Latar Belakang
Sejarah Peradaban Islam di Kawasan Persia (Iran) tidak dapat dipisahkan dari kehadiran Kerajaan Safawi yang berkuasa selama lebih dari dua abad, yakni dari tahun 1501 hingga 1736 Masehi. Kerajaan ini lahir dari sebuah gerakan tarekat sufi yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan, Iran. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah yang didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan Daulah Turki Usmani di Asia Kecil. Seiring berjalannya waktu, gerakan yang awalnya bersifat keagamaan ini bertransformasi menjadi kekuatan politik yang tangguh dan berhasil menyatukan wilayah Persia yang sebelumnya terpecah-belah di bawah kekuasaan berbagai dinasti lokal.
Salah satu aspek paling signifikan dari Kerajaan Safawi adalah keputusannya menjadikan Islam Syiah Dua Belas Imam (Itsna `Asyariyah) sebagai mazhab resmi negara. Langkah ini tidak hanya berdampak besar pada dinamika internal Persia, tetapi juga mengubah peta geopolitik dunia Islam secara keseluruhan, terutama dalam konteks persaingannya dengan Kekhalifahan Usmani (Ottoman) yang berhaluan Sunni di Barat dan Kesultanan Mughal di Timur.
Kajian tentang Kerajaan Safawi penting karena keberadaannya memberikan kontribusi besar dalam bidang seni, arsitektur, filsafat, dan ilmu pengetahuan yang menjadi warisan peradaban umat manusia. Selain itu, pemahaman tentang Kerajaan Safawi juga membantu kita memahami akar sejarah dari berbagai dinamika politik dan keagamaan di Kawasan Timur Tengah, khususnya Iran.
Kajian Teori
Dalam mengkaji Kerajaan Safawi, beberapa kerangka teori perlu diperhatikan. Pertama, teori negara Islam (Islamic State Theory) yang dikemukakan oleh para sarjana seperti Wael Hallaq dalam karyanya “The Impossible State” (2013) memberikan landasan untuk memahami bagaimana Kerajaan Safawi membangun legitimasi politiknya berdasarkan otoritas keagamaan.
Kedua, teori identitas keagamaan dan nasionalisme yang dikembangkan oleh Benedict Anderson dalam konsep “komunitas yang dibayangkan” (imagined communities) relevan untuk menganalisis bagaimana Kerajaan Safawi menggunakan Islam Syiah sebagai instrumen pemersatu identitas bangsa Persia.
Ketiga, teori siklus peradaban (civilization cycle theory) Ibn Khaldun dalam Muqaddimahnya menawarkan kerangka analisis yang berguna untuk memahami pasang surut Kerajaan Safawi. Konsep asabiyyah (solidaritas kelompok) yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun dapat menjelaskan mengapa Kerajaan Safawi mampu bangkit dari gerakan sufi yang sederhana menjadi imperium yang kuat, dan kemudian mengalami kemunduran akibat melemahnya solidaritas kelompok.
Kajian Terdahulu
Kajian tentang Kerajaan Safawi telah banyak dilakukan oleh para sejarawan dari berbagai latar belakang. Roger Savory dalam bukunya “Iran Under the Safavids” (1980) merupakan salah satu karya paling komprehensif dalam bahasa Inggris yang membahas Sejarah politik, ekonomi, dan budaya Kerajaan Safawi secara menyeluruh. Savory menekankan pentingnya peran institusi keagamaan dan ulama dalam memperkuat legitimasi kekuasaan Safawi.
Seyyed Hossein Nasr dalam berbagai karyanya termasuk “Islamic Art and Sprituality” (1987), memberikan perspektif mendalam tentang kontribusi intelektual dan spiritual Kerajaan Safawi, khususnya dalam bidang filsafat Islam (Hikmah Muta`aliyah) dan seni tradisional Persia. Nasr berargumen bahwa era Safawi merupakan masa kebangkitan kembali tradisi intelektual Islam yang telah lama mengalami stagnasi.
Di Indonesia, kajian tentang Kerajaan Safawi antara lain dilakukan oleh Badri Yatim dalam “Sejarah Peradaban Islam” (2000). Badri Yatim menempatkan Kerajaan Safawi sebagai salah satu dari tiga Kerajaan besar Islam yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16 hingga abad ke-17.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Sumber data primer dalam penelitian ini meliputi dokumen-dokumen sejarah, kronik kerajaan, dan teks-teks kontemporer era Safawi yang telah diterjemahkan atau dikaji oleh para ahli. Sumber sekunder mencakup buku-buku teks sejarah, artikel jurnal ilmiah, dan karya akademik yang membahas Kerajaan Safawi dari berbagai perspektif.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, yaitu membaca, mencatat, dan menganalisis berbagai sumber kepustakaan yang relevan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis) dan diinterpretasikan secara kritis untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif tentang Kerajan Safawi.
Analisis Dan Pembahasan
Asal-usul dan Berdirinya Kerajaan Safawi
Sebelum menjadi sebuah kerajaan besar, pada awalnya Kerajaan Safawi hanya merupakan gerakan atau aliran tarekat yang didirikan oleh Safi al-Din Ishaq al-Ardabily (1252-1334) di kota Ardabil, Azerbaijan. Tarekat ini dinamakan tarekat Safawiyah yang diambil dari nama pendirinya. Nama tersebut bertahan hingga aliran ini beralih menjadi gerakan politik, bahkan hingga berhasil mendirikan kerajaan. Safi al-Din Adalah seorang sufi yang beraliran Syi`ah. Ia merupakan keturunan dari Imam Syi`ah yang ketujuh, yaitu Musa al-Kazhim. Gurunya bernama Syaikh Taj al-Din Ibrahim Zahid yang dikenal dengan panggilan Zahid al-Gilani sekaligus sebagai mertuanya.
Setelah guru sekaligus mertuanya wafat (1301 M), ia mendirikan tarekat Safawiyah, pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya tarekat Safawiyah bertujuan memerangi orang yang ingkar dan orang yang mereka sebut ahlul bid`ah. Keberadaan tarekat ini semakin penting setelah berubah dari tarekat kecil yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar artinya di Persia, Syiria, dan Anatolia. Di daerah luar Ardabil, Safi al-Din menempatkan wakilnya yang memimpin murid-muridnya yang diberi gelar “khalifah”.
Dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama murid-murid tarekat ini berubah menjadi tantara-tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan mazhab Syi`ah dan menentang setiap orang yang tidak bermazhab Syi`ah. Gerakan Safawiyah selanjutnya bertambah luas dan berkembang sehingga yang pada mulanya hanya gerakan keagamaan saja berkembang dan bertambah menjadi gerakan politik.
Gerakan kepemimpinan Safawiyah selanjutnya berada di tangan Ismail yang saat itu masih berusia tujuh tahun. Dia Bersama pasukannya bermarkas di Gillan selama lima tahun mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan pengikutnya yang berada di Azerbaijan, Syiria, dan Anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu diberi nama “Qizilbasy” (pasukan baret merah).
Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M pasukan Qizilbasy menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu di Sharur dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK Koyunlu dan berhasil merebut dan mendudukinya. Di kota ini, pada tahun 1501 M, Ismail memproklamirkan berdirinya Daulah Safawiyah dan dirinya sebagai raja pertama dengan ibu kotanya Tabriz.
Maka dapat dilihat bahwa dalam tubuh organisasi Safawiyah terjadi perubahan seiring dengan adanya pergantian jabatan. Pada mulanya hanya sebuah organisasi yang mengorganisir anggotanya untuk meniti jalan hidup yang murni di bidang tasawuf. Kemudian berubah menjadi gerakan keagamaan yang sangat berpengaruh di Persia. Selanjutnya di tangan Ismail, telah berubah pula kearah gerakan politik yang berorientasi kepada kekuasaan.
Perkembangan Politik dan Puncak Kejayaan
Perkembangan Kerajaan Safawi tidak selalu berjalan mulus. Pada awal berdirinya, Kerajaan ini menghadapi ancaman serius dari dua kekuatan besar, yaitu Kekhalifahan Ottoman di Barat dan Uzbek di Timur. Pertempuran Chaldiran (1514 M) menjadi ujian berat pertama ketika pasukan Safawi dikalahkan oleh Ottoman yang memiliki persenjataan yang lebih unggul. Meski mengalami kekalahan, Kerajaan Safawi berhasil bertahan dan terus berkembang.
Puncak kejayaan Kerajaan Safawi dicapai pada masa pemerintahan Shah Abbas I (1587-1629 M) yang dikenal sebagai Shah Abbas yang Agung. Ia melakukan berbagai reformasi mendasar seperti, memodernisasi angkatan bersenjata dengan membentuk pasukan baru yang dilengkapi senjata api, memindahkan ibu kota dari Qazvin ke Isfahan yang kemudian dibangun menjadi salah satu kota terindah di dunia, mengembangkan perekonomian melalui perdagangan sutera, dan memperluas wilayah kekuasaan hingga meliputi sebagian besar Persia, Irak, dan Kawasan Kaukasus.
Kontribusi Budaya, Seni, dan Ilmu Pengetahuan
Kerajaan Safawi memberikan kontribusi luar biasa dalam bidang kebudayaan dan peradaban. Isfahan, sebagai ibu kota di bawah pemerintahan Shah Abbas I, dibangun dengan perencanaan kota yang megah. Masjid Imam (dahulu Masjid Shah), Masjid Syaikh Luthfullah, Istana Ali Qapu, dan Jembatan Khaju Adalah Sebagian warisan arsitektur Safawi yang kini menjadi situs warisan dunia.
Dalam bidang filsafat dan intelektual, era Safawi melahirkan para pemikir besar seperti Mulla Sadra (1572-1640), pendiri aliran filsafat Al-Hikmah Al-Muta`Aliyah (Kebijakan Transenden), yang sintesis pemikirannya antara filsafat peripatetik, iluminasionisme, dan mistisisme Islam dianggap sebagai salah satu pencapaian tertinggi filsafat Islam. Selain itu, Syeikh Baha`I dan Mir Damad adalah tokoh-tokoh intelektual terkemuka lainnya yang berkembang pada era ini.
Seni miniatur Persia, permadani (karpet Persia), kerajinan logam, keramik, dan tekstil mencapai kemajuan pesat pada era Safawi. Karpet-karpet Safawi, yang sering disebut sebagai karpet Isfahan atau Tabriz, diakui sebagai karya seni tertinggi dalam tradisi pembuatan karpet dan masih sangat dihargai di pasar seni dunia hingga saat ini.
Kemunduran dan Keruntuhan Kerajaan Safawi
Setelah kematian Shah Abbas I pada tahun 1629 M, Kerajaan Safawi mulai mengalami kemunduran bertahap. Para penerusnya umumnya lemah dan tidak mampu mempertahankan pencapaian yang telah diraih. Seperti Sultan Safi Mirza, ia adalah pemimpin yang lemah dan sangat kejam kepada pembesar-pembesar kerajaan, sehingga pemerintahannya menurun secara drastis. Kota Kandahar (sekarang termasuk wilayah Afghanistan) lepas dari kekuasaan Daulah Safawiyah direbut oleh Daulah Mughal yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Syah Jehan yang tidak dapat mempertahankan kekuasannya.
Sementara itu Abbas II adalah Sultan yang suka minum minuman keras sehingga jatuh sakit dan meninggal dunia, Sulaiman juga seorang pemabuk dan bertindak kejam kepada para pembesar Daulahnya yang dicurigainya. Konflik internal, pemberontakan suku-suku nomaden, tekanan dari Ottoman dan Mughal, serta melemahnya angkatan bersenjata juga menjadi faktor-faktor utama yang menpercepat kemunduran.
Keruntuhan total terjadi pada tahun 1772 M ketika pasukan Afghan dari suku Ghilzai di bawah pimpinan Mir Mahmud berhasil merebut Isfahan setelah pengepungan panjang. Meski ada upaya pemulihan oleh Nadir Shah Afshar yang berhasil mengusir Afghan dan merebut kembali Isfahan, kekuasaan Safawi secara resmi berakhir pada tahun 1736 M ketika Nadir Shah mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa baru Persia.
Kesimpulan
Kerajaan Safawi merupakan salah satu entitas politik-keagamaan paling berpengaruh dalam Sejarah Islam dan peradaban dunia. Dari asal-usulnya sebagai gerakan sufi yang sederhana, kerajaan ini berkembang menjadi imperium yang megah dan memberikan kontribusi tak ternilai dalam bidang politik, agama, seni, arsitektur, dan filsafat.
Keputusan untuk menjadikan Islam Syi`ah sebagai agama resmi negara bukan hanya membentuk identitas religious bangsa Persia, tetapi juga mengubah peta geopolitik dunia Islam secara fundamental. Persaingan Safawi dengan Ottoman yang selama berlangsung berabad-abad telah meninggalkan bekas mendalam yang masih terasa dalam dinamika Sunni-Syi`ah di dunia Islam kontemporer.
Puncak kejayaan di bawah pimpinan Shah Abbas I membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang visioner, reformasi sitematis, dan dukungan terhadap seni dan ilmu pengetahuan, sebuah peradaban dapat mencapai ketinggian yang luar biasa. Warisan Kerajaan Safawi berupa karya-karya arsitektur, filsafat, dan seni yang agung tetap menjadi bagian penting dari kekayaan peradaban umat manusia, dan terus menjadi objek kajian yang relevan bagi para peneliti dan akademisi di seluruh dunia.
Daftar Pustaka
Babaie, S., Babayan, K., Baghdiantz-McCabe, I., & Farhad, M. (2004). Slaves of the Shah: New Elites of Safavid Iran. London: I.B. Tauri
Desky, H. (2016). Kerajaan Safawi Di Persia dan Mughal Di India: Asal Usul, Kemajuan dan Kehancuran. Tasamuh: Jurnal Studi Islam, 8(1), 121-141.
Khaldun, I. (2000). Muqaddimah: Pengantar Sejarah (Terjemahan). Jakarta: Pustaka Firdaus.
Mulyani, S. (2018). Sejarah dan Peradaban Islam Dinasti Safawi di Persia. Al-Manba, 7(13), 92-101.
Nasr, S. H. (1987). Islamic Art and Spirituality. Albany: State University of New York Press.
Nasution, S. (2013). Sejarah Peradaban Islam. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau.
Newman, A. J. (2006). Safavid Iran: Rebirth of a Persian Empire. London: I.B. Tauris.
Savory, R. (1980). Iran Under the Safavids. Cambridge: Cambridge University Press.
Yatim, B. (2000). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Sofia Tanjung
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Leave a Reply