MHD Sarbenny Harahap

Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

RisetAnakBangsa.id-Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) merupakan wilayah yang memiliki kondisi geografis rawan bencana alam. Letak wilayah yang didominasi perbukitan, aliran sungai, serta curah hujan yang tinggi membuat daerah ini kerap menghadapi ancaman banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, bencana alam di Tapteng tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Akses jalan terputus, rumah warga rusak, serta aktivitas ekonomi terhenti menjadi gambaran nyata dari kurangnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana yang memadai.

Salah satu faktor utama penyebab bencana adalah kerusakan lingkungan. Alih fungsi lahan, penebangan hutan yang tidak terkendali, serta minimnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian alam memperparah risiko terjadinya bencana. Ketika hujan deras turun, daerah resapan air tidak lagi mampu menahan debit air yang tinggi.

Pemerintah daerah perlu mengambil langkah serius dalam penanggulangan bencana, mulai dari perencanaan tata ruang yang berkelanjutan, penguatan sistem peringatan dini, hingga edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Di sisi lain, masyarakat juga harus berperan aktif menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang merusak alam.

Bencana alam bukan hanya peristiwa alam semata, tetapi juga akibat dari kelalaian manusia. Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, risiko bencana di Tapanuli Tengah dapat diminimalkan demi keselamatan dan kesejahteraan bersama.

Dampak sosial dan ekonomi dari bencana ini begitu nyata dirasakan masyarakat. Selain ratusan korban jiwa, ribuan rumah warga rusak, jembatan dan fasilitas umum hancur, dan akses transportasi terputus total di banyak kecamatan. Di beberapa desa, warga terpaksa bertahan hidup dengan hanya memakan durian karena pasokan pangan dan listrik putus selama berhari-hari. Kondisi ini mengekspos lemahnya kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman berkala yang sebenarnya sudah diprediksi dari musim hujan tahunan.

Kerusakan lingkungan menjadi salah satu faktor yang memperparah bencana. Alih fungsi lahan, eksploitasi hutan di sekitar kawasan Batang Toru, serta pembukaan lahan oleh sejumlah korporasi mengikis area resapan air yang seharusnya menahan aliran debit tinggi saat hujan deras. Analisa pakar lingkungan menunjukkan bahwa erosi dan pengikisan tutupan hutan ini berkorelasi dengan intensitas banjir dan longsor yang terjadi. Ketika fungsi ekologis hutan sebagai “bantalan alam” hilang, risiko bencana pun meningkat tajam.

Pemerintah daerah dan pusat telah menetapkan status tanggap darurat serta mengerahkan tim SAR gabungan untuk evakuasi dan pencarian korban. Namun, respons yang terlambat dan tantangan logistik termasuk jalan yang rusak dan komunikasi yang putus  menunjukkan bahwa sistem mitigasi bencana masih jauh dari ideal. Warga di banyak titik isolir harus menunggu berhari-hari sebelum bantuan tiba, sementara distribusi bantuan pangan dan kebutuhan dasar masih sangat terbatas

Pengalaman pahit ini harus menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat perencanaan tata ruang berkelanjutan yang benar-benar mengintegrasikan risiko bencana. Ini mencakup reforestasi kawasan kritis, pengaturan ulang izin penggunaan lahan, serta pembentukan sistem peringatan dini yang efektif hingga tingkat desa. Tanpa kebijakan yang tegas, kerusakan lingkungan akan terus memperburuk dampak bencana yang seharusnya bisa dikurangi. Analisa risiko berbasis data ilmiah harus menjadi landasan perencanaan ke depan.

Di level masyarakat, peran aktif warga tidak bisa diabaikan. Kesadaran menjaga lingkungan, pelatihan kesiapsiagaan bencana, serta partisipasi dalam upaya mitigasi lokal akan memperkuat ketahanan komunitas. Bencana alam bukan semata peristiwa alamiah yang tak terhindarkan, tetapi sering kali merupakan konsekuensi dari pilihan pembangunan dan perilaku manusia itu sendiri. Dengan kerja sama kuat antara pemerintah dan masyarakat, risiko bencana di Tapanuli Tengah masih bisa diminimalkan demi keselamatan dan kesejahteraan bersama.