Latar belakang
Masa kepemimpinan setelah Rasulullah SAW wafat disebut dengan khalifah Khulafaur Rasyidin (pemimpin pemimpin yang selalu mendapat petunjuk dari Allah). Tulisan ini ini mengkaji peradaban Islam yang terbentuk dan berkembang pada masa pemerintahan khalifah pertama yaitu sahabat dekat Rasulullah, Abu Bakar As-Shiddiq Ra (11-13 H / 632-634 M). Sebagai pemimpin yang mewarisi tanggung jawab yang dipercayakan oleh kaum musliminin untuk memimpin umat Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, pada masa kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq, beliau dihadapkan pada berbagai macam tantangan, cobaan, dan kekacauan yang mengancam umat Islam. Mulai dari banyaknya kaum muslimin yang murtad (keluar dari agama Islam) , penolakan kewajiban untuk membayar zakat, hingga munculnya orang-orang orang yang mengaku sebagai nabi. Namun, dengan keahlian yang dimiliki Abu Bakar akhirnya gerakan-gerakan yang menentang tersebut dapat dimusnahkan olehnya dengan bantuan para sahabat lainnya sehingga mendapatkan kemenangan yang membawa mereka kembali memeluk agama islam . Meskipun kepemimpinan Abu Bakar berlangsung secara singkat yaitu kurang lebih dua tahun, namun Abu Bakar berhasil menjaga stabilitas umat Islam dan meletakkan dasar-dasar penting bagi perkembangan peradaban.
KAJIAN TEORI
Biografi Abu Bakar As-Shiddiq RA.
Abu Bakar As Shiddiq adalah sahabat utama Nabi yang menjadi salah satu pemeluk Islam awal. Abu Bakar mendapat gelar As Shiddiq karena ia membenarkan Rasulullah dalam banyak peristiwa termasuk ketika Rasulullah Isra’ Mi’raj dan banyak yang tidak percaya, saat itulah Abu Bakar membenarkan peristiwa tersebut (Rahmatullah, 2014).
Nama asli Abu Bakar adalah Abdullah bin Ustman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Ta’im bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fahr al-Qurasy at-Taimi. Abu Bakar As-Siddiq dilahirkan pada tahun ketiga setelah tahun gajah. Ada pula yang berpendapat bahwa dua tahun enam bulan setelah tahun gajah. Intinya Abu Bakar As-Shiddiq lebih muda sedikit dibandingkan Nabi Muhammad SAW, karena Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tahun gajah atau sekitar tahun 570 M. Dengan demikian, Abu Bakar As-Shiddiq dilahirkan sekitar tahun 573 M. Ayahnya bernama bernama Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al-Quraisyi At-Tamimi. Dengan melihat nasab Abu Bakar tersebut maka nasabnya bertemu dengan nasab Nabi Muhammad SAW pada kakek keenam Murrah bin Ka’ab.
Abu Bakar As-Shiddiq merupakan golongan assabiquna al-awwalun yaitu orang-orang yang pertama masuk Islam. Keislaman Abu Bakar As-Shiddiq terjadi setelah pencarian, penyelidikan dan penantian yang lama. Abu Bakar AS-Shdidiq memiliki pengetahuan dan wawasan yang mendalam serta beliau punya relasi yang dekat dengan Nabi Muhammad SAW, dimana Nabi Muhammad SAW mengenalnya sebagai sosok yang baik, ramah, santun dan menjunjung tinggi etika kesopanan. Begitupun sebaliknya Abu Bakar As-Shiddiq mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang baik, jujur, amanah dan berakhlak mulia bahkan dijuluki al-amin. Faktor tersebut menjadi salah satu pemberi motivasi kepada Abu-Bakar untuk menerima dakwah Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah
Abu Bakar Ash Shiddiq wafat pada tanggal 23 Jumadil Akhir Tahun 13H/634M. Abu bakar adalah putra dari keluarga bangsawan yang terhormat di Makkah. Dan ketika Nabi Muhammad SAW mengajak Abu Bakar memeluk agama Islam beliau menjadi Orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan pemuda. Pengabdiannya sangatlah besar Kepada Islam. Ia menyerahkan semua harta miliknya demi kepentingan umat Islam dan selalu Mendampingi Rasulullah SAW dalam melakukan misi Dakwah Islam sampai Rasulullah Wafat.1
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah
Ketika nabi Muhammad wafat, nabi tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat islam setelah beliau wafat. Beliau tampaknya menyerahkna persoalan tersebut pada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama. Setelah beliau wafat dan jenazahnya belum dimakamkan, sejumlah tokoh muhajirin dan anshar berkumpul dibalai kota bani Sa’idah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin.
Musyawarah cukup alot karena masing-masing pihak, baik muhajirin maupun anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat islam. Namun dengan semangat ukhuwah islamiah yang tinggi, akhirnya Abu Bakar terpilih. Rupanya semangat keagamaan Abu Bakar yang tinggi mendapat penghargaan yang tinggi dari umat islam, sehingga masing-masing pihak membaiatnya dan menerima Abu Bakar sebagai khalifah.
Peradaban islam pada masa Abu Bakar As Shiddiq
Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai seorang kepala pemerintahan beliau berpidato yang bunyinya seperti itu sangat menunjukkan bagaimana kepribadian yang dimiliki oleh Abu Bakar. Begitu jujur, baik, bijaksana dan demokratis dalam menjadi seorang pemimpin.
Setelah itu kemudian Abu Bakar memulai kepemimpinannya diawali dengan memberantas nabi-nabi palsu, gerakan kaum murtad, gerakan kaum munafik yang menentang untuk membayar zakat. Gerakan-gerakan ini disebut dengan gerakan anti pemerintah. Munculnya gerakan-gerakan penentang pemerintah ini disebabkan karna banyak dari sebagian masyarakat iri akan keberhasilan yang dicapai oleh Rasulullah SAW dalam mengembangkan agama Islam.
Setelah Abu Bakar berhasil mengontrol stabilitas sosial dan politik juga memberantas gerakan-gerakan kelompok penentang Islam, kemudian Abu Bakar mulai perbaikan dalam bidang keagamaan seperti; pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi Mushaf. Pengumpulan ayat ini dilakukan atas pendapat Umar bin Khatab yang merasakan kekhawatiran akan kehilangan Al-Qur’an karena gugurnya lebih dari 70 sahabat penghafal Al-Qur’an dalam perang memberantas para pembangkang. Maka dari itu diputuskan untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang tertulis pada kulit hewan, pelepah kurma, tulang dan batu sebagai kitab suci Agama Islam
Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya ke dalam satu Mushaf. Untuk dijadikan pedoman bacaan yang disebut dengan Al-Qur’an. Abu Bakar memilih Zaid bin Tsabit dikarenakan ia orang yang memiliki kedudukan qiraa’at, tulisan, pemahaman, kecerdasan nya. Setelah Al-Qur’an terkumpul dan menjadi satu buku lalu diberikan kepada Abu Bakar dan disimpan hingga wafatnya Abu Bakar.
Keberhasilan Kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq
Disimpulkan dari masa pemerintahan yang telah dijalankan dengan Abu Bakar Ash Shiddiq, banyak keberhasilan yang telah dicapainya, yaitu sebagai berikut:
1.Khalifah Abu Bakar melaksanakan keinginan Nabi Muhammad SAW yang belum terlaksana yaitu mengirim pasukan dibawah pimpinan Usamah keperbatasan Syiria. Walaupun banyak dikecam oleh sahabat lainnya karena keadaan negara yang masih labil pada saat itu. Akhirnya masyarakat itu diberangkatkan dalam waktu beberapa hari Usamah kembali dengan membawa kemenangan yang gemilang dari Syiria.
2.Khalifah Abu Bakar dengan keahliannya berhasil dalam menghancurkan gerakan kaum riddat sehingga kaum tersebut dapat dimusnahkan dalam waktu 1 tahun kekuasaan Islam pun telah pulih kembali.
3.Khalifah dengan ketelitiannya dapat menangani orang-orang yang menolak membayar zakat. Beliau memutuskan untuk memberantas dan menundukkan kelompok tersebut dengan serangan yang kuat sehingga mereka menyerah dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.
3.Khalifah Abu bakar berhasil dalam melakukan penyebaran kekuasaan Islam keluar Arabia seperti di persia dan irak.
Pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an dan menjadikan Mushaf. Beliau memerintah dan mempercayai Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat tersebut dan menuliskannya di kulit hewan, daun pelepah kurma, tulang, dan batu. Setelah berhasil dan dikumpulkan kemudian disimpan Abu Bakar sampai akhir hayatnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwasannya, Abu Bakar Ash Shiddiq merupakan seorang pemimpin yang jujur, bijaksana, tegas dan adil. Selama hayat hingga masa-masa menjadi khalifah, Abu Bakar dapat dijadikan teladan dari kesederhanaan, kerendahan hati, kehati-hatian dan kelemah lembutannya saat memiliki jabatan yang tinggi. Dan menjadi seorang pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar dalam berbagai tantangan yang sulit. Dengan Kebijakan yang ditetapkan diteladani dalam menghadapi permasalahan kepemimpinan yang dilakukannya dengan penuh kesabaran, keberanian, dan Doa kepada Allah Swt serta mempererat Ukhuwah Islamiyah agar tercapainya tatanan masyarakat yang damai dan sejahtera.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Baladhuri, Ahmad ibn Yahya. (1988). Futuh Al-Buldan. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.
Al-Thabari, Muhammad ibn Jarir. (1987). Tarikh Al-Rusul wa Al-Muluk. Beirut: Muassasah Al-Risalah.
Burns, J. M. (1978). Leadership. New York: Harper & Row.
Hitti, P. K. (1937). History of the Arabs. London: Macmillan.
Ibn Katsir, Ismail ibn Umar. (1992). Al-Bidayah wa An-Nihayah. Beirut: Dar Ihya’ Al-Turats Al-‘Arabi.
Ibn Khaldun, Abdurrahman. (2000). Muqaddimah Ibn Khaldun (Terjemahan). Jakarta: Pustaka Firdaus.
Shaker, M. (2003). Atlas Sejarah Islam. Jakarta: Kaysa Media.
Watt, W. M. (1956). Muhammad at Medina. Oxford: Clarendon Press.
Yatim, B. (2014). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Zuhri, M. (2011). Sejarah Islam dari Periode Klasik hingga Modern. Yogyakarta: Lesfi.
Tiroma Nur Aini Siregar
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Leave a Reply