Pendahuluan

Pemerintahan Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Al-Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Khalifah pertama dinasti ini adalah Abdullah al-Asaffah yang merupakan keturunanNabi Muhammad SAW melalui garis keturunannya. Dinasti ini berkuasa selama lima abad, yaitu pada tahun 132-656 Hijriyah (750-1258 M). Pada keluarga Bani Hasyim (Alawiyah), hak memerintah setelah wafatnya Nabi hanya dimiliki oleh keturunannya. Pemerintahan dinasti Abbasiyah berkembang seiring berjalannya waktu sebagai respons terhadap perubahan politik, sosial, dan budaya.

Pada fase awalnya, pemerintahan Abbasiyah mengalami masa keemasan yang berkembang pesat. Para khalifah memegang kekuasaan politik yang signifikan dan dipandang sebagai pemimpin politik dan agama. Selain itu, mereka memainkan peran penting dalam17|Al-Ibrah|Vol. 9 No. 1 Juni 2024 meletakkan dasar bagi kemajuan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Masa pemerintahan Abu Al-Abbas yang berlangsung pada tahun 750 hingga 754 M relatif singkat. Kota Bagdad yang akhirnya menjadi pusat utama peradaban Islam memiliki sejarah panjang sebelum kedatangan Islam. Referensi mengenai kota ini dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen yang berasal dari masa pemerintahan Raja Hammurabi dari Babilonia pada abad ke-18 SM. Dihuni manusia sejak 4000 SM, Bagdad pernah menjadi bagian dari kerajaan Babilonia kuno dan kemudian dikuasai oleh berbagai kerajaan termasuk Persia, Yunani, dan Romawi. Setelah penyebaran Islam, orang-orang Arab mendominasi kota dan wilayah sekitarnya, dominasi yang berlanjut hingga hari ini.2

Metode Penelitian

Kajian ini memanfaatkan kajian pustaka hingga pengkajiannya termasuk pengkajian literatur. Metode penelitian yang di pakai dipengkajian ini yaitu metode pengkajian sejarah. Metode ini memanfaatkan empat tahapan, yakni heuristic (pengumpulan data), pengumpulan data di laksanakan di perpustakaan UIN Syahada, Perpustakaan Daerah, dan Perpustakaan lain, terkhususnya yang menyangkut dengan Daulah Abbasiyah. Tahap berikutnya yakni verifikasi data ataupun kritik sumber. Pada hal ini diuji perihal keaslian sumber (otentisitas) yang di laksanakan lewat kritik ekstern, serta keabsahannya perihal kebenaran sumber (kredibilitas) yang ditelusuri lewat kritik intern.

Pada tahap ketiga dari proses penelitian, yang dikenal sebagai interpretasi, peneliti menggali analisis menyeluruh terhadap sumber-sumber yang dikumpulkan untuk mengembangkan sintesis komprehensif yang menjawab masalah inti yang ada. Dalam mengkaji wacana dampak Pemerintahan Daulah Abbasiyah terhadap Peradaban Islam di Bagdad periode 750-1258 M, para ulama menerapkan teori peran yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto dengan perspektif sosial politik. Analisis kritis ini memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika kompleks yang terjadi selama periode penting dalam sejarah ini. Fase penutup melibatkan tahap historiografi, di mana sejarawan dengan cermat menyajikan data sejarah yang dikumpulkan. Dengan menggunakan fakta-fakta ini, sejarawan membangun narasi yang terperinci dan tidak memihak yang menghubungkan berbagai peristiwa sejarah. Tahap ini menunjukkan puncak dari proses ketat dalam mencari, mengkritisi, dan menafsirkan informasi, disajikan dalam cara yang terstandarisasi, deskriptif-analitis, dan kronologis, dengan narasi yang disusun dalam beberapa bab dan sub-bab.

Pembentukan Pemerintahan

Sejak Umar bin Abdul Aziz mengambil alih jabatan khalifah ke-8 Dinasti Bani Umayyah pada tahun 717 M, gerakan perlawanan bermunculan dengan tujuan untuk menggulingkan rezim yang berkuasa. Gerakan ini dipimpin oleh Ali bin Abdullah, cucu Abbas bin Abdul Muthalib yang merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Kelompok ini terdiri dari anggota Sunni yang berhasil membentuk aliansi dengan rekan-rekan Syiah karena mereka memiliki garis keturunan yang sama dari suku Bani Hasyim.

Kedua faksi tersebut di atas juga menjalin aliansi dengan Persia karena kelalaian yang mereka hadapi dari Dinasti Umayyah dalam hal dukungan politik, ekonomi, dan sosial. Meskipun peradaban mereka sudah mapan, bangsa Persia mencari bantuan dari kelompok-kelompok ini untuk mengatasi keluhan mereka dan memperbaiki situasi mereka secara keseluruhan.

Kekuasaan Dinasti Abbasiyah diyakini didirikan oleh Al-Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Khalifah pertama dinasti ini adalah Abdullah Ash-Shaffah, yang merupakan keturunan Muhammad melalui cucunya Ali dan cicitnya Abbas. Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 750 M oleh Abu Abbas Ashsaffah dan bertahan selama lima abad, dengan Abdullah Ash-Shaffah menjabat sebagai khalifah pertama pada tahun 132 H hingga 656 H. (750 M-1258 M).

Sebelum berdirinya Dinasti Abbasiyah, terdapat tiga titik fokus utama yang menjadi pusat pengaruh, yang masing-masing memainkan peran unik dalam menopang kekuasaan keluarga besar paman Rasulullah, Abbas bin Abdul Muthalib. Pusat-pusat kegiatan yang diberi nama Humaimah, Kufah, dan Khurasan ini berperan penting dalam memantapkan kewibawaan garis keturunan Abbasiyah.
Tujuan utama aliansi ini adalah untuk menegaskan dominasi Bani Hasyim dengan menggulingkan kekuasaan kekuasaan Bani Umayyah. Untuk mencapai misi ini, mereka secara strategis mengeksploitasi kelemahan dan kekurangan pemerintahan Bani Umayyah.

Mereka secara strategis memilih dan mengerahkan para propagandis ke wilayah-wilayah dengan populasi non-Arab, dengan tujuan menyebarkan dua tema utama propaganda. Tema pertama, Al-Musawan, mengedepankan kesetaraan status, sedangkan tema kedua, Al-Ishlah,menekankan perlunya menyelaraskan kembali ajaran Al-Qur’an dan Hadits.
Tema awal ini mempunyai daya tarik yang besar bagi umat Islam non-Arab karena kurangnya perhatian dan dukungan yang mereka terima dari Daulah Umayyah dalam berbagai aspek seperti politik, kemasyarakatan, dan ekonomi. Di sisi lain, tema kedua menarik perhatian banyak ulama Sunni karena melihat adanya penyimpangan terhadap ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang dilakukan oleh Khalifah Daulah Bani Umayyah. Perbedaan dari prinsip-prinsip Islam ini telah memicu kajian kritis dan diskusi dalam komunitas ilmiah.

Awalnya, kelompok ini beroperasi secara rahasia, namun ketika Ibrahim bin Muhammad mengambil alih aliansi tersebut, tindakan mereka menjadi lebih terbuka. Pergeseran ini terjadi ketika mereka mendapat pengakuan luas, khususnya di wilayah Khurasan yang merupakan tempat tinggal banyak Muslim non-Arab. Gerakan ini juga mendapat dorongan dengan penambahan pemimpin militer berbakat, Abu Muslim Al-Khurasany, ke dalam barisan mereka.

Dia adalah seorang budak yang dibeli oleh Muhammad, ayah Ibrahim, dan dilatih serta dididik oleh Muhammad sebelum tinggal bersama Ibrahim. Ibrahim kemudian mengirimnya kembali ke tanah airnya sebagai seorang propagandis, di mana dia diterima dengan hangat oleh penduduk setempat. Ia kemudian membentuk kekuatan militer tangguh yang terdiri dari 2.200 prajurit infanteri dan 57 prajurit kavaleri.

Pemimpin Daulat Bani Umayyah berhasil menangkap Ibrahim dan selanjutnya mengeksekusinya. Setelah itu, pemimpin aliansi digantikan oleh saudaranya Abdul Abbas, yang akhirnya naik ke posisi khalifah pertama Daulah Abbasiyah.
Abdul Abbas merelokasi basis operasinya ke Kufah dan bersembunyi. Pada saat yang sama, Abu Muslim menginstruksikan komandan kepercayaannya, Qutaibah bin Syahib, untuk merebut Kufah. Saat Qutaibah bergerak menuju Kufah, pasukannya bentrok dengan pasukan Umayyah Daula di Karbela, sehingga terjadi pertempuran yang brutal dan intens. Meski menghadapi kesulitan, Qutaibah muncul sebagai pemenang dalam konflik tersebut. Tragisnya, dia akhirnya menyerah pada luka-lukanya dan meninggal dunia.

Periodisasi Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah melewati dua fase berbeda selama pemerintahannya – fase pertama ditandai dengan persatuan dan kohesi, dan fase lainnya ditandai dengan perpecahan dan kemunduran. Fase-fase ini selanjutnya dapat dipecah menjadi lima periode berbeda.

Pertama, Masa integrasi yang ditandai dengan pengaruh besar Persia ini berlangsung sejak masa pemerintahan Khalifah pertama Abu Abbas Al-Safah pada tahun 750 M hingga berakhirnya masa pemerintahan Al-Watsiq pada tahun 847 M. Era ini, yang sering disebut sebagai puncak Daulah Abbasiyah, menyaksikan Persia memberikan pengaruh yang kuat terhadap kesultanan.

a.Diawali dengan tangan besi. Pada masa awal Dinasti Abbasiyah, fokus pada perluasan wilayah tetap menjadi prioritas utama. Antara tahun 775 dan 785, Bani Abbasiyah berhasil memperluas pengaruhnya dengan mendirikan benteng di berbagai wilayah Asia, termasuk Malatia, wilayah Coppadocia, bahkan hingga mencapai Sisilia. Di utara, pasukan militer mereka melintasi pegunungan Taurus dan maju menuju Selat Bosphorus. Sebuah perjanjian perdamaian sementara (755-765) dinegosiasikan dengan Kaisar Konstantinus V dari Kekaisaran Bizantium, yang mengakibatkan upeti tahunan dibayarkan oleh Bizantium. Selain itu, tentara Abbasiyah terlibat dalam konflik dengan pasukan Turki Khazar di wilayah seperti Kaukasus, Daylalmi, dan Laut Kaspia, serta menghadapi lawan Turki di berbagai wilayah Oskus.

b.Pergeseran Kebijakan. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid dan putranya Al-Ma’mun, reputasi dan pengaruh Daulat berkembang secara signifikan. Berbeda dengan penguasa Bani Umayyah sebelumnya yang mengutamakan perluasan wilayah, para pemimpin Abbasiyah berkonsentrasi pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam. Pergeseran fokus ini menyebabkan pemisahan bertahap provinsi provinsi terpencil di pinggiran kekaisaran.

Kedua, adalah Periode tahun 847-932 M ditandai dengan kemunduran Daulah Abbasiyah secara bertahap akibat tekanan yang kuat dari bangsa Turki, dimulai pada masa khalifah Al-Mutawakkil dan berlanjut hingga masa pemerintahan Al-Mustaqi pada tahun 940-944 M. Turki merebut kekuasaan dengan cepat setelah kematian Al-Mutawakkil dan memilih sendiri khalifah sesuai keinginan mereka, sehingga mengurangi otoritas Bani Abbasiyah meskipun kepemimpinan mereka hanya nominal. Upaya untuk melawan kendali militer Turki terbukti tidak berhasil, yang menyebabkan kembalinya Baghdad sebagai ibu kota pada tahun 892 M dan pergeseran yang terus berlanjut dalam upaya intelektual.

Ketiga, Masa pemerintahan Bani Buwaihi dari masa pemerintahan Khalifah Al-Mustaqfi hingga Khalifah Al-Kasim ditandai dengan Bani Buwaihi yang melakukan tekanan terhadap kemunduran pemerintahan Abbasiyah. Pada masa ini, Daulah Abbasiyah berada di bawah kendali Bani Buwaihi yang Syiah, sehingga melemahkan posisi kekhalifahan. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, khalifah tidak lagi sekedar menjadi pelayan yang menjalankan perintah dan menerima gaji, melainkan menghadapi tantangan yang lebih besar akibat perbedaan agama dengan Bani Buwaihi yang berkuasa. Tiga bersaudara Bani Buwaihi, Ali, Hasan, dan Ahmad, masing-masing menguasai wilayah yang berbeda, dan sebagai akibatnya Bagdad kehilangan statusnya sebagai pusat otoritas Islam. Ali menguasai Persia selatan, Hasan menguasai utara, dan Ahmad mengawasi Al-Ahwaz, Wasit, dan Bagdad.

Keempat, Periode Turki Seljuk dari tahun 1075 hingga 1258 M, mulai dari Khalifah Al-Muktadi hingga khalifah terakhir, Khalifah Al-Muktasim, ditandai dengan pengaruh signifikan Turki Seljuk dalam pemerintahan hingga diakhiri oleh invasi Mongol. . Era ini dimulai ketika Bani Seljuk mengambil alih kendali atas Daulah Abbasiyah, dengan tujuan mengekang kekuasaan Buwaihi Bani di Bagdad.

Kekhalifahan mengalami kemajuan pada masa ini, terutama dengan bangkitnya kembali otoritas keagamaan Syiah. Perkembangan yang menonjol antara lain didirikannya Madrasah Nizhamiyah oleh Nizham Al-Mulk di berbagai kota di Irak dan Khurasan, yang melahirkan banyak ulama ternama di berbagai bidang seperti tafsir, teologi, ilmu kalam, dan tasawuf. Ulama seperti Al-Zamakhsyari, Al-Qusyairi, dan Al-Ghazali muncul dari periode ini, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap disiplin ilmu masing-masing.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Dinasti Abbasiyah, yang memerintah selama total lima ratus delapan tahun di bawah kepemimpinan 37 khalifah yang berbeda, menyaksikan peralihan kekuasaan dari satu peradaban ke peradaban lainnya. Transisi otoritas ini menandai periode perubahan signifikan dalam pemerintahan dan pengaruh dinasti tersebut.

Penutupan

Kajian ini menggali dampak signifikan pemerintahan Abbasiyah terhadap perkembangan kebudayaan Islam di Bagdad pada periode 750 hingga 1258 Masehi. Melalui metode administratif yang efektif dan kebijakan yang menguntungkan, penguasa Abbasiyah memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan intelektual dan ekonomi dalam peradaban Islam. Dengan membina kolaborasi dengan individu-individu Persia, pemerintahan Abbasiyah tidak hanya meningkatkan kekuatannya tetapi juga memainkan peran penting dalam memajukan sastra dan ilmu pengetahuan, menunjukkan pentingnya keragaman dan inklusivitas budaya.

Daftar Pustaka

Abdurrahman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.
Ahmad, Jamil. Seratus Muslim Terkemuka. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997.
Dainori. “Disintegrasi Dinasti Abbasiyah.” Jurnal Keislaman, Pendidikan, Dan Ekonomi 4, no. 1 (2019).
Hasan, Hasan Ibrahim. Sejarah Dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang, 1989.
Hitti, Philip K. History of The Arabs. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008.
Mahmudunnasir, Syed. Islam Konsepsi Dan Sejarahnya. Bandung: Rosda Bandung, 1988.
Pulunga, Suyuthi. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah, 2018.
Rahman, Yusuf. Sejarah Kebudayaan ISlam. Pekanbaru: IAIN Suska, 1987.
So’yb, Joesoef. Sejarah Daulah Abbasiyah. Jakarta: Bulan Bintang, 1977.
Tim Penulis. Sejarah Dan Kebudayaan Islam. Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1982.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.
———. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers, 2015. Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers, 2015.

Nur Jamiah 

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab  UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan