RsietAnakBangsa.id-Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad sebagai pedoman hidup manusia. Keaslian Al-Qur’an tetap terjaga hingga sekarang, baik dari segi bacaan maupun penulisannya. Salah satu bentuk penjagaan tersebut adalah adanya kaidah penulisan Al-Qur’an yang dikenal dengan istilah Rasm Al-Qur’an atau Rasm Utsmani.
Rasm Al-Qur’an berbeda dengan tulisan Arab biasa karena memiliki aturan khusus yang bertujuan menjaga keaslian bacaan Al-Qur’an sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Dengan adanya kaidah rasm Al-Qur’an tetap terjaga kemurniannya hingga sekarang.
Rasm Al-Qur’an adalah aturan khusus dalam penulisan mushaf Al-Qur’an yang telah digunakan sejak masa Khalifah Utsman bin Affan. Penulisan ini berbeda dengan tulisan Arab biasa karena memiliki kaidah tertentu yang bertujuan menjaga kemurnian Al-Qur’an sesuai dengan bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Mempelajari kaidah Rasm Al-Qur’an sangat penting agar umat Islam memahami Sejarah penulisan Al-Qur’an, cara menjaga keasliannya, dan hikmah besar di balik aturan tersebut.
Pengertian Rasm Al-Qur’an
Secara bahasa, kata rasm berarti tulisan atau pola penulisan. Sedangkan menurut istilah, Rasm Al-Qur’an adalah tata cara penulisan lafaz-lafaz Al-Qur’an yang digunakan dalam mushaf yang ditulis pada masa Utsman bin Affan.
Rasm ini disebut juga Rasm Utsmani karena penulisannya dilakukan atas perintah Khalifah Utsman untuk menyeragamkan mushaf Al-Qur’an di seluruh wilayah Islam. Tujuannya agar tidak terjadi perbedaan penulisan dan bacaan di kalangan umat Islam.
Pada masa itu, Islam berkembang sangat luas hingga ke berbagai daerah. Setiap daerah memiliki dialog dan cara membaca yang berbeda. Oleh sebab itu, Khalifah Utsman membentuk tim penulis Al-Qur’an untuk menyusun mushaf standar yang kemudian disebarkan ke berbagai wilayah.
Sejarah Singkat Rasm Al-Qur’an
Pada masa Nabi Muhammad, Al-Qur’an ditulis di berbagai media seperti pelepah kurma, batu, kulit hewan, dan tulang. Penulisan dilakukan oleh para sahabat penulis wahyu.
Setelah Rasulullah wafat, pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Al-Qur’an mulai dikumpulkan menjadi satu mushaf karena banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam peperangan.
Kemudian pada masa Utsman bin Affan, mushaf disalin dan diseragamkan agar umat Islam memiliki pedoman penulisan yang sama. Dari sinilah lahir Mushaf Utsmani yang menjadi dasar mushaf Al-Qur’an hingga sekarang.
Kaidah-Kaidah Rasm Al-Qur’an
Al-Hadzf (الحذف) – Penghapusan Huruf
Al-Hadzf adalah kaidah menghilangkan huruf tertentu dalam penulisan mushaf, walaupun huruf tersebut tetap dibaca.
Beberapa kata dalam Al-Qur’an ditulis tanpa huruf alif tertentu. Tujuannya menyesuaikan tradisi tulisan Arab pada masa awal Islam dan mempermudah penulisan mushaf.
Az-Ziyadah (الزيادة) – Penambahan Huruf
Az-Ziyadah adalah penambahan huruf tertentu dalam penulisan kata Al-Qur’an. Penambahan huruf alif atau wau dalam beberapa lafaz tertentu. Tujuannya menjelaskan makna bacaan dan menyesuaikan beberapa qira’at.
Al-Badal (البدل) – Penggantian Huruf
Al-Badal adalah mengganti suatu huruf dengan huruf lain dalam penulisan. Huruf alif terkadang ditulis dengan huruf ya’ atau wau. Tujuannya menyesuaikan bentuk bacaan tertentu dan menjaga kesesuaian dengan qira’at yang sahih.
Al-Washl wal Fashl (الوصل والفصل)
Kaidah ini mengatur kapan suatu kata ditulis bersambung dan kapan dipisah. Ada lafaz yang ditulis menyambung meskipun terdiri dari dua kata. Ada pula yang dipisahkan untuk memperjelas makna. Tujuannya memudahkan pembacaan dan menjaga pemahaman terhadap ayat.
Penulisan Hamzah
Hamzah dalam Rasm Al-Qur’an memiliki aturan tersendiri berdasarkan letaknya di awal, tengah, atau akhir kata.
Contoh:
Hamzah dapat ditulis di atas alif, di atas wau, di atas ya’, atau berdiri sendiri.
Tujuan:
– Menyesuaikan harakat dan cara pengucapan.
Hikmah di Balik Kaidah Rasm Al-Qur’an
Menjaga Kemurnian Al-Qur’an
Kaidah Rasm Al-Qur’an membantu menjaga keaslian Al-Qur’an sebagaimana yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Penulisan yang tetap sama sejak dahulu menjadi bukti bahwa Al-Qur’an tidak mengalami perubahan.
Menyatukan Umat Islam
Dengan adanya Mushaf Utsmani, umat Islam memiliki pedoman penulisan yang sama. Hal ini mengurangi perselisihan dalam membaca dan menulis Al-Qur’an.
Menjaga Keberagaman Qira’at
Rasm Utsmani disusun agar dapat memuat berbagai qira’at yang sahih. Oleh karena itu, beberapa bentuk penulisan terlihat berbeda dari tulisan Arab modern.
Menjadi Bukti Sejarah Peradaban Islam
Rasm Al-Qur’an menunjukkan perkembangan tulisan Arab dan kesungguhan para sahabat dalam menjaga kitab suci umat Islam
Mempermudah Pembelajaran Al-Qur’an
Dengan memahami kaidah rasm, umat Islam dapat membaca Al-Qur’an dengan lebih baik serta Jmemahami alasan di balik bentuk penulisannya.
Pentingnya Mempelajari Rasm Al-Qur’an
Mempelajari Rasm Al-Qur’an penting terutama bagi:
-Pelajar ilmu Al-Qur’an.
– Guru dan pengajar Al-Qur’an.
– Penghafal Al-Qur’an.
-Umat Islam secara umum.
Pemahaman terhadap rasm membantu seseorang:
– Membaca Al-Qur’an dengan benar.
– Memahami sejarah penulisan mushaf.
-Mengetahui keistimewaan Al-Qur’an dibanding kitab lainnya.
Kesimpulan
Rasm Al-Qur’an adalah aturan khusus penulisan mushaf Al-Qur’an yang telah digunakan sejak masa Utsman bin Affan. Kaidah-kaidah seperti Al-Hadzf, Az-Ziyadah, Al-Badal, Al-Washl wal Fashl, dan penulisan hamzah memiliki fungsi penting dalam menjaga kemurnian dan keseragaman Al-Qur’an.
Hikmah di balik kaidah tersebut sangat besar, yaitu menjaga keaslian Al-Qur’an, menyatukan umat Islam, memelihara qira’at, serta menjadi bukti sejarah penjagaan wahyu Allah. Oleh karena itu, mempelajari Rasm Al-Qur’an sangat penting agar umat Islam semakin memahami dan menghargai keagungan kitab suci Al-Qur’an.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Mawardi. (2011). Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Al-Farmawi, Abdurrahman bin Husein. (1994). Metodologi Tafsir: Suatu Kajian Ilmu Ulumul Qur’an. Terjemahan oleh Anas Mahyuddin. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Ash-Shiddieqy, M. Hasbi. (1992). Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang.
As-Salih, Subhi. (2010). Mabahits Fi Ulumil Qur’an (Kajian Mendalam Ilmu-ilmu Al-Qur’an). Terjemahan oleh: Tim Pustaka Setia. Bandung: Pustaka Setia.
Anwar, Rosi Hon. (2009). Pengantar Ulumul Qur’an: Dasar-Dasar Memahami Wahyu Ilahi. Bandung: Pustaka Setia.
Badri, Zulkarnaen. (2016). Studi Ilmu Al-Qur’an (Ulumul Qur’an): Konsep, Sejarah, dan Perkembangannya. Jakarta: Amzah.
Departemen Agama RI. (2012). Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Ensiklopedia Islam. (Tanpa Tahun). Ulumul Qur’an: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Sejarah Perkembangannya.

Della Laura Hsb
Mahasiswa UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Leave a Reply