Emmi Fauzia Siregar

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

RisetAnakBangsa.id-Saat ini kita sudah memasuki generasi yang biasa kita sebut sebagai gen z. Tanda tanda pada generasi ini adalah sangat akrab dengan teknologi digital, open-minded, mudah beradaptasi, berorientasi pengalaman (bukan asset), butuh perhatian/validasi (via media social), ambisius (achievement- ariented), mencari pengalaman kerja fleksibel (sering side hustle), kritis terhadap isu sosial dan cenderung menunda pencapaian hidup penting karena kondisi ekonomi. Mereka suka hal praktis, instan, cashless, dan sering nongkrong di tempat instagramble.

Ghosting ini merupakan perilaku menghilang secara tiba tiba tanpa penjelasan, umumnya dalam hubungan dekat, yang meninggalkan korban dengan rasa kebingungan, sakit hati, dan perasaan tidak diinginkan, seringkali merusak harga diri serta kepercayaan diri dan bisa berdampak hingga trauma psikologis jangka Panjang, bahkan menunggu aktivitas sehari hari, seperti makan atau konsentrasi, dengan alasan yang beragam dari penghindar hingga tidak mampu berkomunikasi konflik. Dampak emosionalnya mirip penolakan sosial fisik, menyebabkan korban menyalahkan diri sendiri, merasa tidak aman, hingga depresi, sementara pelaku mungkin punya masalah keterikatan atau kurang skill komunikasi, dan cara mengatasinya adalah menerima, tidak menyalahkan diri, mencari dukungan, atau bantuan professional.

Pada generasi ini biasanya ghosting itu memiliki dampak yang sering terjadi pada korbannya seperti, dampak pada psikologis dan emosionalnya dimana, korban akan merasa kebingungan, marah, sedih, merasa ditolak, insecure, bahkan sampai mempertanyakan harga dirinya. Kemudian dampak pada Kesehatan mentalnya Adalah rasa sakit emosional yang mirip sakit fisik, dapat memicu depresi, kecemasan, hingga trauma. Ghosting juga dapat menyebabkan ketidakpercayaan dan keraguan dalam menjalin hubungan baru karena luka lama dan trauma yang ditinggalkan. Lalu korban akan merasa malas beraktivitas, silut berkonsentrasi, dan penurunan produktivitas kerja.

Jadi, bagaimanakah cara mengatasi ghosting tersebut? Untuk menghindari yang namanya ghosting tersebut adalah dengan menerima dan jangan menyalahkan diri karena hal ini lebih mencerminkan kekurangan si pelaku daripada kesalahan diri sendiri. Menghindari menghukum diri sendiri, memberi batasan waktu untuk menunggu kabar, jika tidak ada, anggap hubungan itu berakhir. Kemudian mencari dukungan dari teman atau keluarga yang anda percaya, serta melakukan aktivitas yang disukai, jika merasa kesulitan, jangan ragu untuk mencari bantuan psikolog untuk memproses perasaan, dan jangan sesekali melampiaskannya pada hal hal yang merugikan diri sendiri seperti, meminum alcohol atau obat obat terlarang yang dianggap sebagai pelampiasan sementara.

Nah, apakah dampak yang terjadi pada pelaku ghosting? Jadi dampak ghosting pada pelakunya yang sering terjadi tanpa disadari, meliputi pembiasaan tidak bertanggung jawab, menghindar dari penyelesaian konflik, ketidakmampuan mengelola emosi, serta dapat berakar dari pola asuh atau trauma masa lalu, yang membuatnya sulit menjalin hubungan sehat dan bertanggung jawab di kemudian hari, karena ia terbiasa mengakhiri hubungan secara tiba tiba tanpa kejelasan. Pelaku mungkin merasa lebih nyaman saat itu, akan tetapi pelakunya merusak kemampuan komunikasi dan empati jangka panjang, meski korban yang lebih sering merasakan dampak psikologis langsung.

Mengapa pelaku melakukan ghosting? Ada beberapa hal yang memicu pelaku tersebut melakukan ghosting, diantaranya adalah: Menghindari pertengkaran atau ketidaknyamanan, merasa lebih nyaman menghilang daripada harus menjelaskan, tidak tahu cara mengakhiri hubungan dengan baik, kepribadian menghindar (avoidant personality).

Dampak emosionalnya pelaku akan menghindari konfrontasi yaitu, sering kali tidak tahu cara mengkomunikasikan konflik atau perasaan tidak nyaman, sehingga memilih menghilang sebagai jalan keluar termudah. Ketidakmampuan mengambil tanggung jawab yang membiasakan perilaku untuk tidak bertanggung jawab atas perasaan orang lain dan dampak dari tindakannya. Kurangnya empati yaitu terlalu sering melakukan ghosting dapat mengikis empati, membuat pelaku sulit memahami rasa sakit yang ia timbulkan. Lalu pola asuh dan trauma masa lalu menyebabkan pelaku mungkin memiliki riwayat penolakan orang tua atau pengalaman traumatis yang membuatnya enggan terikat secara emosional.

Apakah dampak jangka panjang ghosting tersebut terhadap suatu hubungan? Jadi ada beberapa dampak yang akan terjadi pada hubungan jika ghosting tersebut berlangsung secara terus menerus yaitu, Hubungan tidak sehat , maksudnya pelaku ghosting cenderung mengulangi pola ghosting dalam hubungan berikutnya, menciptakan siklus hubungan yang dangkal dan tidak stabil. Kesulitan membangun keintiman, yaitu kebiasaan menghindar ini menghambat terbentuknya keintiman dan kepercayaan yang mendalam dengan pasangan.

Maka kita sebagai gen z dapat menghindari hal tersebut dengan cara melakukan follow-up yang professional dalam konteks kerja sama bisnis, pertemanan, perasaan, dan jalinan hubungan, jadilah komunikator yang jujur dan terbuka, meskipun sulit, hindari sikap terlalu posesif atau terlalu jual mahal saat pendekatan (PDKT). Kemudian kita dapat focus pada diri sendiri (self-care) yang dapat mencegah kita terjerat pada situasi ghosting tersebut, atau menghabiskan waktu dengan orang orang terdekat yang peduli pada kita, sehingga dampak tersebut dapat terhindari dan kondisi mental tetap terjaga.