Mujib Hagabean Nst
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan
RisetAnakBangsa.id-Penyebaran hoaks dalam dakwah di media sosial kerap terjadi karena informasi dapat meluas dalam hitungan detik tanpa sempat diperiksa kebenarannya. Banyak pendakwah maupun pengguna media sosial membagikan materi keagamaan dari cuplikan tulisan, video pendek, atau kisah yang sumbernya belum jelas. Situasi seperti ini membuat informasi yang belum pasti kebenarannya mudah dipercaya, apalagi jika disajikan dengan meyakinkan atau datang dari sosok yang terlihat berotoritas. Akibatnya, ajaran yang salah, hadis yang tidak valid, atau penafsiran agama yang keliru bisa tersebar secara luas dan dianggap benar oleh banyak orang(Parhan et al., 2021).
Di sisi lain, karakter media sosial yang menonjolkan kecepatan, sensasi, dan keviralan turut memperbesar peluang hoaks untuk menyebar. Konten yang heboh atau menakut-nakuti sering lebih cepat menarik perhatian, sehingga orang terdorong membagikannya tanpa mempertimbangkan dampaknya. Kurangnya kehati-hatian pendakwah dalam menyeleksi sumber juga dapat memicu beredarnya informasi palsu dalam dakwah digital. Jika dibiarkan, hoaks bukan hanya merusak kepercayaan publik terhadap pendakwah, tetapi juga dapat menciptakan kebingungan, memicu kesalahpahaman, dan mengganggu cara masyarakat memahami ajaran agama secara benar(Nasriah et al., 2021).
Perkembangan teknologi di era globalisasi sekarang ini membawa banyak perubahan dalam pola hidup masyarakat yang sebelumnya sudah terbentuk dengan baik. Salah satu contohnya adalah hadirnya media sosial yang kini menjadi sarana penting untuk berkomunikasi dan bertukar informasi dalam kehidupan sosial masyarakat di seluruh dunia. Tidak bisa dipungkiri, media sosial memiliki pengaruh besar terhadap berbagai bidang kehidupan, mulai dari sosial budaya, politik, ekonomi, hingga aspek keagamaan.(Islamy, 2021)
Internet memungkinkan siapa saja, dari mana pun dan dengan latar belakang apa pun, untuk saling terhubung. Orang yang sebelumnya tidak saling mengenal pun bisa berinteraksi, tanpa terhalang perbedaan suku, ras, atau agama. Semua itu dimungkinkan karena internet menyediakan banyak fasilitas yang memudahkan manusia untuk berkomunikasi. Dalam kehidupan beragama, media sosial hadir sebagai ruang baru yang sangat membantu para pendakwah menyebarkan pesan-pesan kebaikan. Kemudahan yang ditawarkan internet membuat dakwah dapat disampaikan dengan cara yang lebih singkat, cepat, menarik, dan menjangkau lebih banyak orang(Fitriani, 2017).
Dakwah melalui media sosial juga muncul karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan tambahan pengetahuan agama. Media sosial punya banyak keuntungan sebagai sarana dakwah karena dapat menjangkau orang dari berbagai kalangan dengan sangat cepat, mudah diakses, dan memberi ruang bagi pendakwah untuk menyampaikan pesan secara lebih kreatif, baik lewat tulisan, gambar, maupun video. Informasi yang dibagikan juga dapat tersebar lebih luas tanpa memerlukan biaya besar. Namun, media sosial tetap memiliki kelemahan, seperti kemungkinan tersebarnya informasi yang tidak benar, munculnya komentar yang kurang baik atau perdebatan yang tidak membangun, serta risiko pesan dakwah dipahami secara keliru karena kurangnya penjelasan yang menyeluruh(Hariyati, 2025).
Penggunaan media digital dalam kegiatan dakwah membawa sejumlah tantangan yang tidak sederhana. Salah satu tantangan terbesarnya adalah bagaimana menerapkan etika dalam setiap aktivitas dakwah yang disampaikan melalui ruang digital. Etika dakwah sendiri mencakup nilai-nilai moral serta aturan yang perlu dipegang oleh para da’i ketika menyampaikan pesan-pesan keagamaan agar tetap sesuai dengan ajaran yang benar dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Salah satu tantangan terbesar dalam dakwah melalui media digital adalah maraknya penyebaran informasi yang tidak tepat. Karena akses informasi begitu mudah, banyak konten di media sosial tersebar tanpa proses pengecekan yang benar, sehingga kabar yang keliru dapat dengan cepat menyebar luas. Kondisi ini tidak hanya berpotensi merusak citra dakwah, tetapi juga menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Contohnya, munculnya hoaks atau berita palsu tentang ajaran agama bisa membuat orang salah memahami nilai-nilai Islam secara mendalam.(Tahun et al., 2025)
Oleh karena itu, Etika dakwah di media sosial penting agar pesan agama yang disampaikan tetap sesuai ajaran Islam dan diterima dengan baik oleh masyarakat. Pendakwah perlu memastikan informasi yang dibagikan benar dan bersumber jelas, menggunakan bahasa yang sopan, serta menghindari sikap menghakimi. Perbedaan pendapat harus dihargai, dan aib atau identitas seseorang tidak boleh dibuka. Konten visual pun harus sesuai dengan aturan agama dan tidak menimbulkan fitnah. Dakwah di dunia maya sebaiknya dilakukan dengan niat tulus, bukan mencari popularitas, dan disampaikan secara kreatif namun tetap dalam batas syariat. Dengan menjaga etika ini, dakwah digital dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan kebaikan(Islamy, 2021).
Etika merupakan cabang ilmu yang membantu manusia memahami mana tindakan yang layak dilakukan dan mana yang sebaiknya dihindari. Ilmu ini menjelaskan bagaimana seseorang bersikap terhadap orang lain, serta menunjukkan arah dan tujuan yang semestinya dicapai melalui perilaku sehari-hari. Etika pada dasarnya memberikan panduan agar manusia mampu mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, tidak hanya berdasarkan keinginan pribadi, tetapi juga mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan kepentingan bersama.(Hakim, 2024).
Imam Al-Ghazali, misalnya, menegaskan bahwa seorang dai harus memiliki ilmu yang benar, sikap yang lembut, dan niat yang bersih, karena dakwah yang disampaikan tanpa adab justru dapat menyesatkan dan menimbulkan fitnah di tengah masyarakat. Begitu pula Ibn Taimiyah menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan mau’izhah hasanah; jika metode atau sikap pendakwah justru menimbulkan permusuhan, maka dakwah tersebut tidak sesuai dengan tuntunan syariat(Miftah et al., n.d.).
Dalam proses ini, pendakwah diajak untuk terus membangun kualitas dirinya, baik dengan memperdalam pemahaman agama, memperbaiki sikap dalam berinteraksi, maupun lebih cermat memilih informasi yang ingin dibagikan agar tidak menimbulkan salah tafsir. Resolusi etis juga mencakup kemampuan mengelola perasaan, berbicara dengan santun ketika muncul perbedaan pendapat, serta menjaga niat agar tetap ikhlas menyebarkan kebaikan tanpa mengharapkan pujian. Dengan menjalankan langkah-langkah ini, dakwah dapat tersampaikan dengan lebih menyentuh, menenangkan, dan membawa manfaat yang lebih luas bagi sesama(Hamama, 2024).

Leave a Reply