Arya Pamungkas
Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan
RisetAnakBangsa.id-Hutan pernah berdiri sebagai doa yang hijau. Akar-akarnya memeluk bumi, daunnya menahan langit agar tak runtuh sekaligus. Di sana, air belajar mengalir dengan sabar, dan manusia hidup tanpa curiga pada musim. Namun kapak datang tanpa mendengar, Mesin pemotong kayu bernyanyi tentang laba, sementara pohon-pohon roboh seperti kalimat yang diputus sebelum selesai. Hutan tidak sempat berpamitan.Yang tersisa hanyalah angka-angka di laporan, angka di meja rapat, angka yang tumbuh dari batang-batang mati. Keuntungan diraup seperti panen, namun ladangnya adalah luka. Alam tidak berteriak ketika disakiti. Ia hanya diam, menyimpan ingatan. * Ia menghafal setiap pohon yang jatuh, setiap tanah yang dikelupas, setiap sungai yang dipersempit oleh keserakahan. Lalu suatu hari, ingatan itu tumpah. Air datang tanpa undangan, tanah meluncur tanpa aba-aba. Banjir dan longsor bukan amarah, melainkan kisah lama yang kembali dibacakan.
Rakyat berdiri di tengah reruntuhan, memungut sisa rumah, mencari perabot yang hanyut Bersama ribuan potongan kayu tanpa akar, mereka tidak pernah ikut menebang, tetapi merekalah yang paling dulu tenggelam. Di sinilah ketidakadilan menemukan wajahnya. Keuntungan tinggal jauh di balik pagar,sementara bencana menetap di dapur rakyat.Yang satu menikmati hasil,yang lain belajar bertahan dari akibat. Filsafat mengajarkan: alam bukan benda mati, ia adalah relasi. Ketika relasi diputus oleh keserakahan, yang lahir bukan kemajuan, melainkan kehancuran yang tertunda. Bencana bukan takdir yang jatuh dari langit. Ia adalah jejak keputusan manusia, ditulis perlahan di tubuh bumi. Setiap pohon yang ditebang tanpa Nurani adalah satu kalimat menuju malapetaka.
“Hutan Ditebang, Keuntungan Diraup, Rakyat Menanggung Bencana” adalah sajak yang terus diulang oleh sejarah, karena manusia terlalu sering lupa bahwa alam bukan warisan untuk dihabiskan, melainkan titipan untuk dijaga. Jika hutan terus dibungkam, maka bencana akan terus berbicara. Dan kelak, yang hilang bukan hanya pepohonan, melainkan masa depan yang tak sempat tumbuh.
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon yang berdiri diam di atas tanah. Ia adalah sistem kehidupan, penyangga air, penjaga keseimbangan, dan ruang hidup bagi manusia maupun makhluk lain. Namun, dalam logika ekonomi yang sempit, hutan sering direduksi menjadi angka-kubik kayu, hektare lahan, dan nilai keuntungan. Di titik inilah tragedi dimulai: ketika hutan ditebang, keuntungan diraup, dan rakyatlah yang menanggung bencana. Keserakahan menjadi motor penggerak utama. Atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, hutan ditebang tanpa mempertimbangkan daya dukung alam. Keuntungan mengalir ke segelintir pihak, sementara kerugian disebar luas kepada masyarakat. Ketika banjir datang, tanah longsor terjadi, dan sumber air rusak, yang menderita bukanlah para pemilik modal, melainkan rakyat kecil yang hidup paling dekat dengan alam.
Bencana, dalam perspektif ini, bukanlah peristiwa alam yang netral atau takdir yang turun dari langit. Ia adalah akibat moral. Alam tidak “membalas dendam”, melainkan merespons perlakuan manusia. Ketika akar pohon yang menahan tanah dicabut, tanah kehilangan penopangnya. Ketika hutan yang menyerap air dihancurkan, air mencari jalan sendiri-dan jalan itu sering kali melewati rumah-rumah warga. Yang paling ironis, rakyat sering kali dipersalahkan atau diminta “beradaptasi” dengan bencana. Mereka diminta menerima banjir sebagai hal biasa, longsor sebagai risiko hidup, dan kekeringan sebagai ujian. Padahal, mereka bukan penyebab utama kerusakan. Mereka adalah korban dari sistem yang lebih besar, di mana keputusan-keputusan penting diambil jauh dari hutan yang ditebang dan kampung yang terendam.
“Hutan Ditebang, Keuntungan Diraup, Rakyat Menanggung Bencana” bukan sekadar judul, melainkan cermin dari pilihan-pilihan yang kita buat sebagai masyarakat. Pertanyaannya bukan lagi apakah bencana akan terjadi?, Melainkan berapa lama kita terus membiarkannya. Selama hutan diperlakukan sebagai komoditas semata dan alam dianggap tak bersuara, rakyat akan terus membayar harga dari keserakahan yang bukan milik mereka. Pada akhirnya, menjaga hutan bukan hanya soal menyelamatkan pohon, tetapi soal menyelamatkan nilai kemanusiaan itu sendiri. Karena ketika alam runtuh, yang ikut runtuh bukan hanya ekosistem, melainkan masa depan bersama.

Leave a Reply