Latar Masalah
Pengkajian terhadap rekonstruksi historis Islam sering kali terjebak dalam romantisme masa lalu tanpa menyentuh substansi transformasi sosial yang dibawanya. Fenomena ini menimbulkan bias epistemologis di mana generasi Muslim kontemporer mengalami diskoneksi historis dengan akar peradabannya sendiri (Yatim, B 2006). Ketika Islam dipandang sebatas ritus formal tanpa dimensi kebudayaan dan peradaban, terjadi kemandekan berpikir yang berujung pada ketidakmampuan menjawab tantangan modernitas. Masalah fundamental yang muncul ke permukaan adalah kaburnya distingsi serta korelasi antara sejarah, kebudayaan, dan peradaban itu sendiri. Hal ini mengakibatkan analisis terhadap kontribusi Islam global menjadi parsial, sehingga diperlukan sebuah reorientasi konseptual melalui esai opini ini guna mengurai benang kusut pemaknaan dan periodisasi sejarah Islam secara komprehensif.
Data Analisis
Secara etimologis, sejarah yang berasal dari kata syajaratun (pohon) melambangkan pertumbuhan dan kontinuitas, sedangkan dalam perspektif terminologis, sejarah dipahami sebagai rekaman peristiwa masa lampau manusia yang memiliki signifikansi kausalitas (Suryanegara, A. M 2015). Kebudayaan (tsaqafah) merupakan manifestasi dari cipta, rasa, dan karsa manusia yang berakar pada nilai-nilai tauhid, sedangkan peradaban (hadharah) mengacu pada aspek-aspek kebudayaan yang telah mencapai tingkat kemajuan materi, teknologi, sistem sosial, dan arsitektur yang tinggi (Badri, Y 2018). Data historis menunjukkan bahwa signifikansi mempelajari trilogi konseptual ini terletak pada fungsinya sebagai instrumen proyeksi masa depan. Tanpa kesadaran sejarah, masyarakat Muslim akan kehilangan kompas identitas dan memori kolektifnya, padahal sejarah Islam menyimpan data empiris mengenai integrasi multidimensional antara wahyu ketuhanan dan nalar kemanusiaan.
Sejarah memiliki manfaat dan makna penting yang membantu kehidupan manusia. Hal itu terjadi karena sejarah memiliki kemampuan untuk menyimpan atau menyimpan energi yang bisa menciptakan perubahan atau menghasilkan nilai baru yang mendukung perkembangan kehidupan manusia. Memahami sejarah peradaban Islam sangat penting, bukan hanya untuk mengetahui kapan saja suatu peristiwa terjadi dalam masa lampau. Namun juga memahami kenyataan kehidupan orang Islam agar dapat mengenali suatu peristiwa peradaban Islam.
Dengan mempelajari sejarah, kita bisa mengetahui tentang perjalanan peradaban Islam dari masa Rasulullah hingga saat ini, termasuk pertumbuhan, perkembangan, kemajuan, kesuraman, serta bangkitnya kembali peradaban Islam. Dari sejarah dapat dilihat segala sesuatu yang terjadi dalam perkembangan peradaban Islam, termasuk berbagai ide, konsep, konstitusi, sistem, dan cara kerjanya yang terjadi sepanjang waktu. Jadi, sejarah bukan hanya tentang membangun romantisme, tetapi lebih dari itu, sejarah adalah cerminan dari masa lampau.(Din Muhammad Zakariya 2018)
Diskusi Permasalahan
Hubungan antara kebudayaan dan peradaban sering kali memicu perdebatan teoretis yang dinamis. Dalam perspektif sosiologi Islam, kebudayaan digambarkan sebagai substansi internal, ruh, atau sistem nilai yang melandasi sebuah masyarakat, sementara peradaban mewakili bentuk fisik, eksoterik, dan objektifikasi dari nilai-nilai tersebut (Kuntowijoyo 2003). Peradaban tidak dapat berdiri tegak tanpa fondasi kebudayaan yang kokoh; sebaliknya, kebudayaan akan tetap abstrak dan tidak berdampak luas jika tidak mewujud dalam struktur peradaban yang manifes. Kompleksitas hubungan ini terlihat ketika sebuah peradaban megah runtuh akibat kebudayaan moralitasnya yang mendegradasi, yang membuktikan bahwa dialektika antara kedua entitas ini bersifat interdependen dan tidak terpisahkan dalam membentuk arus sejarah Islam.
Analisis
Formasi dan transformasi sejarah Islam secara metodologis diklasifikasikan ke dalam tiga periodisasi utama oleh para sejarawan, yaitu periode klasik (650–1250 M), periode pertengahan (1250–1800 M), dan periode modern (1800 M–sekarang). (Harun Nasution 1985). Pada periode klasik, yang mencakup fase ekspansi, integrasi, dan puncak kejayaan di bawah Daulah Umayyah dan Abbasiah, Islam berhasil mengawinkan teks keagamaan dengan tradisi filsafat serta sains rasional. Periode pertengahan ditandai dengan fase kemunduran akibat disintegrasi politik, diikuti oleh fase tiga kerajaan besar (Utsmani, Safawi, Mughal) yang cenderung menitikberatkan pada konsolidasi militer daripada pemikiran progresif. Sementara itu, periode modern merupakan fase kebangkitan kembali yang dipicu oleh benturan keras (shock) dengan peradaban Barat, memaksa umat Islam melakukan introspeksi dan reformulasi metodologis atas khazanah pemikiran mereka.
Pendapat
Berdasarkan amatan teoretis dan historis di atas, penulis berpendapat bahwa kemunduran peradaban Islam saat ini bukan disebabkan oleh kegagalan nilai Islam itu sendiri, melainkan karena ketidakmampuan umat dalam menerjemahkan nilai kebudayaan yang dinamis menjadi peradaban yang solutif. Periodisasi sejarah mengajarkan kita bahwa kejayaan masa lalu tercapai karena keterbukaan intelektual dan keberanian melakukan sintesis kebudayaan yang inklusif tanpa kehilangan orisinalitas akidah. Oleh karena itu, memahami sejarah, kebudayaan, dan peradaban Islam secara integral harus diletakkan sebagai modal epistemik-kritik, bukan sekadar pelipur lara (apologetik) di tengah ketertinggalan zaman modern.
Saran
Guna merekonstruksi kembali kejayaan tersebut, disarankan agar institusi pendidikan Islam melakukan reformasi kurikulum dengan mengintegrasikan studi sejarah yang berorientasi pada analisis kritis-filosofis, bukan sekadar hafalan tahun dan nama tokoh. Selain itu, para pemikir dan pembuat kebijakan kebudayaan perlu merumuskan strategi kebudayaan baru yang mampu mengonversi spiritualitas Islam menjadi produk peradaban nyata, baik dalam sektor sains, tata kelola sosial, maupun teknologi hijau. Umat Islam juga harus bersikap adaptif namun selektif terhadap perkembangan peradaban Barat kontemporer, mengambil aspek metodologinya yang maslahat, dan membuang implikasi sekularistiknya yang destruktif.
Daftar Pustaka
Badri, Y. 2018. Hadharah Islamiyah: Struktur Komparatif Kebudayaan Dan Peradaban. Pustaka Amany.
Din Muhammad Zakariya. 2018. SEJARAH PERADABAN ISLAM (Prakenabian Hingga Islam Di Indonesia). CV. Intrans Publishing.
Harun Nasution. 1985. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya (Jilid I). UI Press.
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Penelitian Sejarah. Tiara Wacana.
Suryanegara, A. M. 2015. Api Sejarah: Mahakarya Perjuangan Ulama Dan Santri Dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Surya Dinasti.
Yatim, B. 2006. Sejarah Peradaban Islam: Kuliah Sejarah Peradaban Islam. RajaGrafindo Persada.

Suaidah
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Leave a Reply