Ahmad Rian Safana

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam  UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

RisetAnakBangsa.id-Pada konteks zaman modern ini, pembahasan mengenai arah kiblat tidak hanya terpaku pada aspek fiqih saja, ilmu-ilmu lain pun turut ikut andil dalam pembahasan arah kiblat, seperti astronomi, matematika, geodesi, dan lain sebagainya sebagai wujud dari perkembangan zaman pula bahwa perhitungan mengenai arah kiblat dapat diselesaikan dengan berbagai metode melalui ilmu sains tersebut, hal ini dikarenakan arah adalah pembahasan mengenai alam, dan alam memiliki banyak konsentrasi dalam berbagai ilmu, jadi permasalahan klasik yang terjadi di dalam fiqh, kini diperjelas dengan adanya ilmu sains tersebut. (Ardliansyah, 2017)

Pada praktiknya, dikenal dua cara menghadap kiblat, yaitu ‘ainul ka’bah (persis mengarah ke bangunan Ka’bah) atau jihatul ka’bah (kirakira mengarah ke Ka’bah tanpa harus persis). Kebanyakan ulama berpendapat ‘ainul ka’bah hanya dituntut jika memungkinkan (misalnya di lokasi Masjidil Haram dan sekitarnya), dan jika tidak jihatul ka’bah dapat dilakukan. Dalam paper penelitian berjudul “Typology jihatul ka’bah on qibla direction of Mosques in Semarang” Ahmad Izzuddin mengemukakan teori toleransi kemelencengan arah kiblat.

Ahmad Izzuddin mengamati bahwa konsep Jihatul Ka’bah, yang berkaitan dengan arah kiblat, memungkinkan toleransi sementara yang lain tidak. Dalam penelitiannya terhadap 15 masjid di Semarang, ia menemukan bahwa lima dari masjid tersebut menunjukkan penyimpangan arah kiblat yang signifikan, berkisar antara 2 hingga 12 derajat. Sebaliknya, sepuluh masjid lainnya berada dalam batas Jihatul Ka’bah yang dapat diterima, dengan penyimpangan tidak melebihi 2°. Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa arah kiblat masjid dapat dianggap dapat diterima selama menyimpang tidak lebih dari 2° dari arah Ka’bah. (Nurqolbi, 2024)

Seperti diketahui, salah satu syarat sah salat adalah menghadap kiblat. Fitur kompas kiblat ini menurut penulis sangat amat membantu bagi pengguna yang memiliki mobilitas tinggi, dan tidak ingin kehilangan keabsahan salat lima waktunya. Fitur kompas arah kiblat sudah ada dalam aplikasi quran kemenag versi 2.1.4 Beta sejak 12 Mei 2020 dan penyusunan nya yang dibuat oleh kementerian agama melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-quran (LPMQ). Konsep arah kiblat yang digunakan dalam pembuatan fitur ini adalah segitiga bola yang mana pada tiga titik yang perlu diketahui yaitu titik kakbah, titik lokasi yang ditentukan arah kiblatnya, dan titik kutub utara. Jika ketiga titik digabungkan, maka akan membentuk garis lengkung pada lingkaran besar. (Akurasi et al., 2022)

Secara umum kompas mempunyai beberapa fungsi utama yaitu untuk mencari arah utara selatan magnetis, untuk mengukur besarnya sudut Kompas, dan untuk mengukur besarnya sudut peta. Arah mata angin yang dapat ditentukan Kompas diantaranya Utara atau North yang disingkat U, barat atau West yang disingkat B, timur atau East yang disingkat T, selatan atau South yang disingkat S, barat laut atau North West, timur laut atau North East, barat daya atau South West, tenggara atau South East. (Ali, 2024)

Dalam konteks ijtihad arah kiblat, sumber keringanan yang relevan adalah takhfif tarkhis, yaitu keringanan karena kondisi yang mengharuskan. Dalam hal arah Kiblat, kewajiban asalnya adalah menghadap ke Ka’bah secara presisi. Artinya Ketika menghadap seluruh badan memang menghadap secara tepat ke bangunan Ka’bah. Kewajiban menghadap ke a in al-Ka’bah (bangunan Ka’bah) ini dapat ditunaikan jika kondisi seseorang berada di dekat Ka’bah dan bisa melihat bangunan Ka’bah sehingga ia bisa menghadap secara tepat. (Badrun Taman, 2023)