Penulis: Lulu Novita Nawal Rahmadhani (T.IPS 3C UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)

RisetAnakBangsa.id-Perkembangan media sosial membuat cara masyarakat membicarakan politik ikut berubah. Saat ini, pembicaraan mengenai politik tidak hanya ditemukan dalam berita atau forum diskusi, tetapi juga muncul melalui video singkat dan kolom komentar di TikTok. Pengguna dapat menyampaikan pendapat, menanggapi suatu isu, bahkan berdebat dengan orang yang belum pernah mereka kenal. Keadaan ini menunjukkan bahwa politik semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk bagi generasi muda yang aktif menggunakan media sosial.

TikTok menarik untuk dibahas karena sebuah video dapat menyebar dengan cepat dan memperoleh beragam tanggapan. Ketika sebuah isu politik muncul di halaman For You Page (FYP), pengguna tidak hanya menerima informasi dari video tersebut, tetapi juga membaca komentar orang lain yang mungkin memengaruhi cara mereka memahami isu itu. Namun, informasi yang singkat terkadang tidak cukup untuk menjelaskan suatu persoalan secara utuh. Pendapat pribadi, fakta, dan potongan peristiwa dapat bercampur sehingga pengguna perlu lebih cermat dalam menilai informasi yang diterimanya.

Dalam ilmu politik, opini publik berkaitan dengan pandangan masyarakat terhadap persoalan yang dianggap penting. Pandangan tersebut dapat terbentuk melalui pengalaman, informasi, dan interaksi dengan orang lain. Penelitian Wahyuti et al. (2025) membahas bagaimana algoritma, viralitas, dan fenomena ruang gema (echo chamber) berkaitan dengan dinamika politik di TikTok pada Pemilihan Presiden Indonesia 2024. Kajian ini membantu menjelaskan bahwa media sosial bukan sekadar tempat menyebarkan informasi, tetapi juga ruang yang dapat memengaruhi cara pengguna melihat suatu persoalan.

Kolom komentar menjadi salah satu bagian menarik karena di sanalah berbagai pandangan bertemu. Misalnya, ketika sebuah video membahas partisipasi generasi muda dalam pemilu, ada pengguna yang mendukung, ada yang mempertanyakan, dan ada pula yang menawarkan sudut pandang berbeda. Percakapan tersebut dapat membantu seseorang melihat persoalan dari sisi yang sebelumnya tidak terpikirkan. Menurut saya, hal ini merupakan salah satu manfaat media sosial: masyarakat memiliki kesempatan untuk ikut berdiskusi tanpa harus berada dalam forum formal. Akan tetapi, kesempatan tersebut baru benar-benar bermanfaat apabila pengguna tidak hanya ingin pendapatnya diterima, tetapi juga bersedia mendengarkan pandangan orang lain.

Perdebatan di kolom komentar juga dapat memengaruhi cara masyarakat membentuk penilaian. Pendapat yang mendapat banyak tanda suka atau balasan terkadang dianggap paling benar atau paling mewakili masyarakat. Padahal, banyaknya interaksi tidak selalu menunjukkan bahwa suatu pendapat didukung oleh sebagian besar orang. Pengguna yang aktif berkomentar belum tentu mewakili keseluruhan pandangan masyarakat Indonesia. Karena itu, sesuatu yang viral sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai gambaran utuh mengenai pendapat publik.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah rekomendasi konten. Pengguna yang sering menonton video dengan pandangan tertentu mungkin akan lebih banyak menemukan konten serupa. Keadaan ini dapat berkaitan dengan echo chamber, yaitu situasi ketika seseorang lebih sering terpapar pandangan yang sejalan dengan keyakinannya. Jika berlangsung terus-menerus, pengguna dapat merasa bahwa pendapatnya paling masuk akal karena jarang menemukan sudut pandang lain. Menurut saya, tantangan ini bukan alasan untuk menghindari diskusi politik, melainkan pengingat bahwa kita perlu mencari informasi dari sumber yang beragam dan tidak hanya bergantung pada konten yang muncul di FYP.

Persoalan berikutnya adalah cara warganet menyampaikan pendapat. Perbedaan pandangan sebenarnya wajar dalam kehidupan demokratis. Namun, diskusi dapat kehilangan manfaatnya ketika orang lebih sibuk mengejek atau menyerang pribadi daripada menjelaskan alasan di balik pendapatnya. Penelitian Murti et al. (2024) mengenai komentar politik warganet Indonesia di TikTok menemukan penggunaan strategi ketidaksantunan, seperti sarkasme dan ejekan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kualitas percakapan politik digital juga dipengaruhi oleh cara pengguna berkomunikasi.

Menurut saya, tidak setuju dengan seseorang bukanlah masalah utama. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana ketidaksetujuan itu disampaikan. Kritik akan lebih bermanfaat jika diarahkan pada gagasan dan didukung alasan yang jelas, bukan pada penghinaan terhadap orang yang mengemukakannya. Dengan begitu, perdebatan dapat menjadi kesempatan untuk menguji pemikiran, memperluas wawasan, dan memahami alasan di balik perbedaan. Kita juga perlu menyadari bahwa tidak setiap diskusi harus berakhir dengan kesepakatan.

Kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting ketika informasi politik mudah ditemukan dalam bentuk video singkat. Pengguna perlu membiasakan diri memeriksa sumber, memahami konteks, dan membedakan fakta dari opini sebelum membagikan informasi. Penelitian Aprillia et al. (2025) membahas peran TikTok dalam komunikasi dan pengetahuan politik mahasiswa pemilih pemula, sekaligus menunjukkan pentingnya literasi digital dalam menerima informasi politik. Artinya, kemudahan mengakses informasi perlu disertai kemampuan untuk menilai apakah informasi tersebut layak dipercaya.

Bagi saya, penggunaan TikTok untuk membicarakan politik tidak perlu dipandang secara berlebihan, baik sebagai sesuatu yang selalu bermanfaat maupun sebagai sesuatu yang selalu merugikan. Dampaknya bergantung pada cara konten dibuat, informasi dipahami, dan diskusi dilakukan. Kolom komentar dapat menjadi ruang bertukar gagasan ketika pengguna bersedia mendengarkan dan menghargai perbedaan. Sebaliknya, ruang tersebut dapat kehilangan manfaatnya apabila percakapan hanya berisi saling menyalahkan tanpa upaya memahami persoalan.

Pada akhirnya, kolom komentar TikTok memiliki peran dalam membentuk cara masyarakat mengenal dan menanggapi isu politik di Indonesia. Namun, banyaknya komentar dan tingginya popularitas sebuah video tidak cukup untuk menjamin bahwa informasi yang beredar sudah benar atau dipahami secara utuh. Menurut saya, hal terpenting bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan belajar menilai informasi secara rasional dan menyampaikan pendapat dengan tanggung jawab. Dengan kebiasaan tersebut, TikTok dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran politik yang lebih sehat, tempat perbedaan pandangan tidak harus menjadi pertentangan, tetapi dapat membantu masyarakat memahami persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

Daftar Pustaka

Aprillia, P., Hendra, H., & Sariani, D. (2025). Persepsi mahasiswa pemilih pemula terhadap peran media sosial TikTok dalam komunikasi politik dan pengetahuan politik. Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, 6(5), 1241–1252. https://doi.org/10.54543/syntaximperatif.v6i5.909

Murti, R. W., Pratama, H., & Yulianto, H. J. (2024). Impoliteness strategies in online political discourse: A case study of Indonesian netizens’ comments on TikTok. English Education Journal, 14(3). https://doi.org/10.15294/cxj95428

Wahyuti, T., Sarasati, F., Baskoro, R. M., Paninggiran, H., & Sudarmanto, B. (2025). Algoritma, echo chamber, polarisasi, dan viralitas di TikTok pada Pemilihan Presiden 2024. Konvergensi: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 6(2), 264–278. https://doi.org/10.51353/5f442c71