RisetAnakBangsa.id-Secara etimologis, istilah i’jaz ) إعجاز ( berasal dari kata kerja a’jaza (أعجاز) yang bermakna melemahkan atau menjadikan pihak lain tidak mampu. Istilah tersebut merupakan bentuk turunan dari kata ‘ajaza (عجز) yang mengandung arti kelemahan atau ketidakmampuan, berbeda dengan kata “qadara” ( قدر) yang merujuk pada kekuatan atau kemampuan. Dalam Kitab Mu’jaz Ulumul Al-Qur’an karya Dawud Al-Athar, istilah i’jaz dijelaskan sebagai sesuatu yang melampaui kapasitas manusia sehingga tidak mampu ditandingi. Sebagai ilustrasi, ungkapan a’jazani al-amru dapat dimaknai sebagai “perkara itu membuatku tidak mampu menghadapinya”, sedangkan frasa a’jaza akhahu menunjukkan kondisi seseorang yang menjadikan saudaranya berada dalam keadaan yang tidak berdaya dalam persoalan tertentu (Cahya, 2024).
Menurut Muhammad Abdul Azim al-Zarqani, secara etimologis i’jaz Al-Qur’an dipahami sebagai penegasan Al-Qur’an atas ketidakmampuan manusia untuk menghadirkan tandingannya melalui tahaddi (tantangan terbuka). Namun, al-Zarqani menekankan bahwa tujuan utama dari pelemahan manusia tersebut bukan sekedar menunjukkan inferioritas kemampuan manusia, melainkan untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi sekaligus membuktikan keautentikan kerasulan Nabi Muhammad saw (Suci Shalwa FauziEra Asria Harahap dkk, 2024).
Esensi konsep i’jaz terletak pada aspek tahaddi yang secara tegas dinyatakan dalam sejumlah ayat Al-Qur’an. Salah satu formulasi yang paling sering dijadikan rujukan terdapat dalam surah Al-Qur’an, tepatnya QS. Al-Baqarah [2]: 23, yang menyatakan bahwa apabila terdapat keraguan terhadap wahyu yang diturunkan, maka para penentang di persilahkan untuk menyusun satu surah yang sebanding dengannya.
Dalam perspektif kajian Islam, ketidakmampuan masyarakat Arab pada masa pewahyuan terutama kalangan penyair dan orator yang dikenal memiliki otoritas tinggi dalam bidang linguistik dan sastra untuk memenuhi tantangan tersebut dipandang sebagai indikator utama kemukjizatan Al-Qur’an. Namun demikian, dalam pendekatan akademik yang lebih kritis, klaim ini tidak hanya dipahami sebagai persoalan superioritas linguistik semata, melainkan juga berkaitan dengan konteks sosial, budaya, religius, dan historis masyarakat Arab abad ke-7. Dengan demikian, diskursus i’jaz tidak sekedar berbicara mengenai ketidakmampuan reproduksi teks, tetapi juga menyangkut konstruksi otoritas wahyu, penerimaan komunitas awal Islam, serta posisi Al-Qur’an sebagai teks yang memiliki pengaruh retoris dan transformasi sosial yang signifikan (Sapa & Sahib, 2025).
Aspek-Aspek kemukjizatan Al-Qur’an
- I’jaz Lughawi
Kemukjizatan bahasa (i’jaz lughawi) Al-Qur’an merupakan salah satu aspek fundamental yang menunjukkan keistimewaan kitab suci tersebut dibandingkan karya sastra manusia. Al-Qur’an memiliki karakter linguistik yang unik dan tidak dapat ditandingi, baik dari segi struktur bahasa, pilihan diksi, maupun kedalaman makna yang dikandungnya. Abdul Razak Naufal, misalnya, menemukan adanya keseimbangan numerik dalam penggunaan kata-kata tertentu dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan pola kebahasaan yang sistematis dan konsisten (Akbar, 2025).
Al-Qur’an menampilkan struktur linguistik yang sangat tinggi dan estetis, sehingga menimbulkan kekaguman dikalangan ahli bahasa dan filolog Arab. Keunikan gaya bahasanya dianggap melampaui standar karya sastra pada umumnya, baik dari segi retorika, pilihan diksi, maupun struktur sintaksisnya. Meskipun tidak dikategorikan sebagai karya sastra dalam pengertian konvensional, Al-Qur’an memiliki pengaruh yang signifikan sebagai rujukan utama dalam perkembangan kesusastraan dan studi linguistik bahasa Arab. Dengan demikian, teks Al-Qur’an kerap dijadikan objek kajian ilmiah dalam analisis stilistika, semantik, dan balaghah karena kekayaan ekspresi bahasa yang kompleks dan sistematis (Fikram & Anis, 2023).
- I’jaz Ilmi
I’jaz Ilmi yang kerap disebut sebagai kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an dari sisi isyarat pengetahuan, merupakan salah satu dimensi baru dalam kajian i’jaz Al-Qur’an. Artinya, aspek ini belum menjadi bahan pembahasan pada masa awal munculnya diskursus tentang i’jaz Al-Qur’an.
Kemunculan istilah kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi isyarat ilmiah memiliki kaitan erat dengan tradisi bercorak ilmiah. Hal penting yang perlu digarisbawahi dalam mengkaji kemukjizatan Al-Qur’an melalui perspektif ini adalah kesadaran bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan, melainkan kitab hidayah yang ditunjukkan bagi umat manusia. Meski demikian, sejumlah ayat Al-Qur’an memuat isyarat-isyarat ilmiah, dan salah satu hikmah dari keberadaan isyarat tersebut adalah untuk menegaskan bahwa Al-Qur’an benar-benar merupakan wahyu allah SWT (Rasyid, M. D., & Reskiani, 2022).
Muhammad Bakar Ismail menegaskan Bahwa i’jaz ilmi dalam Al-Qur’an merupakan kajian tentang aspek kemukjizatan Al-Qur’an yang berfungsi sebagai bukti otentik atas kenabian Muhammad SAW. Mukjizat tersebut dipandang sebagai fenomena luar biasa yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi tantangan bagi siapapun yang meragukan kebenaran risalah beliau (Siregar, 2024).
- I’jaz Goibi
I’jaz ghaibi merupakan salah satu dimensi kejian kemukjizatan yang berhubungan dengan pemberitaan hal-hal gaib, yakni perkara yang tidak mungkin diketahui manusia tanpa adanya wahyu. Para ulama ‘ulumul Al-Qur’an mengembangkan klasifikasi atas bentuk-bentuk ghaibi ini untuk memudahkan analisis metodologis. Secara umum, ghaibi dibagi menjadi tiga kategori utama:
- Ghaib masa lampau (madhi), yaitu informasi tentang peristiwa sejarah umat terdahulu yang tidak dapat deakses melalui pengetahuan biasa
- Ghaib kontemporer (hadir), yakni hal-hal yang sedang berlangsung tetapi tersembunyi dari pengamatan manusia
- Ghaib masa depan (mustaqbal), berupa nubuwah atau prediksi tentang peristiwa yang akan terjadiKlasifikasi ini, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Zarqani (1995) dan Al-Suyuti (2008), memberikan kerangka konseptual yang sistematis dalam memahami aspek kemukzizatan Al-Qur’an (Maulana et al., 2025)
Salah satu dimensi yang sering dikemukakan oleh para ulama adalah aspek ghaybiyyat (berita gaib) dalam Al-Qur’an. Abu Zahra (199) menegaskan bahwa kitab suci ini tidak hanya berfungsi sebagai pedoman spiritual, tetapi juga mengandung nubuwah-prediksi tentang masa depan kisah umat terdahulu, serta peristiwa besar yang menimpa kaum muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad (Nurkhatiqah et al., 2022).
Tantangan Modernitas Terhadap Pemahaman Al-Qur’an
Modernitas dapat dipahami sebagai sesuatu yang bercorak muktahir, sering kali dikaitkan dengan nilai-nilai tradisi maupun kebudayaan Barat. Pada masa pertengahan, gagasan ini menyebar secara global. Modernitas merujuk pada pengetahuan yang tidak sepenuhnya netral terhadap realitas, melainkan sarat dengan konsekuensi negatif serta berkaitan erat dengan manusia dalam konteks kapitalisme, transformasi menuju sekularisasi, dan dinamika kehidupan pascaindustri (Abduh et al., 2025).
Selain itu, Modernisasi juga merupakan proses transformasi menuju pembaruan demi kemajuan diberbagai aspek kehidupan, melalui percepatan pendidikan serta penerapan teknologi. Fenomena ini telah mengubah wajah dunia, dari suram menjadi bercahaya, dari lamban menjadi serba instan, dari tradisional menuju rasional, dari ikatan primodial bergeser kenalar kritis. (Manggala, 2024).
Keseimbangan antara modernitas dan tradisi merupakan tantangan fundamental yang terus dihadapi. Umat Islam dituntut untuk mampu mengintegrasikan kreativitas serta kemajuan teknologi dengan tetap berpijak pada prinsip-prinsip Al-Qur’an dan hadis. Upaya sangat menjadi krusial agar modernitas tidak tercabut dari nilai-nilai tradisional yang esendial (peduli, 2024 sebagaimana dikutip dalam (Abduh et al., 2025))
Eksistensi I’jaz Al-Quran di Era Modern
Ditengah beragam tantangan kontemporer, kemukjizatan Al-Qur’an (i’jaz) tetap menunjukkan data tahannya. Perkembangan ilmu pengetahuan modern justru membuka ruang interpretasi yang lebih luas terhadap kandungan wahyu. Sejumlah penelitiian akademik menyingkap adanya korelasi antara ayat-ayat Al-Qur’an dengan temuan muktahir, khususnya dalam bidang kosmologi,embriologi,dan geologi.
Namun pendekatan kritis menuntut agar kesesuaian tersebut tidak dipahami secara simplistis. Risiko muncul ketika ayat-ayat Al-Qur’an dipaksakan untuk selaras dengan teori ilmiah yang sifatnya tentatif dan dapat berubah. Sejarah menunjukkan bahwa ulama klasik lebih menekankan aspek linguistik, retorika dan kesesuaian dengan sains.
Lalu apa hubungan Era Modern dengan Al-Qur’an? Hubungan antara Era Modern dengan AL-Qur’an dapat di pahami melalui dua dimensi utama, Pengetahuan dan moralitas. Di satu sisi, kemajuan ilmu pengetahuan telah menghasilkan banyak temuan yang memberi manfaat besar bagi dunia. Namun, masih terdapat banyak fenomena yang belum terpecahkan, dan Al-Qur’an berfungsi sebagai sumber inspirasi epsitemologis yang membantu manusia mengurangi misteri kehidupan melalui penelitian ilmiah.
Di sisi lain, mukjizat Al-Qur’an tidak hanya terkait dengan aspek pengetahuan, tetapi juga berperan sebagai petunjuk hidup. Dalam konteks modern, manusia seringkali terjebak dalam kesibukan duniawi, terpukau oleh kecanggihan teknologi, dan lalai terhadap tujuan hidup yang hakiki. Fenomena seperti keterkaitan berlebihan pada gawai dan mudahnya di pengaruhi oleh hal-hal negatif menunjukkan adanya krisis orientasi spritual. Pendekatan kritis terhadap i’jaz Al-Qur’an menuntut kita tidak sekedar mencari legitimasi ilmiah, tetapi juga memahami bagaimana Al-Qur’an membentuk kerangka moral, spiritual, dan sosial yang relevan bagi masyarakat. Dengan demikian, mukjizat Al-Qur’an bukan hanya bukti kebenaran wahyu, tetapi juga sumber inspirasi transformatif bagi pembangunan manusia yang berkelanjutan (Aisiyah et al., 2022).
DAFTAR PUSTAKA
Abduh, M., Rida, R., & Rahman, F. (2025). ISLAM DAN MODERNITAS : DIALEKTIKA AJARAN ISLAM DENGAN TANTANGAN ZAMAN Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam STAIN Majene , Majene , Indonesia Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene , Majene , Indonesia Abstrak Pendahuluan Teori Modernitas adalah. 2.
Aisiyah, A., Kumala, I. Z., Yanti, R., Program, F., Bahasa, S., & Adab, F. (2022). Urgensi Kemukjizatan al-Quran di masa Moden. 3(1), 55–62.
Akbar, S. M. (2025). AL-AFKAR : Journal for Islamic Studies I ’ jaz Al – Qur ’ an : Relevansi I ’ jaz al- ’ Ilmi dengan Perkembangan Pengetahuan Manusia. AL-AFKAR: Journal for Islamic Studies, 8(1), 1732–1748. https://doi.org/10.31943/afkarjournal.v8i1.1351.I
Cahya, R. C. S. (2024). I’jaz al-Qur’an: Menyingkap Kemukjizatan Bahasa, Ilmu Pengetahuan, dan Aspek Ghaib dalam Al-Qur’an. Jurnal Pendidikan Islam, 1(3), 14. https://doi.org/10.47134/pjpi.v1i3.464
Fikram, F., & Anis, A. (2023). Bentuk Ilmiah Kemukjizatan Al-Qur’an. Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir, 4(1), 34–41. https://doi.org/10.62109/ijiat.v4i1.37
Manggala, K. (2024). Upaya Mengetahui Tantangan untuk Memberikan Pemahaman Dan Implementasi Ajaran Al-Qur’an Dan Hadist Dalam Kehidupan Kontemporer. Issn, 2(1), 2986–2434.
Maulana, K., Hidayat, F., Izat, E., Walindo, A., & Walindo, A. (2025). Mumi Fir ‘ aun sebagai Bukti I ‘ jāz Ghaibī : Analisis QS . Yunus [ 10 ]: 92 dan Perspektif Arkeologi. 02(02), 120–126.
Nurkhatiqah, A., Fitri, C., & Rahmatina, D. (2022). Bedah Makna, Unsur Dan Aspek Ijaz Al-Quran. MUSHAF JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis, 2(2), 150–158. https://doi.org/10.54443/mushaf.v2i2.29
Mahrani, N. (2021). I’jaz Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Hikmah, 18(2), 131-149.
Rasyid, M. D., & Reskiani, A. (2022). Memahami kemukjizatan Al-Qur’an (Tinjauan ontologi, epistemologi dan aksiologi). PAPPASANG: Jurnal Studi Alquran-Hadis Dan Pemikiran Islam, 4(1).
Sapa, N. Bin, & Sahib, M. A. (2025). Konsep I ‘ jaz Al – Qur ’ an dan Ragam Manifestasinya : Kajian atas I ‘ jaz Lughawi , Tasyri ‘ i , ‘ Ilmi , dan Ghaibi. 1(4), 420–427.
Siregar, I. (2024). I ‘ jaz Ilmi Pada Ayat-Ayat Al- Qur ’ an. (5), 22–33.
Suci Shalwa FauziEra Asria Harahap dkk. (2024). I ’ Jaz Qur ’ An Menurut Pandangan Ulama Muktazilah. JUTEQ: Jurnal Teologi & Tafsir, 1(6), 292–305.

Rabiatul Adawiyah
Mahasiswa Prodi Teknologi Informasi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Leave a Reply