RisetAnakBangsa.id-Ketika kelompok Houthi yaman menyerang kapal-kapal komersial dilaut merah pada akhir tahun 2023, ketahanan system energi global diuji. Selama ini dianggap sebagai jalur perdagangan energi global, jalur tersebut menampung sekitar 12% aliran minyak mentah dunia, tiba-tiba berubah menjadi zona konflik aktif.
Disrupsi ini menyoroti pentingnya diversifikasi sumber energi dan ketahanan infrastruktur global. Dengan meningkatkan ketergantungan pada jalur perdagangan tertentu, negara-negara harus mengembangkan strategi yang lebih komprehensif untuk mengurangi risiko dan memastikan stabilitas pasokan energi di masa depan.(Daya et al. 2025)
Latar Belakang Masalah
Dirupsi jalur perdagangan laut merah berdampak pada negara produser maupun pengimpor energi, termasuk memicu kenaikan harga minyak dan menekan pertumbuhan ekonomi global. Kondisi ini menunjukkan adanya dilema keamanan energi, yaitu kebutuhan akan sistem perdagangan energi yang efesien di tengah kerentanan terhadap gangguan pada jalur distribusi utama.(Noricha et al. 2024)
Berdasarkan hal tersebut, esai ini membahas pengaruh disrupsi jalur perdagangan laut merah terhadap rantai pasok minyak mentah dunia serta implikasinya bagi keamanan energi internasional.
Konsep Keamanan Energi Internasional
Salah satu konsep paling kompleks dalam studi hubungan internasional modern adalah keamanan energi. Dalam the quets, Daniel Yergin menggambarkan keamanan energi sebagai kemampuan untuk memastikan pasokan energi yang memadai dengan harga yang wajar tanpa mengorbankan nilai-nilai penting dari kebijakan luar negeri. Sementara itu, internasional energi agency (IEA) menganjurkan kerangka “4A”untuk keamanan energi, yang terdiri dari ketersediaan (ketersediaan sumber daya), aksebilitas (aksebilitas jalur distribusi),kemudahan (keterjangkauan harga) dan penerimaan (penerimaan sosial dan lingkungan).(Nisa, Thamrin, and Saputro 2025)
Keamanan energi dilihat dari perspektif realis hubungan internasional sebagai hasil dari kekuatan negara dan kontrol strategis atas sumber daya. Sebagai bagian dari menghitung kekuatan geopolitik mereka, negara-negara besar bersaing untuk mendapatkan akses ke ladang minyak dan jalur distribusi.(Assoc. Prof. Dr. Ir. Aris Sarjito, Editha Praditya Duarte, and Perwita 2023) Sebaliknya, Robert Keohane dan Joseph NYE menciptakan teori interdependensi liberal yang berpendapat bahwa insentif untuk kerja sama muncul karena ketergantungan mutual pada sistem energi global. Krisis laut merah menunjukkan bahwa kedua perspektif ini saling melengkapi ,ada ketergantungan mutual, tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan dari pihak non-negara yang tidak memiliki kepentingan dalam menjaga stabilitas sistem.(Nikolaus Loy 2020)
Chokepoints maritim sebagai titik kerentanan sistemik
Dalam geografi maritim strategis, titik choke didefinisikan sebagai jalur perairan sempit yang sangat penting karena banyak volume perdagangan yang melewatinya. Dunia mengenal beberapa choke point energi penting, seperti selat hormuz yang mengatur aliran keluar dari teluk persia. Selat malaka yang berfungsi sebagai pintu masuk ke Asia Tenggara. Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan laut merah dengan teluk Aden, dan terusan suez yang menghubungkan samudra Hindia ke laut mediterania.
Faktor utama chokepoint adalah konsentrasi risiko. Semakin banyak volume perdagangan yang terkonsentrasi pada satu jalur, semakin besar efek yang ditimbulkan apabila jalur tersebut terganggu.(Pembatasan et al. n.d.) Selat Bab el-mandeb Di selatan lebar hanya sekitar 29km dan terusan suez di utara membentuk jalur laut merah terusan suez. Jalan alternatif yang mengelilingi tanjung harapan menambahkan jarak sekitar 6.000 hingga 9.000 kilometer. ini berarti waktu tempuh tambahan antara sepuluh hingga lima belas hari dan peningkatan biaya operasional yang signifikan.
Respons internasional dan batas-batasannya
Ada dua cara komunitas global menanggapi. Di sisi militer, operasi prosperity guardian (AS) dan Aspides (US) berhasil menghentikan serangan rudal dan drone yang signifikan, tetapi tidak berhasil mencegah serangan terus-menerus. Selain itu serangan udara yang dilakukan oleh AS dan inggris terhadap infrastruktur houthi di yaman tidak efektif karena kemampuan houthi di yaman tidak efektif karena kemampuan houthi tersebar luas dan menggunakan taktik asimetris yang murah.(Bangkit Adi Saputra 2024)
Dalam hal pasar, respons justru lebih efesiensi. Perusahaan pelayanan mengubah rute mereka, meningkatkan hedging mereka. Kapasitas cadangan yang memberikan keyakinan pasar dipertahankan oleh OPEC. Minyak Rusia yang didiskon adalah pilihan praktis bagi India. Semua ini mengurangi efek jangka pendek, yaitu kerentanan struktural sistem energi dunia terhadap titik tekan geografis.(Opec, Pasar, and Saragih 2026)
Dampak Nyata Disrupsi Terhadap Rantai Pasok
Lebih banyak biaya pengiriman adalah dampak paling langsung. Tarif sewa kapal tanker VLCC untuk rute timur tengah Eropa melonjak antara 60 dan 80 persen dalam beberapa minggu. Premi asuransi perang untuk kapal-kapal dilaut merah telah meningkat dua kali lipat. Karena setiap kapal membutuhkan waktu lebih lama untuk perjalanan, perubahan rute ke tanjung harapan secara efektif mengurangi kapasitas pengiriman global sebesar 10-15 persen armada tanker global.(Resilience et al. 2026)
Beberapa komponen harga minyak Brent crude stok strategis negara konsumen yang memadai, perlambatan permintaan global, dan rekor produksi minyak shale Amerika serikat. Namun ketidakpastian tetap ada, dan setiap peningkatan baru menyebabkan kenaikan harga jangka pendek, yang meningkatkan ketidakpastian investasi dan kebijakan fiskal negara importir, termasuk Indonesia.(Rifka Alkhilyatul Ma’rifat, I Made Suraharta 2024)
Dilema Struktural Kerentanan Sistem Yang Belum Terjawab
Dua kelemahan utama ditampilkan oleh krisis laut merah. Pertama, arsitektur keamanan energi global yang dibangun pasca-1973 dirancang untuk menghadapi gangguan oleh negara-negara produsen, bukan aktor non-negara seperti houthi. Mekanisme IEA, cadangan strategis, dan koordinasi OPEC semua mengasumsikan ancaman dari negara bukan kelompok bersenjata yang menyandera jalur distribusi dengan drone.(Kusuma 2023). Kedua, Semakin meningkatnya fragmentasi geopolitik telah melemahkan efektivitas respons multilateral dalam menghadapi berbagai krisis global. Polarisasi yang terjadi.
Kesimpulan
Laut merah memberi kita pelajaran penting sistem energi dunia, berdiri di atas chokepoints geografis yang secara inheren rentan. Bukan hanya mengirimkan militer, melainkan solusinya yaitu memperbaiki strategis jangka panjang, seperti diversifikasi jalur dan sumber pasokan, penguatan cadangan strategis dengan mekanisme koordinasi yang diperbarui, dan akselerasi transisi ke energi terbaru di dalam negeri untuk kepentingan keamanan nasional.
Krisis saat ini memberikan pengingat bagi Indonesia bahwa ketergantungan pada jalur minyak impor yang rentan merupakan risiko strategis yang sebenarnya. Pengembangan cadangan minyak domestik dan percepatan bauran energi terbarukan merupakan masalah lebih besar daripada masalah lingkungan. Ini adalah masalah kemandirian dan ketahanan energi nasional di era geopolitik yang semakin tidak menentu.
Daftar Pustaka
Assoc. Prof. Dr. Ir. Aris Sarjito, S. T. M. A. P. I. P. U. A. A. E., S. S. M. I. S. M. A. Editha Praditya Duarte, and P. A. A. B. Perwita. 2023. Geopolitik Dan Geostrategi Pertahanan: Tantangan Keamanan Global. Indonesia Emas Group.
Bangkit Adi Saputra. 2024. “Azmi91,+8.+9580-Article+Text-28709-1-11-20240923_323-355.” Jurnal Penelitian Islam 18(2):323–55.
Daya, Pengelolaan Sumber, Energi Terbarukan, Berbasis Komunitas, Ketahanan Energi, Perekonomian Lokal, and Mimi Nurhidayanti. 2025. “Pengelolaan Sumber Daya EnergiTerbarukan Berbasi Komunitas Untuk Ketahanan Energi Dan Perekonomial Lokal.” Jurnal Energi Dan Ketahanan 01(01):26–33.
Kusuma, C. 2023. Strategi Perang Gerilya Di Laut. Penerbit NEM.
Nikolaus Loy. 2020. “Negara, Pasar Dan Keamanan Energi.” Jurnal Studi DIplomasi Dan Keamanan 12(1):1–18.
Nisa, Rizqa Ulya Fakhrun, Suyono Thamrin, and Guntur Eko Saputro. 2025. “Implementasi Integrated Gasification Combined Cycle Sebagai Alternatif Strategis Dalam Mendukung Ketahanan Energi Nasional Di Era Transisi.” Citizen : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia 5(4):1144–52. doi: 10.53866/jimi.v5i4.965.
Noricha, Abellia, Ananta Silalahi, Elita Nurdea, Tiara Ananda, and Kevin Kristiandi. 2024. “Implikasi Ketegangan Houthi – Israel Terhadap Stabilitas Jalur Perdagangan Di Negara Pesisir Laut Merah 2023-2024.” 93–109.
Opec, Anggota, D. I. Pasar, and Hendra Maujana Saragih. 2026. “DAMPAK KRISIS JALUR SELAT HORMUZ TERHADAP KERJA SAMA EKONOMI ANGGOTA OPEC DI PASAR GLOBAL 1 Muhamad Wafa Darmawan, 2 Yasti Octavia Ramadhani, 3.” 4(1):31–45. doi: 10.55719/poligovs.v4i1.2285.
Pembatasan, Implikasi, Global Pada, Jaringan Transportasi, Laut Dan, Logistik Dalam, Perdagangan Internasional, and D. I. Indonesia. n.d. “Jurnal Matemar.” 37–50.
Resilience, Economic, Andi Purnawarman, Firman Menne, and Muhammad Yusuf. 2026. “Konflik AS – Israel Dan Iran Serta Implikasinya Terhadap Stabilitas Ekonomi Global Dan Ketahanan Ekonomi Indonesia.” 26(April):252–66.
Rifka Alkhilyatul Ma’rifat, I Made Suraharta, Iryanto Irvan Jaya. 2024. “Masa Depan Ekonomi Indonesia Di Tengah Perang Dagang Dan Konflik Timur Tengah.” 2:306–12.

Rasda Wati Hutabarat
Mahasiswa Prodi Hukum Tata Negara UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Leave a Reply