Saprida Hasibuan

Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

RisetAnakBangsa.id-Batang Toru, Tapanuli Selatan Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sepanjang 2025 kembali menegaskan satu fakta pahit: kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru berada dalam kondisi yang semakin rentan. Curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu, namun kerusakan lingkungan dan tata kelola ruang yang lemah memperparah dampak bencana yang harus ditanggung masyarakat. Air bercampur lumpur dan material kayu menerjang permukiman warga, memutus akses jalan, merusak lahan pertanian, serta memaksa ratusan keluarga mengungsi.

Bagi warga Batang Toru, bencana ini bukan sekadar peristiwa alam tahunan, melainkan alarm keras atas krisis ekologis yang kian nyata. Bencana yang Berulang, Dampak yang Kian Parah Banjir bandang dan longsor terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Batang Toru setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam. Sungai Batang Toru meluap, membawa material dari kawasan hulu yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air.

Dalam hitungan menit, air naik hingga setinggi dada orang dewasa di beberapa titik permukiman. Sejumlah rumah warga dilaporkan rusak berat, fasilitas umum seperti jembatan dan jalan desa lumpuh, sementara lahan pertanian sumber penghidupan utama masyarakat—tertutup lumpur dan bebatuan. Aktivitas ekonomi terhenti, sekolah diliburkan, dan pelayanan dasar terganggu.

“Air datang tiba-tiba, suaranya seperti gemuruh. Kami hanya sempat menyelamatkan anak-anak,” ujar salah seorang warga yang rumahnya terdampak banjir bandang.

Data pemerintah daerah menunjukkan bahwa intensitas dan skala kerusakan bencana di Batang Toru cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa bencana terus berulang dengan dampak yang semakin besar?

Hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) Batang Toru dalam Tekanan

Batang Toru dikenal sebagai salah satu kawasan ekologis penting di Sumatera Utara. Wilayah ini merupakan hulu sungai sekaligus habitat keanekaragaman hayati yang bernilai tinggi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fungsi ekologis tersebut mengalami tekanan serius.

Alih fungsi lahan, pembukaan hutan, serta aktivitas ekonomi yang tidak diimbangi dengan prinsip keberlanjutan diduga kuat berkontribusi terhadap menurunnya daya dukung lingkungan. Hutan yang seharusnya menahan air hujan dan mencegah erosi tanah, kini semakin berkurang.

Akibatnya, ketika hujan deras terjadi, air tidak lagi terserap secara optimal. Tanah yang kehilangan vegetasi menjadi mudah longsor, sementara aliran sungai tidak mampu menampung debit air yang meningkat secara drastis.

Pakar lingkungan menilai bahwa banjir bandang di Batang Toru tidak dapat dilihat sebagai bencana alam murni. Ada peran manusia dalam memperbesar risiko dan dampaknya.

“Curah hujan tinggi memang faktor alam, tetapi banjir bandang biasanya berkaitan erat dengan kondisi hulu DAS. Jika hutan rusak dan tata ruang tidak terkendali, bencana menjadi tak terelakkan,” ujar seorang siswa lingkungan dari Sumatera Utara.

Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem

Selain kerusakan lingkungan lokal, perubahan iklim global turut menyehatkan kondisi. Pola cuaca yang semakin tidak menentu menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi terjadi dalam waktu singkat. Fenomena ini meningkatkan potensi banjir bandang, terutama di wilayah dengan kondisi lingkungan yang rapuh.

Batang Toru menjadi contoh nyata bagaimana perubahan iklim memperbesar risiko bencana ekologis di daerah yang secaras sudah tertekan. Kombinasi antara hujan ekstrem dan degradasi lingkungan menciptakan “bencana berlapis” yang sulit dikendalikan.

Kondisi ini mencakup pendekatan penanggulangan bencana yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif dan berkelanjutan.

Dampak Sosial dan Ekonomi Warga

Di balik angka kerusakan dan laporan resmi, terdapat kisah-kisah warga yang harus menghadapi dampak langsung bencana. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, lahan pertanian rusak, dan mata pencaharian terhenti.

Petani yang menggantungkan kehidupan di sawah dan kebun kini harus dimulai dari nol. Lumpur yang mengendap di lahan pertanian membutuhkan waktu dan biaya besar untuk kesejahteraan. Sementara itu, keterbatasan akses dan infrastruktur memperlambat proses bantuan dan pemulihan.

Bagi anak-anak, bencana juga berdampak pada pendidikan dan kesehatan. Sekolah yang rusak atau dijadikan tempat pengungsian membuat proses belajar terganggu. Risiko penyakit meningkat di lokasi pengungsian akibat sanitasi yang terbatas.

“Yang kami takutkan bukan hanya banjirnya, tapi bagaimana hidup setelah ini,” ungkap seorang ibu rumah tangga di lokasi pengungsian.

Tanggapan Pemerintah dan Upaya Penanganan

Pemerintah daerah bersama instansi terkait telah melakukan langkah-langkah tanggap darurat, mulai dari evakuasi warga, pendirian posko pengungsian, hingga penyaluran bantuan logistik. Aparat, relawan, dan masyarakat bahu-membahu membuka akses jalan yang tertutup material longsor.

Namun, banyak pihak menilai bahwa penanganan darurat saja tidak cukup. Diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan lingkungan dan tata ruang di kawasan Batang Toru, khususnya di wilayah hulu DAS.

Koordinasi lintas sektor lingkungan, kehutanan, tata ruang, dan kebencanaanmenjadi kunci untuk mencegah bencana serupa terulang di masa depan.

Antara Pembangunan dan Kelestarian Lingkungan

Kasus Batang Toru mencerminkan dilema klasik antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Di satu sisi, aktivitas ekonomi diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan justru menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar.

Para pemerhati lingkungan menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan yang menempatkan perlindungan hulu DAS sebagai prioritas. Rehabilitasi hutan, penguatan aturan tata ruang, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan harus menjadi agenda utama.

Tanpa langkah serius, Batang Toru berisiko terus berada dalam siklus bencana yang berulang.

Pelajaran dari Batang Toru

Banjir bandang dan longsor 2025 di Batang Toru bukan hanya peristiwa lokal, tetapi cerminan masalah nasional dalam pengelolaan lingkungan dan kebencanaan. Bencana ini mengingatkan bahwa kerusakan ekosistem hulu akan selalu berdampak ke hilir, dan masyarakatlah yang menanggung akibatnya.

Batang Toru kini berada di persimpangan jalan: apakah akan terus berada dalam krisis ekologis, atau menjadikan bencana ini sebagai momentum perubahan menuju pengelolaan lingkungan yang lebih adil dan berkelanjutan.