Pendahuluan

Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu fase terpenting dalam sejarah Islam, mengingat bahwa ini merupakan dinasti terbesar yang berhasil menorehkan kebanggaan yang tiada luput sepanjang masa dalam dunia Islam. Dalam sejarah Islam, Abbasiyah sering dipandang sebagai masa puncak perkembangan segala bidang.

Kehadiran dinasti ini tidak hanya menandai perubahan dinasti politik, tetapi juga perubahan orientasi peradaban Islam ke arah yang lebih kosmopolitan dan intelektual. Baghdad kemudian berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia Islam dan menjadi simbol kejayaan umat Islam pada masa klasik.

Latar Belakang Berdirinya Dinasti Ummayah

Dinasti Umayyah dijatuhkan oleh berbagai gerakan oposisi yang tidak menampakkan kesetujuan terhadap pemerintahan ini. Ada beberapa alasan mengapa pemerintahan Umayyah tidak diakui beberapa kalangan. Salah satunya, yaitu adanya anggapan bahwa yang berhak meneruskan kepemimpinan Rasulullah Saw. adalah keturunan beliau, sehingga muncullah gerakan anti-Umayyah yang sudah dimulai sejak pemerintahan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik (724-743M).
Di antara pihak yang berhasil dalam membangun jaringan oposisi yang cukup luas adalah para keturunan dari paman Nabi Muhammad Saw. yang menjadi pemimpin, yaitu:
1.Abbas bin Abdul Mutallib bin Hasyim
2.Abdullah bin Abbas
3.Ali bin Abdullah
4.Muhammad bin Ali

Sebagian besar pendukungnya adalah kelompok mawali, yaitu umat Islam yang non-Arab, terutama Persia. Layaknya Ali—yang memboyong sekelompok da’i dengan tujuan membina dan menyusun kekuatan di berbagai daerah untuk menjatuhkan Dinasti Umayyah—maka Muhammad Ali pun melakukan propaganda anti-Umayyah melalui bantuan Abu Muslim al-Khurasani. Namun, Ali bin Abdullah meninggal pada tahun 124H/742M yang kemudian kepemimpinan ini digantikan oleh Ibrahim bin Muhammad.

Pada bulan Ramadhan tahun 129H/747M, pemberontakan secara terbuka dilakukan oleh Ibrahim di Khurasan. Tetapi setahun kemudian beliau ditangkap oleh tentara Khalifah Marwan II, sehingga hal ini justru membakar semangat perlawanan yang dipimpin oleh kedua saudaranya, yaitu Abu Abbas dan Abu Ja’far. Setelah kota Kufah telah dikuasai sepenuhnya, Abbu Abbas dilantik menjadi khalifah pertama Dinasti Abbasiyah (750-754M). Kekhalifahan kedua kemudian dikuasai oleh Abu Ja’far (754-775M). Sejak saat itu, kekuasaan Bani Umayyah benar-benar runtuh.

Periode Awal

Sejak runtuhnya dinasti Umayyah, yang diangkat menjadi khalifah pertama adalah Abu Abbas as-Saffah yang terjadi pada tahun 750M atas dukungan utama dari orang-orang Khurasan dan Kufah. Pada saat itu, Abu Abbas dan pengikutnya tidak segan-segan mengeksekusi siapa saja yang menentang pengangkatan ini. Oleh karena itu, dia dikenal sebagai as-Saffah (si penumpah darah). Beliau juga mengeksekusi seluruh anggota keluarga besar khalifah yang terguling serta para pembesarnya, pun meratakan kuburan Bani Umayyah dengan tanah (kecuali kuburan Khalifah Umar bin Abdul Aziz).

Masa pemerintahan Abu Abbas sangat singkat. Meskipun begitu, pemerintahan as-Saffah juga mengalami tekanan dan tantangan. Beberapa dari kalangan Qais di Suriah menolak mengakui pemerintahan as-Saffah dan secara terang-terangan melakukan pemberontakan. Ada juga pemberontak dari kalangan Khurasan. Dalam pandangan mereka, Abbasiyah cenderung tidak memberikan perhatian kepada mereka yang justru telah berjasa dalam memenangkan revolusi. Maka lengkaplah pada masa as-Saffah potensi-potensi ketegangan-ketegangan di kalangan elit politik, seperti Abu Ja’far, Abdullah bin Ali, dan Abu Muslim al-Khurasani.

Periode awal Abbasiyah sangat penting kaena pada masa inilah fondasi kelembagaan dinasti mulai dibentuk. Administrasi pemerintahan diperkuat, sistem keuangan ditata dan hubungan antara pusat dan daerah diatur lebih rapih. As-Saffah meninggal dunia pada tahun 136H/754M, di saat krisis konflik tiga kelompok tersebut sedang berkembang.

Setelah khalifah pertama wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh Abu Ja’far al-Manshur, yang dikenal sebagai pendiri sejati struktur pemerintahan Abbasiyah. Pada masa al-Manshur, Baghdad dibangun sebagai ibu kota baru yang strategis dan megah. Kota ini dirancang menjadi pusat adminstratif, perdagangan dan ilmu pengetahuan yang menghubungkan berbagai wilayah dunia Islam.

Periode Keemasan

Puncak kejayaan Abbasiyah dapat dilihat dengan jelas pada masa kepemimpinan Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun. Pada periode ini, Islam mengalami pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik yang terjaga, dam kehidupan ilmiah yang berkembang pesat. Baghdad menjadi kota yang makmur, intelektual dan ibu kota politik. Perdagangan internasional yang berjalan aktif menjadi pendorong ekonomi yang kuat sehingga dapat menjadi akar penting bagi pengembangan ilmu dan kebudayaan.

Perkembangan ilmu yang didukung penuh oleh para khalifah melalui penerjemahan karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab mampu melahirkan ilmuan besar dalam berbagai disiplin, seperti al-Khawarizmi di bidang matematika, Ibnu Sina dalam kedokteran, Al-Farabi di dunia filsafat, dan Al-Biruni yang menggeluti sisi astronomi. Tokoh-tokoh ini menjadi penggagas bahwa Islam pada masa Abbasiyah bukan hanya mengajarkan tentang ibadah mutlak, melainkan mendorong eksplorasi intelektual yang mendalam.

Ilmu yang mandalam melahirkan kehidupan masyarakat yang lebih terarah, yang ditandai dengan kota Bagdhad dan kota-kota besar lainnya dihidupkan di antara kelompok elite istana, ulama, fuqaha, saudagar, seniman, buruh, petani, dan lain-lain, masing-masing memiliki peran dalam dinamika sosial. Keberagaman ini mementuk budaya urban yang hidup dan terbuka.

Dalam bidang seni dan arsitektur, Abbasiyah meninggalkan warisan penting, seperti masjid, istana, bangunan public dan taman yang dirancang dengan estetika tinggi, sekaligus fungsi sosial yang kuat. Kaligrafi, sastra aran dan seni dekoratif juga turut berkembang pesat.

Perode Kemunduran

Dunia terus berputar, sehingga setiap kejayaan akan selalu mengalami kehancuran. Begitu pula dengan Dinasti Abbasiyah. Melemahnya otoritas pusat akibat konflik internal dan perebutan kekuasaan merupakan di antara kecil penyebab kemunduran dinasti ini. Ketika loyalitas politik mulai pecah, wilayah-wilayah penting di luar Baghdad semakin sulit terkendalikan, seingga muncul banyak dinasti lokal yang secara de facto merdeka, meskipun masih mengakui khalifah secara simbolik.

Tekanan dalam dunia perang dan instabilitas geopolotik pun turun melemamhkankemampuan negara untuk bertahan. Puncak kehancuran terjadi ketika Bagdhdad diserbu oleh pasukan Mongol pada tahun 1258 M. Runtuhnya Dinasti Abbasiyah menjadi pertanda berakhirnya keyaan Islam yang besar dalam sejarah Islam.

Penutup

Sejarah peradaban Dinasti Abbasiyah menjadi bukti bahwa Islam pernah dan mampu menorehkan cerita yang besar dalam mencapai kejayaan melalui dakwah agama yang didukung dengan pandangan akademik, bahwa kemajuan peradaban tidak hanya terlihat pada kekuatan militer, tetapi juga pada kualitas pendidikan, stabilitas ekonomi, politik dan penghargaan terhadap para ulama dan ilmu yang diajarkan.

Daftar Pustaka

Chair, Abd, dkk. Ensikolopedi Dunia Islam.Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

Nasution, Syamruddin. 2013. Sejarah Peradaban Islam. Riau: Yayasan Pustaka Riau.

Yatim, Badri. 1993. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamyah II). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Zakaria, Din Muhammad. 2018. Sejarah Peradaban Islam (Perkenabian hingga Islam di Indonesia). Malang: CV. Intrans Publishing.

Zubaidah, Siti. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Medan: Perdana Publishing.
an Islam. Medan: Perdana Publishing.

Siti Aisyah Humairoh

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab  UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan