam Madinah, serta penetapan dasar politik, ekonomi, sosial, dan hukum yang adil, Islam tumbuh menjadi kekuatan yang kokoh, bersatu, dan mampu menarik simpati luas.

Secara teoritis, keistimewaan risalah Nabi Muhammad SAW terletak pada sifatnya yang universal dan menjadi penutup seluruh kenabian, berlaku sepanjang masa dan untuk seluruh umat manusia. Ajaran yang dibawa bersifat fleksibel namun memiliki pondasi yang kuat, sehingga mampu tumbuh dan berkembang di berbagai lingkungan budaya. Peradaban yang dibangun di Madinah membuktikan bahwa nilai-nilai Islam mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat: persatuan menggantikan pertikaian, musyawarah menggantikan kekuasaan semena-mena, dan keadilan ekonomi tanpa eksploitasi atau riba.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa kebangkitan Islam bukanlah peristiwa yang muncul tiba-tiba, melainkan proses yang berjalan bertahap, didukung oleh kematangan pribadi pembawanya, kebenaran ajaran yang dibawa, serta dukungan komunitas yang siap berkorban demi tegaknya kebenaran. Kajian ini selanjutnya akan menelusuri lebih rinci bagaimana tahapan sejarah, misi dakwah, serta pembentukan tatanan negara dan masyarakat tersebut berlangsung dan menjadi dasar perkembangan Islam selanjutnya.

Gambaran Umum Misi Nabi Muhammmad Saw

Menjelang usia empat puluh tahun, Muhammad terdorong untuk mengasingkan diri dari keramaian kota Mekah yang penuh dengan kejahilan. Ia ingin merenung dan mencari kebenaran. Untuk itu, ia memilih Gua Hira yang letaknya kira-kira enam kilometer sebelah utara kota Mekah. Berbulan-bulan ia tinggal di situ, kadang-kadang kembali ke Mekah untuk mengambil bekal.
Pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610 M), Muhammad didatangi oleh seseorang yang tidak dikenal dan tentu saja ia terkejut.

Orang itu berkata, “Bergembiralah, wahai Muhammad. Saya Jibril dan engkau adalah nabi umat ini.” Ia lalu memerintahkan Muhammad agar membaca, “Bacalah (wahai Muhammad).” “Saya tidak dapat membaca,” jawab Muhammad.

Jibril mengulang-ulang perintahnya sampai tiga kali sambil memeluk Muhammad. Setelah dilepaskan, Muhammad merasa letih dan napasnya terengah-engah.Jibril lalu meneruskan, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Setelah itu, berkat rahmat Allah, Muhammad dapat membaca ulang apa yang telah didengarnya. Turunnya ayat itu sebagai tanda beliau diangkat menjadi nabi. Ayat tersebut juga mengandung makna agar manusia selalu ingat kepada Allah sebagai Sang Pencipta dan yang memberi pengetahuan kepada manusia. Manusia dapat memperolehnya dengan membaca dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Pengangkatan beliau sebagai rasul pada usia empat puluh tahun dapat dipahami karena manusia yang mencapai usia itu biasanya telah memiliki pribadi dan mental yang sudah matang untuk menerima tugas, amanah, dan tanggung jawab besar.

Setelah Jibril menghilang, Muhammad dalam keadaan bimbang dan letih kembali ke Mekah untuk menyampaikan kepada istrinya tentang peristiwa yang baru saja dialaminya. Tiba di rumah, beliau bercerita dan minta diselimuti. Sementara itu, Khadijah pergi menemui Waraqah bin Naufal, seorang Nasrani dan ahli Injil. Ia menceritakan peristiwa yang dialami Muhammad. Waraqah berkata, “Mahakudus Dia, Mahakudus. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah, Khadijah percayalah ia telah menerima Jibril seperti yang pernah diterima Musa. Dan, sungguh ia adalah nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap tenang.”²³ Kembali ke rumah, Khadijah menyampaikan informasi yang diberikan oleh Waraqah itu sehingga Muhammad menjadi lebih tenang.

Tiga tahun setelah menerima ayat pertama itu, Muhammad yang telah menjadi nabi merasa rindu dan ingin bertemu Jibril kembali. Pada suatu saat, ketika beliau sedang berjalan, tiba-tiba beliau mendengar suara seperti yang pernah didengarnya di Gua Hira.”Wahai Muhammad, engkau itu utusan Allah yang benar.”Muhammad menengok ke arah suara itu, ternyata Jibril yang pernah dilihatnya di Gua Hira. Sekujur tubuhnya gemetar dan beliau segera pulang ke rumah. Setelah Khadijah menyelimutinya, turunlah wahyu kedua,”Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji, dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.”

Wahyu kedua ini mengandung perintah agar Nabi Muhammad Saw memberi peringatan kepada manusia dan mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah semata. Setelah itu, wahyu turun berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi Rasulullah dan pengikut beliau dalam mengembangkan Islam.Kerasulan dan risalah Muhammad Saw mempunyai keistimewaan dibanding nabi-nabi sebelumnya. Beliau diutus oleh Allah sebagai khatam al-anbiyâ’ (penutup para nabi). Jadi, tidak ada lagi nabi sesudah beliau sampai hari kiamat dan beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Risalah beliau juga bersifat universal dan sebagai rahmah li al-‘âlamîn (rahmat bagi seluruh alam) yang sesuai sepanjang zaman dan di setiap tempat. Sementara itu, Alquran sebagai sumber ajaran Islam lebih banyak berupa ajaran dasar dan bersifat global sehingga memungkinkan untuk diinterpretasi.

Nabi Muhammad Saw memiliki beberapa tujuan sebagaimana berikut.
1. Memurnikan akidah umat yang telah rusak dengan menauhidkan Allah, menyucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, serta beriman kepada hari kebangkitan dan pembalasan.
2. Mengajak manusia melakukan perbuatan baik untuk menyucikan jiwa dari segala sifat tercela, menumbuhkan potensi kebaikan, dan melenyapkan potensi kejahatan.
3. Membersihkan ibadah dari segala macam cela dan kemusyrikan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
4. Membangun fondasi muamalah (kemasyarakatan) di atas dasar-dasar yang bersifat umum, kemudian dibuat perinciannya yang disesuaikan dengan adat istiadat serta ditegakkan di atas dasar kebenaran dan kebaikan.
5. Mendistribusikan harta (infak) orang-orang berkecukupan secara benar untuk membantu fakir miskin sehingga memperkecil jurang antara si kaya dan si miskin.
6. Mengangkat martabat kaum wanita dengan memandang mereka sebagai manusia yang berakal dan berperasaan. Sebelum kelahiran Islam, nasib kaum wanita – tidak hanya di Jazirah Arab, tetapi juga di belahan bumi lainnya – diragukan status kemanusiaannya karena ia dibeli dan dijual seperti hewan atau barang, dipaksa untuk melayani kebutuhan seks kaum pria, diwarisi dan tidak mewarisi, serta dimiliki dan tidak memiliki.
7. Menghilangkan perbudakan dan membantu kehidupan para budak. Islam menetapkan bahwa kaum mukminin itu bersaudara sehingga bagaikan satu jasad yang apabila salah satu organ merasakan sakit, organ lainnya juga merasakan hal yang sama. Dengan demikian, tidak ada kelebihan orang Arab atas bukan orang Arab atau bangsa kulit putih atas kulit hitam. Sebaliknya, keutamaan seseorang terletak pada ketakwaannya kepada Allah
Dapat pula ditambahkan bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad itu untuk memperbaiki akhlak manusia, membudayakan musyawarah, menciptakan perdamaian antarbangsa, serta menciptakan persatuan dan budaya tolong-menolong dalam kebaikan.

Peradaban Pada Masa Rasulullah

Hijrahnya Nabi Muhammmad Saw.dari mekkah ke madinah pada tahun 622 M sekaligus menandai lahirnya tahun islam.Dimadinah mereka mendapatkan kedudukan yang lebih baik dan menjadi umat yang kuat dan mandiri.Nabi pun menjadi kepala dalam masyarakat yang baru dibentuk itu dan yang akhirnya menjadi sebuah Negara dan membuatpeletakan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat.

1.Pembangunan Mesjid Nabawi

Mesjid ini merupakan salah satu masjid tertua dan terbesar yang berada ditanah suci, tempatnya dimadinah.Selain tempat untuk ibdah (shalat),Pembangunan masjid juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin sekaligus mempererat tali jiwa mereka. Selain itu, masjid sebagai tempat musyawarah merunding masalah-masalah yanh dihadapi.Bahkan, masjid pada masa nabi berfungsi sebagai pusat pemerintahan

2.Persaudaraan Antara Kaum Muhahirin dan Anshar

Untuk menciptakan suatau bentuka persaudaraan yang baru,yaitu persaudaraa berdasarkan agama,menggantikan persaudaraan berdasarkan darah atau kabilah.Pada saat itukaum anshar membagikan rumah yang mereka miliki,bahkan harta mereka,karena kondisi kaum muhajirin pada saat itu cukup memperhatikan karna mereka hijrah tidk membawa harta benda, barang berharga ditinggalkan dimekkah. Persaudaraan ini terjadi lebih kuat dari pada hanya persaudaraan yang berdasarkan keturunan.

3.Kesepakatan Untuk Saling MembantuAntara Kaum Muslimin dan Non Muslim

Dimadina selain orang-orang arab islam ,juga terdapat golongan masyarakat yahudi(Bani Nadhir,Bani Quraizhah,dan Bani Qainuqa)Dan orang –orang arab yang menganut agama nenek moyang mereka.Agar stabilitas mereka masyarakat dapat diwujudkan,Nabi Muhammad Saw.mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka,sebuah piagam yang menjamin kebebasan beragama orang-orang yahudi sebagai suatu komunitas disebut piagam madinah.

4.Peletakan Asas-asas Politik,Ekonomi,dan Sosial

Demi mencapai kesejahteraan dan kedamaian masyarakat saat itu,Nabi Muhammad saw.meletakkan dasar-dasar pilitik, ekonomi,dan sosial.Dasar-dasar tersebut antara lain sebagai berikut:

a)Nabi Muhammmad saw. berusaha menetapkan dan menegakkan hukum-hukum privat,misalnya hokum keluarga,baru kemudian masalah-masalah politik seperti interaksi sosial.

b)Dalam masalah sosial-politik,Nabi Muhammad Saw. membangun dasar-dasar sistem musyawarah.

c)Dalam sistem ekonomi munculnya sistem baru dalam perdagangan, yakni sistem dagang nonribawi yang melarang adanya eksploitasi,monopoli,dan rentenir.

KESIMPULAN

Kebangkitan islam dijazirah arab perjalan panjang yang dilakukan Nabi Muhammad Saw.dengan bimbingan wahyu Allah SWT.Adanya tantangan yang besar diwilayah orang-orang jahiliyah ,yang awalnya dakwah secara sembunyi-sembunyi dan menjadi terang-terangan dalam mengajarkan ajaran islam sepenuhnya dapat mengubah tatananhidup dari budaya yang penuh kemusyrikan ,ketimpangan dan perselisiahanmenjadi peradaban yang berlandaskan keimanan, akhlak mulia, keadilan, dan persatuan.

Peristiwa hijrah dan pembentukan negara dimadinah dapat membuktikan bahwa islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan tuhan, tapi dapat mengatur antara manusia ke manusia dalam aspek politik, ekonomi,sosial, dan hukum memjadikan hidup yang rlevan bagi umat islam.

DAFTAR PUSTAKA
AL- Azizi, Abdul Syukur.2022.KITAB SEJARAH PERADABAN ISLAM.Yokyakarta ,DIVA Press(Anggota IKAPI) Sampangan Gg.PERKUTUT No.325-b JL.Wonosari, Baturetno.

Pulungan,suyuti .2017.SEJARAH PERADABAN ISLAM.Jakarta,AMZAH JL.Sawo RayaNo18.

Ahmadin.2020.SEJARAH PERADABAN ISLAM.Jakarta,KENCANA JL.Tambara Raya No.23 Rawabangun. SEJARAH PERADABAN ISLAM.Jakarta,KENCANA JL.Tambara Raya No.23 Rawabangun.

Chaira Aini

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab  UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan