Penulis: Ayunda Sari
RisetAnakBangsa.id-Hujan turun deras malam itu. Aku berdiri di dekat jendela, memandang kaca yang dipenuhi titik-titik air, sementara layar ponsel di tanganku masih menyala.
“Maaf, Anda belum lolos seleksi.” Aku tersenyum tipis. Entah kenapa, senyum itu terasa asing di wajahku sendiri. “Sudah kuduga…” bisikku pelan, meskipun dalam hati aku tahu aku tetap berharap. “Nilai kamu segini lagi?” suara Pak guru terdengar cukup keras di kelas. Beberapa teman menoleh.
Aku menunduk, menatap kertas ujianku.
“Padahal kamu sering ikut lomba, kan?” lanjut beliau. “Seharusnya bisa lebih dari ini.”
Aku menggenggam kertas itu. “Iya, Pak… saya akan belajar lagi,” jawabku pelan.
Di belakang, aku mendengar bisikan.
“Katanya sering ikut lomba, tapi hasilnya begitu saja.”
“Sering gagal, sih…”
Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi setiap kata itu seperti menempel di kepalaku.
“Anak Ibu itu pintar, ya?” kata tetangga suatu sore.
Ibu tersenyum. “Dia masih belajar.” Tetangga itu tertawa kecil. “Oh, saya kira sudah sering menang. Soalnya sering ikut ini-itu.” Aku yang berdiri di balik pintu hanya diam.
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa terasa seperti tamparan. “Lo kenapa sih, akhir-akhir ini diam terus?” tanya Rani saat kami duduk di bangku taman. Aku menatap ke depan. “Aku capek, Ran.” “Capek bagaimana?” Aku tertawa kecil, hambar. “Capek jadi orang yang selalu mencoba… tapi tidak pernah berhasil.”
Rani terdiam sejenak.
“Semua orang itu gagal, tahu,” katanya pelan. Aku menggeleng. “Tapi tidak semua orang gagal terus.” Rani menatapku. “Kamu pikir orang lain tidak punya proses?” Aku menoleh cepat. “Setidaknya mereka tidak terlihat memalukan seperti aku.”
Suasana langsung hening. Rani mengernyit. “Memalukan?”
Aku menarik napas panjang. “Iya. Aku sudah berusaha, tapi tetap saja hasilnya buruk. Orang-orang mulai bicara. Aku juga mulai tidak percaya sama diriku sendiri.”
Rani menatapku lama. “Yang paling kejam ke kamu itu bukan orang lain,” katanya pelan. “Tapi kamu sendiri.”
Aku terdiam. Hari itu menjadi awal dari semuanya runtuh. Pengumuman lomba tingkat provinsi keluar. Lomba yang kupersiapkan berbulan-bulan.
Lomba yang kuanggap sebagai kesempatan terakhir untuk “membuktikan diri”. Aku berdiri di antara kerumunan peserta saat hasil ditempel.
Namaku tidak ada. Aku membaca ulang. Sekali, dua kali, tiga kali.. Tetap tidak ada.
Di sampingku, seseorang berseru, “Aku lolos!” Tepuk tangan terdengar.
Aku mundur perlahan, Dadaku sesak. “Aku… gagal lagi?” suaraku nyaris tidak terdengar.
Malam itu adalah titik terendahku. Aku mengunci pintu kamar. Lampu tidak kunyalakan.
Aku duduk di lantai, memeluk lutut. “Aku ini sebenarnya siapa…?” bisikku. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. “Aku sudah mencoba. Aku sudah berusaha. Tapi kenapa hasilnya selalu sama?” Aku menutup wajahku. “Kalau begini terus… untuk apa aku lanjut?” Untuk pertama kalinya, aku benar-benar ingin berhenti.
Bukan hanya berhenti mencoba, tapi berhenti berharap. Pintu kamarku diketuk pelan.
“Nak?” suara Ibu terdengar. Aku tidak menjawab, Pintu terbuka perlahan. Ibu masuk, lalu duduk di sampingku tanpa banyak bicara. Beberapa saat kami hanya diam. “Aku lelah, Bu…” akhirnya aku bersuara, suaraku bergetar. Ibu mengusap punggungku pelan. “Iya… Ibu tahu.” Aku menggeleng, air mataku semakin deras. “Aku sudah berusaha. Tapi tetap gagal. Mungkin… memang aku tidak punya kemampuan.” Ibu terdiam sejenak. “Jangan bilang begitu,” katanya pelan. “Lalu harus bagaimana, Bu?” suaraku meninggi. “Aku sudah mencoba berkali-kali! Tapi hasilnya tetap sama!” Ibu menatapku. “Kalau begitu, kamu mau berhenti?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu terasa seperti menghantamku. “Aku… tidak tahu…” jawabku lirih. Ibu menggenggam tanganku. “Kalau kamu berhenti karena lelah, itu wajar. Tapi kalau kamu berhenti karena merasa tidak berharga… itu yang salah.”
Aku menunduk. “Tapi aku memang tidak berharga kalau terus gagal, Bu…”Ibu menggeleng tegas. “Nilai kamu bukan ditentukan dari menang atau kalah.”
Aku terdiam. “Tapi… kenapa rasanya sakit sekali?” tanyaku pelan. Ibu tersenyum tipis, meski matanya terlihat berkaca-kaca. “Karena kamu masih peduli. Dan itu artinya kamu belum selesai.”
Beberapa hari aku benar-benar menjauh dari semuanya. Tidak belajar, Tidak membuka buku., dan Tidak berbicara banyak. Hingga suatu hari, Rani datang ke rumah. “Kamu serius mau berhenti?” tanyanya tanpa basa-basi.
Aku menghela napas. “Sepertinya begitu.” Rani menatapku tajam. “Ini kamu yang bicara, atau rasa takutmu?” Aku terdiam. “Jangan sok kuat kalau sebenarnya kamu hanya ingin lari,” lanjutnya. Aku menatapnya, kesal. “Kamu tidak tahu rasanya gagal terus-menerus!” Rani tidak mundur. “Lalu kamu pikir menyerah akan membuatmu lebih baik?”
Aku tidak menjawab. Suasana menjadi tegang. Beberapa detik terasa sangat lama. “Aku tidak ingin melihat kamu menyerah seperti ini,” kata Rani lebih pelan. Aku menunduk. “Aku juga tidak ingin menyerah…” suaraku hampir tidak terdengar. “Tapi aku takut mencoba lagi.” Rani menarik napas panjang. “Kalau begitu, coba sekali lagi. Tapi kali ini… bukan untuk membuktikan apa pun ke orang lain.” Aku menatapnya. “Lalu untuk apa?” Rani tersenyum kecil. “Untuk dirimu sendiri.”
Beberapa minggu kemudian, aku melihat sebuah program kecil.
Tidak banyak yang tertari, Tidak bergengsi, Tidak seperti yang dulu selalu kuincar. Aku memegang brosur itu lama. “Apa aku siap mencoba lagi?” tanyaku dalam hati. Keraguan itu masih ada. Rasa takut itu juga masih ada.
Tapi… Aku mengingat kata-kata Ibu. Aku mengingat tatapan Rani. Dan aku mengingat diriku sendiri yang dulu tidak pernah berhenti mencoba.
Hari seleksi tiba.Tanganku dingin.
Jantungku berdegup kencang. “Aku bisa… atau mungkin tidak,” bisikku. Saat wawancara, penguji bertanya, “Kenapa kamu ingin ikut program ini?” Aku terdiam cukup lama. Semua keraguan, semua kegagalan, semua rasa sakit seperti berkumpul di kepalaku. “Apa aku pantas ada di sini?” pikirku. Lalu aku menarik napas dalam. “Saya… sering gagal,” kataku perlahan.
Penguji itu menatapku.
“Tapi saya masih ingin mencoba. Bukan untuk membuktikan bahwa saya bisa menang… tapi untuk membuktikan bahwa saya tidak menyerah.” Suasana hening dan untuk pertama kalinya Aku merasa jujur sepenuhnya.
Hari pengumuman tiba.
Aku duduk di lantai kamar, Hujan kembali turun persis seperti malam-malam sebelumnya. Tanganku gemetar saat membuka pengumuman. “Bagaimana kalau gagal lagi?” pikirku. “Aku tidak kuat kalau harus jatuh lagi…” Aku menutup mata sejenak. “Ini yang terakhir,” bisikku. Lalu aku membuka hasilnya.
Namaku ada di sana. AKU LOLOS.
Aku terdiam beberapa detik, beberapa menit. Air mataku jatuh bukan seperti sebelumnya.
Bukan karena sakit. Tapi karena… lega. “Ibu…” suaraku bergetar. Ibu datang tergesa. “Ada apa?” Aku menunjukkan layar itu. Ibu menutup mulutnya, lalu tersenyum haru. “Alhamdulillah…”
Aku menangis. “Bu… aku hampir menyerah…” Ibu memelukku erat. “Tapi kamu tidak menyerah.” Aku mengangguk dalam pelukannya dan mengatakan “Iya… aku tidak menyerah.”
Malam itu, aku kembali duduk di lantai kamar hujan masih turun Tapi kali ini terasa berbeda. aku tersenyum kecil. Akhirnya aku mengerti bukan kegagalan yang selama ini menghentikanku, tapi ketakutanku sendiri.
Dan ternyata…
Aku lebih kuat dari yang kukira. Sekarang aku tahu. Tujuanku bukan sekadar berhasil. Tapi menjadi seseorang yang tetap berjalan, meskipun berkali-kali jatuh. Dan kali ini, aku melangkah bukan karena aku tidak pernah gagal, melainkan karena aku memilih untuk tidak berhenti.

Leave a Reply