Penulis: Mochammad Daffa Putra Anggrianto

RisetAnakBangsa.id-Kalian bukan sekadar tangan yang membesarkan,

kalian adalah arsitek yang membangun jiwa

dari bata-bata keras bernama sabar

dan semen doa yang tak pernah mengering.

 

Di rumah yang tak selalu lembut,

aku belajar bahwa keras bukan kebencian

melainkan pahat yang memahat arah

di batu yang mudah tersesat oleh dunia.

 

Aku tumbuh di sela ayat yang jatuh perlahan,

di antara jeda sujud yang lebih panjang dari kata,

di mana langit seakan diturunkan sedikit demi sedikit

agar aku mengerti cara bersyukur tanpa diminta.

 

Aku masih ingat,

lantai sederhana itu menjadi lautan cahaya kecil,

ketika suara kalian menjahit sunyi

dengan zikir yang tak pernah minta didengar manusia.

 

Di sana aku belajar menjadi anak laki-laki

yang menahan badai di dalam tenggorokan,

yang memahami bahwa air mata pun

harus belajar sopan di hadapan doa.

 

Namun di balik semua itu,

aku juga manusia yang retaknya tak selalu terlihat,

yang kadang ingin jatuh tanpa ditanya kuat atau tidak,

yang kadang ingin hilang dari peran harus mengerti.

 

Tapi kalian telah menanamkan sesuatu yang lebih dalam dari luka:

bahwa hidup bukan tentang ringan,

melainkan tentang tetap berdiri

meski langit di dalam dada sedang runtuh pelan.

 

Dan diri itu

perlahan tidak lagi hanya ruang,

ia berubah menjadi denyut yang berjalan bersamaku,

menjadi suara yang menegur ketika aku hampir lupa pulang.

 

Kini aku paham,

kalian tidak hanya membentukku menjadi anak,

tetapi menjadi gema dari sesuatu yang lebih besar

kesabaran yang berwujud manusia.

 

Jika aku tampak kuat,

itu karena kalian mengajarkanku cara berdiri di atas patah,

menyusun senyum di atas letih,

dan menyebut syukur bahkan ketika dada nyaris tak utuh.

 

Dan bila suatu hari aku benar-benar sampai pada ujung lelah,

aku tahu ke mana harus kembali

bukan pada tempat,

melainkan pada kalian

mihrab yang tidak pernah berhenti memanggilku pulang.