Latar Belakang
Dinasti Bani Umayyah merupakan salah satu dinasti besar dalam sejarah Islam yang berdiri setelah berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin. Lahirnya dinasti ini tidak terlepas dari kondisi politik dan sosial umat Islam yang sedang mengalami perpecahan akibat berbagai konflik internal. Setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan, terjadi perselisihan yang berlanjut pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Konflik tersebut memunculkan perang saudara, seperti Perang Jamal dan Perang Shiffin, yang menyebabkan persatuan umat Islam semakin melemah dan menimbulkan ketidakstabilan dalam pemerintahan.
Dalam situasi tersebut, Muawiyah bin Abi Sufyan yang menjabat sebagai gubernur Syam menuntut penyelesaian atas terbunuhnya Utsman bin Affan. Perselisihan antara pihak Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah akhirnya semakin berkembang dan menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Setelah Ali bin Abi Thalib wafat, putranya, Hasan bin Ali, diangkat sebagai khalifah. Namun, demi menjaga persatuan umat Islam dan menghindari pertumpahan darah yang lebih besar, Hasan bin Ali memilih menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun 661 M. Peristiwa ini dikenal sebagai Amul Jama’ah atau Tahun Persatuan, karena menjadi awal bersatunya kembali umat Islam di bawah satu kepemimpinan.
Berdirinya Dinasti Bani Umayyah dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mempersatukan umat Islam yang telah terpecah akibat konflik politik dan perebutan kekuasaan. Selain itu, diperlukan pemerintahan yang kuat dan stabil agar keamanan serta ketertiban dapat terwujud. Muawiyah bin Abi Sufyan kemudian mendirikan pemerintahan baru dengan pusat kekuasaan di Damaskus. Ia melakukan berbagai pembaruan dalam bidang administrasi, militer, dan pemerintahan sehingga kekuasaan Islam menjadi lebih terorganisasi dan mampu memperluas wilayahnya hingga ke berbagai kawasan di Asia, Afrika, dan Eropa.
Kajian Teori
Berdirinya Dinasti Umayyah
Berdirinya dinasti umayyah berkaitan denga peristiwa tahkim pada masa pemerintahan ali bin abi thalib. Peristiwa itu memunculkan pemenang baru yaitu muawiyyah bin sufyan. Dinasti umayyah pemerintahan selama 90 tahun (40-132 H/ 661-750). selama hampir setengah abad berkuasa, dinasti umayyah memberikan berbagai pengaruh bagi peradaban islam,. Pemerintahan dinasti ini terletak dimaskus. Nama dinasti ini di rujuk kepada muawiyyah bin ’abd asy-syams, kakek buyut dari khalifah pertama bani umayyah, yaitu muawiyyah bin abu sufyan atau juga disebut dengan muawiyyah1.
Dinasti umayyah berdiri di atas bangunan perpecahan umat islam. Berbagai peristiwa perpecahan umat islam sebelumnya membayangi dinasti ini, bahkan dinasti ini berdiri dari hasil perpecahan yang menyebabkan peperangan antara ali dan muawiyyah. Berkat kejeniusan amr bin ash, muawiyyah berhasil memenangkan peperangan dengan ali dan mendirikan dinasti umayyah.
Muawiyyah menyadari bahwa perpecahan di kalangan umat islam tidak dapat di biarkan lagi karena akan mengganggu kemajuan umat islam sendiri. Untuk itu tidak di melakukan segala hal untuk menyatukanya umat islam. Bahkan, dalam upaya menyatukan umat islam itu muawiyyah dan keturunannya tidak segan-segan melakukan tindakan tegas dan kejam terhadp pemberontakan. Mereka tidak metolorir setiap potensi yang akan merusak persatuan umat islam. Berkat tindakan tegas itu maka umat islam dapat bersatu pada pemerintahan dinasti umayyah.
Kebijakan Politik
Dinasti umayyah sangat bersifat arab, artinya dalam segala hal bidang para pejabatnya berasal dari keturunan arab mumi, begitu pula dengan corak peradaban yang di hasilkan pada dinasti ini. Akan tetap prlu di ketahui bahwa raba yang di maksudkan disini bukanlah arab pada masa keislaman, tetapi arab sebelum keislaman, pada masa ini pemerintahan dinasti ini banyak kemajuan yang berkembang, dan perluasan daerah yang di capai.
Selain itu dinasti umayyah juga mengadopsi sistem pemerintahan kuno yang ada di dunia ketika itu. Mereka menggunakan sistem kerajaan dalam pemerintahanya. Seorang pemimpin bukan berasal dari rakyat biasa. Akan tetapi berasal dari rakyat kerajaan. Raja atau pemimpin telah di siapkan oleh raja yang berkuasa jadi, setelah kematianya, maka raja yang telah disiapkan akan menggantikanya.
Di karenakan raja berasal dari keluarga kerajaan dari peawaris tahta di tunjukkan langsung oleh raja maka tidak heran muncul ketidakpusan dari rakyat. Sebagaimana di ketahui, islam pernah mengajarkan seorang pemimpin harus di pilih dari keluarga tertentu. Menurut islam siapa pun orang yang memiliki potensi dan kemampuan berhak menjadi pemimpin. Inilah yang di buktiakan nabi dan khulafa ar-rasyidin.
Akan tetapi tidak berlaku pada, masa dinasti bani umayyah berkuasa, mereka membuang jauh-jauh ajaran islam tersebut dan mengadopsi sistem pemerintahan non islam. Akibat kebijakan dinasti umayyah ini muncul ketidakpuasan di kalangan umat islam sehingga memicu perlawanan dan pemberontakan-pemberontakan.
Kejayaan Dinasti Umayyah
Prestasi dinasti umayyah cukup besar dalm hal perluasan wilayah. Dinasti ini berhasil memperluas daerah kekuasaan islam keberbagai penjuru dunia, seperti spanyol, afrika utara, suria, palestina, semenanjung arabia, irak, Sebagian kecil asia, Persia, Afghanistan, Pakistan, rukhmenia, Uzbekistan, dan kirgis. Selain keberhasilan dalam bidang-bidang yang lain yaitu.
- Pemisahan kekuasaan
Pemisahan kekuasaan antara kekuasaan agama dengan kekuasaan politik. Hal ini di lakukan karena muawiyyah bukanlah seorang yang ahli dalam soal-soal keagamaan, maka masalah keagamaan di serahkan kepada ulama.
- Pembagian wilayah
Pada masa khalifa umar bin khattab 8 provinsi maka pada masa dinasti umayyah mencapai10 provinsi tiap-tiap provinsi di kepalai oleh gubernur yang bertanggung jawab langsung khalifah. Gubernur berhak menunjuk wakilnya di daerah kecil dan mereka di namakn ’amil
- Organisasi keuangan
Percetakan uang di lakukan pada masa khalifah abdul malik ibn marwan, walaupun pengelolaan asset dari pajak tetap di baitul mal.
Warisan Peradaban Dinasti Bani Umayyah
Dinasti umayyah mencatatkan banyak kemajuan dalam berbagai bidang, seperti bidang perekonomian, ilmu pengetahuan, seni, seni dan arsitektur. Dalam bidang pertanian. Pemerintahan ini telah memperkenalka sistem pengairan dengan tujuan meningkatkan hasil pertanian
Pada masa dinasti umayyah penulisan al-quran mengalami penyempurnaan. Sebagaimana di ketahuai bahwa al-quran pada masa hkulafa ar-rasyidin belum memiliki tanda titik huruf dan harkat sehingga hal ini membuat umat islam yang non arab kesulitan dalam membaca al-quran. Atas perintah ziyad bin abiyah kepada al-aswad ad-duali di buatlah harkat akhir terhadap al-quran pada waktu itu, abu al- du’ali memberikan titik di atas sebagai fatha, titik di bawah sebagai kasrah, titik di tepi sebagai tanda dhommah, dan dua titik sebagai tanda tanwin. ( al-hamid, 1957:75-76)
Selanjutnya, penilisan al -quran mengalami penyempurnaan. Atas perintah hajjaj kepada nasr bin ashim di buatlah tanda titik pada huruf huruf al-quran. Nasr membuat titik satu,dua,tiga, dan tiga pada masing-masing huruf al-quran. Berkat usaha dari nasr umat islam non arab tidak lagi kesulitan dalam membaca al-quran terus mengalami penyempurnaan pada masa dinasti umayyah hingga al-quran menjadi seperti yang kita lihat sekarang memiliki titik dan baris.
Runtuhnya Dinasti Umayyah
Runtuhnya dinasti umayyah bukan lah semata-mata di sebabkan oleh serangan bani abbas. Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan tumbanganya kekuasaan dinasti umayyah, diantaranya adalah.
- Pengangkatan lebih dari satu putra mahkota
Sebagian besar khalifah bani umayyah mengangakat lebih dari satu mahkota. Biasanya putra tertua di wasiatkan terlebih dahulu untuk menduduki tahata. Setelah itu, wasiat akan di lanjutka kepada putra mahkota kedua dan ketiga, atau salah satu kerabat khalifah seperti, paman dan saudaranya. Putra mahkota yang lebih dahulu menduduki tahta cebderung mengangkat putranya sendiri. Hal itu menimbulkan perselisihan karena putra mahkota kedua ketiga yang telah di angkat oleh khalifah sebelumya merasa di langkahi. Perselisihan itu jarang berakhir dengan pertumpahan darah.
- Timbulnya fanatisme kesukuan
Sejak pertama kali di turunkan, ajaran islam berhasil melenyapkan fanatisme kesukuan antar bangsa arab yang sebelumnya mendarah daging dalam kehidupan orang arab,. Namun pada masa dinasti bani umayyah, fanatisme ini muncul kembali terutama setelah kematia yazid bin muawiyyah (yazid1)
- Kehidupan kekhalifaan yang melampaui batas
Beberapa khalifah umayyah yang pernah berkuasa di ketahui hidup mewah dab berlebih lebihan. Hal ini menimbulkan antipati rakyat kepad mereka. Kehidupan dalam istan bizantium agaknya memengaruh gaya hidup meraka
- Fanatisme kearaban bani umayyah
Dinasti bani umayyah memiliki watak kearaban yang kuat. Sebagian besar kekhalifaan sangat fanatik terhadap kearaban dan bahasa arab yang digunakan mereka memandang rendah kaum mawali ( non arab)
Fanatisme ini menimbulakan kebencian penduduk non muslim kepada bani umayyah.
- Kebencian golongan syi’ah
Dinasti umayyah yang didirikan oleh muawiyyah sangat di benci oleh kalangan syi’ah karena di pandang telah merampas kekhalifaan dari tangan ali bin abi thalib dan keturunanya.
Kajian Terdahulu
Guna mematakan posisi akademik dan menjamin keaslian kajian ini, penulis meninjau literatur utama yang menjadi rujukan data, yaitu:
- Badri yatim (1993) : berfokus pada sejerah politik dinasti umayyah, khususnya mengenai berdirinya pemeruntahan muawiyyah bin abu sufyan, sistem monarik yang di terapkan, serta perkembangan administrasi dan perluasan wilayahkekuasan islam (yatim,1993:72-80).
- Samsul munir amin (2009): berfokus pada perkembangan peradaban islam pada masa dinasti umayyah, meliputi kebijakan politik, kondisi sosial masyarakat, serta kontribusi dinasti umayyah dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan arsitektur (amin,2009:112-118).
- Syalabi (1997): berfokus pada Upaya muawiyyah bin abi sufyan dalam mempersatukan umat islam pasca konflik internal, pemebentukan sistem pemerintahan yang terpusat, serta perkembangan organisasi negara pada masa dinasti umayyah (syalabi, 1997:145-150).
- Philip k. Hitti (2006): berfokus pada kejayaan dinasti umayyah dalam memperluas wilayah kekuasaan islam sehingg,spanyol,afrika utara, dan asia tengah, serta perkembangan kebudayaan dan administrasi pemerintahan yang menjadi dasar bagi peradaban islam berikutnya (hittin, 2006: 239-245).
- Dedi supriyadi(2008): berfokus pada faktor-faktor kemunduran dan keruntuhan dinasti umayyah, seperti konflik internal fanatisme kesukuan, serta munculnya gerakan oposisi yang akhirnya menyebabkan berakhirnya kekuasaan dinasti umayyah(supriyadin, 2008:98-102)
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis pustaka (library research) dan metode Sejarah (historis).
- Heuristic(pengumpulan data)
Mengumpulkan berbagai sumber Pustaka yang berkaitan dengan persatuan dan pemerintahan dinasti umayyah.
- Verifikasi (kritik sumber): menyeleksi dan menguji keaslian serta kridibilitas sumber yang di gunakan.
- Interpretasi( penafsiran): menganalisis perkembangan pemerintahan, persatuan, umat islam, serta faktor kemajuan dan keruntuhan dinasti umayyah.
- Historigrafi( penulisan): menysusun hasil penelitian secara sistematis dan kronologis dalam bentuk tulisan sejerah.
Analisis
Berdasarkan hasil kajian, dinasti umyyah berhasil mempersatukan umat islam setelah terjadinya berbagai konfilik pada masa sebelum nya. Di bawah kepemimpinan muawiyyah bin abu sufyan, pemerintahan menjadi terorganisasi dengan sistem kekuasaan yang terpusat. Pada masa kejayaan, dinasti umayyah berhasil memperluas wilayah kekuasaan islam hingga ke afrika utara, spanyol, dan asia tengah, serta mengembangkan berbagai bidang seperti, administrasi, pemerintahan, seni, arsitektur, dan penyempurnaan penulisan al-quran
Namun, di balik kemajuannya, dinasti umayyah juga mengahadapi berbagai permasalahan seperti konflik internal, fanatisme, kesukuan, ketidakpuasan terhadap sistem monarik,dan munculnya gerakan perlawanan dari berbagai kelompok. Faktor-faktor tersebut menyebabkan melemahnya pemerintahan hingga akhirnya dinasti umayyah runtuh dan di ganti dinasti abbasiyah.
Kesimpulan
Dinasti umayyah merupakan salah satu dinasti besar dalam sejarah islam yang berhasil menyatukan umat islam dan membawa perkembangan yang pesat dalam berbagai bidang. Pemerintahan ini mampu membangun sistem admistrasi yang teratur. Memperluas wilayah kekuasaan, serta meninggalkan warisan peradaban yang penting, seperti perkembangan seni, arsitektur, ilmu pengetahuan dan penyempurnaan penulisan AL-Quran, namun sistem pemerintahan yang bersifat turun temurun konflik internal, fanatisme, kesukuan, serta munculnya berbagai pemberontak menyebebkan melemahnya kekuasaan dinasti umayyah. Dengan demikian dinasti umayyah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban islam meskipun pada akhirnya mengalami keruntuhan akibat berbagai persoalan politik dan sosial yang terjadi di dalam pemerintahanya.
Daftar Pustaka
Kartika sari,M, Hum (2015). peradaban islam .siddik press, kampus STAIN syekh abdurrahman siddik bangka Belitung, jl. Raya pangkalpinang mentok km 13 petaling mendo barat kabupaten bangka.
Prof. Dr. J. syuti pulungan M,A. (2017) Sejarah peradaban. AMZAH jl. Sawo raya No. 18 jakarta 13220.
Abdul Syukur al-aziz,(2017).sejerah terlengkap peradaban islam. Noktah sampan Gg. Perkutut No. 325- B, jl. Wonosari, batu retno.
Nurul Adawiyah Lubis
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Leave a Reply