Al–Qur’an sebagai Mu’jizat Nabi Muhammad saw

RisetAnakBangsa.id-Secara etimologi, Mu’jizat  berasal dari bahasa Arab “al-mu’jizah” yang merupakan isim fa’il (kata benda pelaku) dari kata “a’jaza-yu’jizu-i’jazan” yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Mu’jizat  didefinisikan sebagai sesuatu yang luar biasa yang Allah Swt berikan kepada para nabi dan rasul untuk membuktikan kebenaran risalah yang mereka bawa (Al-Suyuti, Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an, 2008).

Menurut Imam Al-Zarqani dalam kitabnya “Manahil Al-‘Irfan fi Ulum Al-Qur’an”, Mu’jizat  adalah:

“Sesuatu yang tidak dapat ditandingi oleh siapapun, yang Allah berikan kepada orang yang mengaku sebagai nabi, sebagai bukti atas kebenaran pengakuannya.”

Pendapat berbeda juga disampaikan oleh Manna Khalil Al Qhatan, menyebutkan Mu’jizat  adalah “menampakkan kebenaran nabi dalam pengakuannya sebagai rasul, dengan menampakkan kelemahan orang-orang Arab untuk menghadapi Mu’jizat  yang abadi, yaitu Al-Quran dan kelemahan generasi- generasi sesudah mereka.”

Sementara Ali Ashabuni, menyampaikan Mu’jizat  adalah “melihat kelemahan orang yang menetapkan seumpamanya, suatu hal yang luar kebiasaan, keluar dari sebab-sebab umum yang diketahui manusia”

Menurut Al-Qur’an, Mu’jizat  bertujuan untuk membuktikan keberadaan Allah Swt dan kebenaran misi kenabian. Dalam QS. Al-Isra: 59, Allah Swt berfirman:

                                                                                                وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفً

“Dan Kami tidak mengutus tanda-tanda (Mu’jizat ) itu melainkan untuk memberi peringatan (menakut-nakuti).”

Mu’jizat  bersifat supranatural, melampaui hukum alam, dan tidak dapat dijelaskan oleh akal manusia. Namun, Mu’jizat tidak hanya bersifat luar biasa, tetapi juga memiliki dimensi pembuktian yang kuat agar manusia menyadari kebesaran Allah Swt.

Mu’jizat Al-Qur’an memiliki keistimewaan tersendiri karena bersifat abadi. Berbeda dengan Mu’jizat nabi sebelumnya yang bersifat fisik dan hanya berlaku pada masa tertentu, Al-Qur’an tetap relevan dan menjadi tantangan bagi umat manusia hingga hari kiamat.

Macam-Macam Mu’jizat .

Mu’jizat yang diberikan kepada para nabi memiliki berbagai bentuk sesuai dengan zaman dan kondisi masyarakat di mana mereka diutus. Secara garis besar, Mu’jizat dapat dibagi menjadi dua kategori utama:

Mu’jizat Hissiyah (Fisik).

Mu’jizat hissiyah adalah Mu’jizat yang dapat dilihat, dirasakan, atau dialami oleh pancaindra manusia. Mu’jizat  ini terjadi di hadapan manusia sebagai bukti nyata.

Contoh-contohnya antara lain:

Mu’jizat Nabi Musa a.s: Tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular besar. Disebutkan dalam QS. Al-A’raf: 107-108,

                                                فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ   ۝ وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ     ۝

artinya: “Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan dia mengeluarkan tangannya, tiba-tiba tangan itu menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihatnya.”

Mu’jizat Nabi Isa a.s: Menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati atas izin Allah Swt. Disebutkan dalam QS. Al-Maidah: 110,

                                    إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَىٰ وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۖ وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ ۖ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ۖ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنكَ إِذْ جِئْتَهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ

artinya: “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Ruhulkudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. (Ingatlah) ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) hikmah, Taurat, dan Injil. (Ingatlah) ketika engkau membentuk dari tanah (sesuatu) seperti bentuk burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”

Mu’jizat Nabi Muhammad saw: Membelah bulan. Disebutkan dalam QS. Al-Qamar: 1- 2,

                                                  اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ ۝ وَإِن يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ ۝

artinya: “Hari Kiamat makin dekat dan bulan terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (Mu’jizat ), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.

Mu’jizat Ma’nawiyah (Maknawi)

Mu’jizat ma’nawiyah adalah Mu’jizat yang bersifat spiritual atau intelektual, tidak terikat oleh waktu dan tempat, serta dapat dirasakan oleh generasi berikutnya.

Contoh paling besar adalah Al-Qur’an yang menjadi Mu’jizat terbesar Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an tidak hanya memiliki keindahan bahasa, tetapi juga kandungan ilmiah yang terus relevan sepanjang zaman.

Al-Qur’an sebagai Mu’jizat terbesar Nabi Muhammad saw

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam sekaligus pedoman hidup yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Salah satu keistimewaan Al-Qur’an adalah statusnya sebagai Mu’jizat  terbesar yang dimiliki oleh Nabi Muhammad saw. Mu’jizat  Nabi Muhammad saw memiliki kekhususan dibandingkan dengan Mu’jizatnabi-nabi lainnya. Semua Mu’jizat sebelumnya dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya hanya diperlihatkan kepada umat tertentu dan masa tertentu. Sedangkan Mu’jizat Al-Qur’an bersifat universal dan abadi yakni berlaku untuk semua umat manusia sampai akhir zaman. Karena itu, Al-Qur’an adalah sebagai Mu’jizat terbesar dari semua Mu’jizat Mu’jizat yang diberikan Allah Swt kepada para nabi sebelumnya dan kepada Nabi Muhammad saw sendiri (Nursi, B. S. 2019).

Al-Qur’an di gunakan oleh Nabi Muhammad saw untuk menantang orang-orang pada masa beliau dan generasi sesudahnya yang tidak percaya akan kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah (bukan ciptaan Muhammad) dan tidak percaya akan risalah Nabi saw dan ajaran yang di bawanya. Terhadap mereka sesungguhnya mereka memiliki tingkat fashahah dan balaghah sedemikian tinggi di bidang bahasa Arab. Nabi meminta mereka untuk menandingi Al-Qur’an dalam tiga tahapan (Ajahari, 2018).

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang mencakup berbagai pengetahuan, hukum dan syariat; baik yang bersifat personal maupun sosial. Untuk mengkaji secara mendalam setiap cabang ilmu tersebut, dibutuhkan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing. Selain itu, juga dibutuhkan keseriusan yang tinggi dan waktu yang lama agar dapat mengungkapkan segala rahasia yang terkandung di dalam kitab suci tersebut.

Al-Qur’an sudah menjelaskan proses penciptaan alam semesta dan berbagai seluk-beluk kehidupan di bumi. Pengetahuan semacam itu belum terjangkau pada zaman Rasulullah saw, namun pada era sekarang para ilmuwan telah membuktikan kebenaran yang terdapat di dalam kitab suci ini. Selain itu, ilmu dan teknologi yang terdapat di dalam Al-Qur’an selangkah lebih maju dibandingkan penemuan-penemuan para ahli pada zaman modern. Hal ini membuktikkan bahwa Al-Qu’an merupakan kitab yang memiliki kemu’jizatan luar biasa (Muhammad, 2012).

Diantara keistimewaan Al-Qur’an bahwa ia merupakan kitab yang bersifat i’jaz   (melemahkan dan meyakinkan para penentangnya). Allah Swt menjadikannya sebagai tanda kebesaran satu-satunya yang bersifat menantang. Allah Swt tidak menantang orang-orang musyrik dengan setiap tanda (kejadian) yang Allah Swt anugerahkan dengan segala keragaman dan kuantitasnya, kecuali Al-Qur’an

Bentuk-Bentuk I’jaz Al-Qur’an

Dari segi bahasa, kata i’jaz, masdar dari kata kerja a jaza, yu ‘jizu, i ‘jaz, yang berarti melemahkan atau memperlemah. Kata ini termasuk fiil ruba’i majid yang berasal dari fi’il tsulatsi muijarrad ajaza yang berarti lemah, lawan dari qadara yang berarti kuat atau mampu (H. Abdul Jalal, 2000). Secara normatif, i’jaz adalah ketidakmampuan seseorang melakukan sesuatu yang merupakan lawan dari ketidakberdayaan. Oleh karena itu, apabila kemu’jizatan itu telah terbukti, maka nampaklah kemampuan Mu’jizat. Adapun Al-Qur’an sebagai Mu’jizat  bermakna bahwa Al-Qur’an merupakan sesuatu yang mampu melemahkan tentang menciptakan karya yang serupa dengannya (H.Muhquraish syihab dkk. 1999). Sedangkan yang di maksud i’jaz, secara terminologi Ilmu Al-Qur’an adalah sebagaimana yang di kemukakan oleh beberapa ahli berikut:

Menurut Manna’ Khalil Al-Qaththan misalnya mendefinisikan i’jaz adalah menampakkan kebenaran Nabi saw dalam pengakuan orang lain sebagai seorang rasul utusan Allah Swt. Dengan menampakkan kelemahan orang orang Arab untuk menandinginya atau menghadapi Mu’jizat yang abadi, yaitu Al-Qur’an dan kelemahan-kelemahan generasi sesudah mereka (Usman, 2009 M).

Sementara Ali al-Shabuny mengartikan i’jaz sebagai “menetapkan kelemahan manusia baik secara kelompok atau bersama-sama untuk menandingi hal yang serupa dengannya.” Jadi i’jaz   ini upaya untuk menegaskan kebenaran seorang nabi dan pada saat yang sama ia juga menegaskan kelemahan manusia yang meragukan dan mengingkari kenabian. Wajar dalam konsep i’jaz   ini kalau konsepsi kenabian diklaim sebagai kebenaran yang tidak bisa dibantah, apalagi dikalahkan. Sedangkan Mu’jizat  adalah perkara luar biasa yang disertai dengan tantangan yang tidak mungkin dapat di tandingi oleh siapapun (Usman, 2009 M).

I’jaz Al-Qur’an memiliki bentuk-bentuk yang sangat beragam, dari sekian banyak bentuk kemu’jizatan Al-Qur’an, ada tiga sisi yang perlu dibahas secara tersendiri diantaranya adalah: I’jaz Bayani wa Adabi (i’jaz secara bahasa dan sastra) dan I’jaz Al-Ishlahi Au At-Tasyri’i (kemu’jizatan Al-Qur’an dalam aspek ajaran syariat yang dikandungnya). I’jaz   yang ketiga adalah i’jaz al-ilmi (kemu’jizatan dari segi ilmiah).

I’jaz Bayani wa Adabi (I’jaz Secara Bahasa dan Sastra)

Al-Qur’an Al-Karim merupakan Mu’jizat  rasul yang agung termasuk Mu’jizat  yang indah selain juga Mu’jizat  yang logis. Ia telah membuat bangsa Arab tidak mampu berkutik, yaitu dengan keindahan bayannya, kerapian susunan dan uslubnya, dan keunikan suaranya apabila dibaca, sehingga sebagian mereka menamakannya “sihir”.

Sehubungan dengan ini, Qardhawi menyatakan bahwa ayat-ayat yang tertuang dalam Al-Qur’an bukanlah sihir, tetapi merupakan kei’jaz an yang paling menonjol. Sehingga tidak akan pernah ada yang mampu menandingi kemu’jizatan sastra Al-Qur’an tersebut.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 88, Allah Swt menantang bangsa Arab untuk menandingi ayat Al-Qur’an.

“Katakanlah: “sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian dari mereka menjadi pembantu sebagian yang lain.” (Al-Isra’: 88)

I’jaz Al-Ishlahi Au At-Tasyri’i (KeMu’jizat an Al-Qur’an dalam Aspek Ajaran Syariat yang Dikandungnya)

Kemu’jizatan yang dimaksud mencakup ajaran yang agung dan manhaj lurus untuk membimbing umat manusia. Tiap mufradnya menunjukkan dan menerangkan bahwa Al-Qur’an tidak mungkin di produk oleh manusia. Hal ini sejalan dengan pemikiran M. Rasyid Ridha, yang dikutip oleh Qardhawi, bahwa ia mengulang kembali tantangan Al-Qur’an dan menjelaskan cita-cita yang dibawa oleh Al-Qur’an untuk diwujudkan dalam kehidupan, dan suatu yang mustahil jika Al-Qur’an dikarang oleh seorang yang tidak dapat membaca dan menulis dari bangsa yang buta aksara, sementara isinya mengalahkan seluruh pemikiran yang dibawa oleh filosof dan para pembaharu (Yusuf Qardhawi, 1997).

I’jaz Al-Ilmi (Mu’jizat Ilmiah dalam Al-Qur’an)

Bentuk lain dari i’jaz yang banyak dibicarakan, bahkan menjadi diskursus pada saat ini adalah Mu’jizat ilmiah dalam Al-Qur’an (i’jaz al-ilmi). Pada masa ini, timbul satu kecenderungan baru dalam melihat kemu’jizatan Al-Qur’an, yang dikenal dengan kemu’jizatan ilmiah, maksudnya adalah petunjuk dan isyarat atas hakikat-hakikat ilmiah yang dikandung oleh Al-Qur’an, yang belum diketahui manusia saat Al-Qur’an diturunkan, dan dianggap mendahului masanya, sehingga tidak masuk akal jika Al-Qur’an dikarang oleh seorang yang tidak mampu baca tulis dalam umat yang tidak mampu baca tulis pula, dan dalam dunia yang tidak mengetahui hakikat-hakikat ilmiah itu sedikit pun.

Banyak tokoh dan pemikir yang menaruh perhatian besar terhadap kemu’jizatan Al-Qur’an dari aspek i’jaz al-ilmi ini, tokoh dan pakar tersebut kebanyakan berasal dari latar belakang ilmu alam dan fisika, bukan ulama’ syari’ah. Mereka banyak menulis buku dan makalah dan mengadakan seminar dan muktamar, mendirikan lembaga-lembaga dan yayasan untuk membahas tentang i’jaz al-ilmi ini. Karena itu, tidaklah diragukan, hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an yang agung ini mustahil buatan seorang lelaki yang ummi ditengah-tengah umat yang ummi dalam masa yang berbeda.

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari-(mu)”. (Al-Ankabut: 48)

Terkait dengan pembahasan i’jaz al-ilmi ini, banyak fakta ilmiah yang direkam Al-Quran yang mendahului ilmu pengetahuan modern diantaranya adalah tentang air, sesuai yang tertera di dalam Surah Al-Anbiya’ dan An-Nur, fakta ilmiah selanjutnya ialah fenomena berpasang-pasangan yang tidak hanya terbatas pada gender laki-laki dan perempuan, pada manusia, dan hewan, serta sebagian tumbuhan. Seperti yang tertera dalam firman-Nya:

“Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang telah ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (Yasin: 36)

Ayat di atas jelas mengisyaratkan bagi kita betapa indahnya firman Allah Swt di ujung ayat ini yang menunjukkan bahwa hakikat ini lebih besar dari ilmu pengetahuan manusia pada saat itu.

Fakta ilmiah berikutnya yang disebut-sebut sebagai suatu kabar yang gaib telah dijelaskan dalam Surah Ar-Ruum, dan diperkuat Surah Al-Qamar, tentang pemberitaan bangsa Rumawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia kembali. Ini adalah suatu Mu’jizat  Al-Quran yang sulit untuk diterima, dimana kaum muslimin yang demikian lemahnya di waktu itu, akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin. Jika dikaji lebih dalam lagi, masih banyak fakta ilmiah yang telah diungkap di dalam Al-Qur’an, yang keseluruhan isinya tidak ada yang bertentangan dengan sains modern.

Ketiga bentuk dari kemu’jizatan Al-Qur’an yang telah dipaparkan Qardhawi ini merupakan suatu bentuk respon yang ditujukan beliau kepada musuh-musuh Islam, atau siapa saja yang beranggapan bahwa Al-Qur’an merupakan produk dari manusia (Muhammad), atau hasil rekayasa dari Muhammad. Sehingga beliau mengatakan bahwa orang yang ragu akan kebenaran Al-Qur’an adalah orang yang dangkal ilmunya, dan tidak menguasai sejarah. Oleh karena itu Al-Qur’an telah merangsang potensi pikir dan mendorong manusia untuk berilmu dengan jalan alamiah seperti berpikir, perenungan, dan menghilangkan tirai yang menutupi penglihatan mata hati, sehingga dapat membantu mereka memperkaya khazanah pengetahuan ilmiah khususnya yang berkaitan dengan kemu’jizatan Al-Qur’an (i’jaz Al-Qur’an).

Kesimpulan

Al-Qur’an merupakan firman Allah Swt yang diturunkan kepada Rasulullah saw menggunakan bahasa Arab yang jelas melalui perantara Malaikat Jibril a.s, di mana setiap ayat yang dibaca bernilai ibadah dan bahkan surat terpendeknya pun berfungsi sebagai Mu’jizat  yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun. Kitab suci ini disampaikan kepada kaum Muslimin secara mutawatir dengan transmisi sanad yang sangat meyakinkan dan tidak terbantahkan. Ditulis dalam bentuk mushaf yang diawali oleh Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah An-Nas, Al-Qur’an hadir sebagai pedoman hidup utama bagi umat manusia untuk mencapai kejayaan serta kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

I’jaz Al-Qur’an adalah kemu’jizatan Al-Qur’an yang menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad Saw, Sebagai rasul Allah Swt. I’jaz berarti melemahkan, yaitu ketidakmampuan manusia untuk menandingi Al-Qur’an, baik dari segi bahasa, isi, maupun keistimewaannya. Para ulama menjelaskan bahwa i’jaz menjadi bukti kebenaran kenabian sekaligus menunjukkan kelemahan manusia dalam menghadapi Mu’jizat Al-Qur’an yang bersifat abadi.

DAFTAR PUSTKA

Ajahari. 2018. Ulumul Qur’an (Ilmu-Ilmu Al-Qur’an). Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Al-Qaththan, Manna’ Khalil. 2000. Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an. Kairo: Maktabah Wahbah.

Al-Suyuti. 2008. Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an. Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

Al-Zarqani, Muhammad Abdul Azim. Manahil Al-‘Irfan fi ‘Ulum Al-Qur’an. Beirut: Dar Al-Fikr.

Jalal, H. Abdul. 2000. Ulumul Qur’an. Surabaya: Dunia Ilmu.

Muhammad. 2012. Kemukjizatan Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Nursi, Bediuzzaman Said. 2019. Mukjizat Al-Qur’an. Jakarta: Risalah Nur Press.

Qardhawi, Yusuf. 1997. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.

Shihab, M. Quraish. 1999. Sejarah dan Ulum Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Usman. 2009. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Teras.

Kurnia Rizky Simatupang   

Mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan