Febri Lisna Safitri Sitompul
Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan
RisetAnakBangsa.id-Batang Toru, Sumatera Utara — Air cokelat keruh itu datang tanpa aba-aba. Dalam hitungan jam, Sungai Batang Toru yang biasanya menjadi sumber kehidupan warga berubah menjadi ancaman. Hujan deras yang mengguyur kawasan pegunungan sejak beberapa hari terakhir membuat sungai meluap, menenggelamkan rumah-rumah warga, ladang, serta fasilitas umum di sejumlah desa Kecamatan Batang Toru. Banjir kali ini bukan sekadar genangan, melainkan bencana yang menguji daya tahan hidup masyarakat setempat.
Sejak Senin malam, ketinggian air terus meningkat. Pada Selasa pagi, sebagian besar wilayah Desa Tanjung Sari, Desa Hapesong Baru, dan Desa Aek Pining sudah terendam air setinggi lutut hingga dada orang dewasa. Aktivitas warga lumpuh total. Jalan desa tidak bisa dilalui kendaraan, listrik padam di beberapa titik, dan jaringan komunikasi sempat terganggu.
“Air naik cepat sekali. Subuh masih di teras, siang sudah sampai ke kamar,” ujar Siti Nurhayati (42), warga Desa Tanjung Sari, sambil menunjuk bekas garis air di dinding rumahnya. Perempuan itu kini hanya bisa bertahan di bagian rumah yang lebih tinggi bersama suami dan dua anaknya. Perabotan rumah tangga, alat masak, dan pakaian terendam tanpa bisa diselamatkan.
Rumah Tenggelam, Aktivitas Lumpuh
Data sementara dari pemerintah desa mencatat sedikitnya 180 kepala keluarga terdampak langsung oleh banjir. Sebagian rumah terendam hampir seluruhnya, sementara lainnya hanya menyisakan atap. Sawah dan kebun karet yang menjadi sumber penghasilan warga ikut tenggelam, memicu kekhawatiran akan kerugian ekonomi dalam jangka panjang.
Jembatan penghubung antardesa yang biasanya ramai dilalui warga kini tak bisa dilewati. Arus air yang deras membawa lumpur dan batang kayu, membuat jembatan rawan runtuh. Warga terpaksa menggunakan perahu kecil atau rakit darurat untuk menyeberang, dengan risiko keselamatan yang tinggi.
“Biasanya kami ke pasar pagi-pagi. Sekarang jangankan ke pasar, keluar rumah saja susah,” kata Hasanuddin (55), seorang petani karet. Ia mengaku sudah tiga hari tidak bisa menyadap kebunnya. “Kalau banjir lama surut, kami tidak punya penghasilan.”
Sekolah-sekolah di wilayah terdampak terpaksa diliburkan. Beberapa ruang kelas terendam, meja dan buku pelajaran basah. Anak-anak menghabiskan waktu di rumah pengungsian sementara, sebagian membantu orang tua membersihkan lumpur, sebagian lainnya hanya duduk menunggu air surut.
Bertahan Dengan Gotong Royong
Di tengah keterbatasan, semangat gotong royong warga Batang Toru tetap hidup. Warga yang rumahnya masih relatif aman membuka pintu bagi tetangga yang terdampak lebih parah. Karung-karung berisi pasir disusun untuk menahan laju air, sementara papan dan kayu digunakan sebagai jembatan darurat.
“Kami masak bersama di rumah yang agak tinggi. Makan seadanya, yang penting bisa bertahan,” tutur Rahmawati (38), warga lainnya. Dapur umum kecil-kecilan dibentuk secara swadaya, memanfaatkan bahan makanan yang masih bisa diselamatkan.
Para pemuda desa turut berperan aktif membantu evakuasi lansia dan anak-anak. Dengan perahu seadanya, mereka menembus arus untuk menyalurkan bantuan dan memindahkan warga ke lokasi yang lebih aman. Meski kelelahan, mereka tetap berjaga, khawatir air kembali naik di malam hari.
Respons Pemerintah dan Relawan
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menurunkan tim evakuasi dan mendirikan posko darurat di balai desa dan masjid setempat. Bantuan berupa beras, mie instan, air bersih, selimut, dan obat-obatan mulai disalurkan, meski belum sepenuhnya menjangkau seluruh warga terdampak.
Kepala Desa Tanjung Sari, H. Mulyadi, menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah dalam satu dekade terakhir. “Curah hujan sangat tinggi dan berlangsung terus-menerus. Sungai tidak mampu menampung debit air,” ujarnya. Ia juga mengimbau warga tetap waspada karena potensi hujan susulan masih tinggi.
Petugas kesehatan setempat turut melakukan pemeriksaan terhadap warga pengungsi. Penyakit kulit, diare, dan infeksi saluran pernapasan menjadi ancaman serius pascabanjir. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan.
Masalah Lama Yang Kembali Terulang
Bagi warga Batang Toru, banjir bukanlah hal baru. Hampir setiap musim hujan, ancaman luapan sungai selalu menghantui. Namun, intensitas dan dampak banjir kali ini dinilai semakin parah. Warga menduga penyempitan sungai akibat sedimentasi dan perubahan tata guna lahan di hulu sungai memperburuk kondisi.
“Dulu air tidak separah ini. Sekarang hujan sebentar saja, sungai langsung meluap,” kata Hasanuddin. Warga berharap pemerintah melakukan normalisasi sungai dan penataan daerah aliran sungai secara serius, bukan hanya penanganan darurat setiap kali bencana datang.
Aktivis lingkungan setempat juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap aktivitas di kawasan hulu sungai. Menurut mereka, kerusakan lingkungan turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko banjir di wilayah hilir.
Harapan di Tengah Genangan
Di balik rumah-rumah yang terendam dan lumpur yang mengendap, tersimpan harapan warga Batang Toru untuk kembali menjalani kehidupan normal. Mereka berharap air segera surut, bantuan terus mengalir, dan pemerintah menghadirkan solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang.
“Saya hanya ingin rumah kami bisa ditempati lagi dan anak-anak bisa sekolah seperti biasa,” ucap Siti Nurhayati lirih. Bagi warga Batang Toru, banjir bukan hanya soal air yang meluap, tetapi tentang perjuangan mempertahankan hidup, martabat, dan masa depan di tanah kelahiran mereka sendiri.

Leave a Reply