PENDAHULUAN

Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti yang sangat berpengaruh dalam sejarah Islam. Dinasti ini berdiri setelah berakhirnya Dinasti Umayyah dan berhasil membawa peradaban Islam mencapai masa kejayaan. Pada masa Abbasiyah, banyak kemajuan yang terjadi dalam berbagai bidang seperti ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi, politik, kesehatan, dan kebudayaan. Oleh karena itu, masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah sering disebut sebagai masa keemasan Islam.
Kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Abbasiyah tidak terjadi begitu saja. Para Khalifah pada masa itu sangat berpartisipasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Mereka memberikan dukungan kepada para ilmuwan dalam melakukan penelitian dan mengembangkan berbagai ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal inilah yang membuat peradaban Islam berkembang dengan sangat pesat pada masa Dinasti Abbasiyah.

PEMBAHASAN

Dengan berakhirnya pemerintahan Daulah Umayyah, Maka Daulah Abbasiyah mewarisi pemerintahan besar dari bani Umayyah. Pada masa Dinasti Abbasiyah ada 37 Khalifah yang memerintah dunia Islam selama 5 abad. Dari 37 Khalifah, ada 3 orang Khalifah yang paling berjasa dalam membangun Daulah Abbasiyah tersebut, yaitu Abu Ja’far Al-Mansur (754-775 M), Harun Al-Rasyid (786-809 M), dan Al-Makmun (813-833).

Abu Ja’far Al-Mansur (754-775 M/137-159 H)

Pemerintahan Daulah Abbasiyah mulai berkembang dimulai dari Khalifah kedua yaitu Abu Ja’far Al-Mansur. Dia diangkat Menjadi khalifah setelah saudaranya Abu Abbas al-Safah meninggal dunia pada tahun 136 / 754 M. Beliau dikenal Sebagai seorang yang gagah perkasa, keras hati, kuat keimanan, bijaksana, cerdas, pemberani, teliti, disiplin, kuat beribadah dan disiplin. Abu Ja’far digelar dengan al-Mansur, artinya: yang memperoleh pertolongan Allah Swt. Karena dia selalu menang dalam menghadapi berbagai peperangan, baik ke dalam Menghadapi pemberontak, maupun ke luar mengatasi serangan Byzantium.

Pada masa kepemimpinannya, Abu Ja’far Al-Mansur menghadapi berbagai tantangan politik, memajukan ekonomi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk mencapai kemajuan Islam. Pertama mampu mengatasi pemberontakan Abdullah bin Ali dan Shaleh bin Ali yang mengancam stabilitas pemerintahan Abbasiyah. Sehingga membantu memperkuat kekuasaan Dinasti Abbasiyah dan menciptakan kondisi yang lebih aman untuk melanjutkan pembangunan negara.

Kedua Menghadapi Kekuatan Abu Muslim. Abu Muslim Al-Khurasani merupakan tokoh yang berjasa dalam membantu berdirinya Dinasti Abbasiyah. Namun, karena pengaruh dan kekuatannya yang semakin besar, Abu Ja’far Al-Mansur khawatir hal tersebut dapat mengancam pemerintahan. Oleh karena itu, Al-Mansur mengambil tindakan tegas terhadap Abu Muslim sehingga kekuasaan khalifah tetap terjaga dan pemerintahan Abbasiyah menjadi lebih kuat dan stabil. Ketiga menghadapi pemberontakan dari golongan Syi’ah yang dipimpin oleh Muhammad An-Nafs az-Zakiyyah dan Ibrahim. Mereka menentang pemerintahan Abbasiyah karena menganggap kepemimpinan umat Islam seharusnya berada di tangan keturunan Ali bin Abi Thalib. Namun, Abu Ja’far Al-Mansur berhasil menumpas pemberontakan tersebut sehingga stabilitas dan keamanan pemerintahan Abbasiyah tetap terjaga.

Keempat membangun Kota Baghdad pada tahun 762 M dan menjadikannya sebagai penghubung antara kota Baghdad dengan negeri-negeri lain sampai ke Tiongkok untuk ekspor barang dan dapat mendatangkan segala sesuatu yang diperlukan. Berkat letaknya yang strategis, Baghdad berkembang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang sangat maju. Kota ini kemudian menjadi salah satu kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam. Kelima ekonomi mulai berkembang sebab Al-Mansur menata perekonomian pemerintahannya dengan memperkembangkan melalui pelabuhan Baghdad. Untuk memudahkan berkembang perdagangan, inpor ekspor dapat dilakukan, sehingga ekonomi berkembang dan rakyat bisa hidup makmur. Keenam pusat kajian ilmu pengetahuan mulai didirikan sejak awal berdirinya, kota Baghdad sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Al- Mansur memerintahkan penerjemah buku buku ilmiah untuk menerjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa arab. Dalam hal ini ia mendirikan departemen study ilmiah dan penerjemah di pusat ibu kota Baghdad.

Keberhasilan Al-Mansur yang lain pada masa Khalifahnya adalah kerja samanya yang baik dengan golongan mawali, keluarga Barmaki. Sebagai seorang Persia mereka pecinta ilmu pengetahuan dan administrator yang baik, maka Al-Mansur mengangkat mereka sebagai pendukung utamanya salah satunya diangkat sebagai perdana menteri. Maka jika Daulah Abbasiyah Mencapai puncak kejayaannya pada masa khalifah al-Makmun, Hal itu tidak terlepas dari dukungan orang Persia ini.

Harun Al-Rasyid (786-809 M/170-194 H)

Dengan naiknya Harun Al-Rasyid menduduki jabatan Khalifah, maka Daulah Abbasiyah memasuki era baru yang sangat gemilang dia adalah seorang penguasa yang paling cakap dan paling mulia di antara Daulah Abbasiyah. Dia memerintah Selama 23 tahun.

Keberhasilan Harun Al-Rasyid pada pemerintahannya adalah pertama memperindah kota Baghdad ia memperindah dan mempercantik kota Baghdad yang di bangun oleh kakeknya Al-Mansur sebelumnya sehingga menjadi puncak keindahan, kemegahan, dan kecemerlangan serta sebagai ibu kota Daulah Abbasiyah. Kedua perekonomian berkembang pesat karena ia mampu menjadikannya sebagai kota perdagangan. Ketiga menjadikan kota Baghdad sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan mulainya muncul berbagai cabang ilmu pengetahuan, intelektual, seni, dan agama sekaligus.

Al-Makmun (813-833 M/198-218 H)

Di masa Al-Makmun pertemuan pertemuan ilmiah tidak lagi dilakukan di istana yang mana pada masa Harun Al-Rasyid istananya yang megah dijadikan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dalam berbagai cabang ilmu, berkumpulmya para ilmuwan dan orang orang terpelajar dari berbagai penjuru dunia. Tetapi dia membangun tempat pertemuan yang dipusatkan di “Balai Ilmu” (Baitul Hikmah). Dia memfungsikan “Balai Ilmu” itu sebagai akademi, sebagai perpustakaan, dan sebagai tempat penerjemahan berbagai macam ilmu pengetahuan.

Pertama sebagai akademi, “Balai Ilmu” itu dijadikan tempat pertemuan diskusi-diskusi yang dihadiri berbagai kalangan ahli-ahli filsafat Yunani, aliran filsafat India, tokoh-tokoh syi’ah, tokoh khawarij, dan tokoh-tokoh Sunni, termasuk juga dari non-muslim. Kedua sebagai perpustakaan, dijadikan pertemuan pertemuan berbagai macam ilmu pengetahuan yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Yang lebih dikenal dengan “Perpustakaan Baitul Hikmah”. Ketiga sebagai tempat penerjemahan berbagai macam ilmu pengetahuan, Al-Makmun menggaji banyak ahli dari berbagai cabang ilmu, juga memberikan kepada mereka hadiah-hadiah berupa emas seberat buku yang diterjemahkannya.

Dari tiga Khalifah ini, merekalah menjadi mesin penggerak berkembangnya ilmu pengetahuan. Pada masa mereka lahirlah berbagai cabang ilmu pengetahuan beserta tokoh-tokohnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1.Ilmu kedokteran

Tokoh-tokohnya ialah Ali bin Rabba Al-Thabari, Ar-Razi, dan Ibn Sina. Dua terakhir tokoh tersebut sangat berpengaruh di timur dan barat, yang mana Al-Razi adalah penemu tentang cacar dan campak, sedangkan Ibn Sina adalah tokoh yang memiliki karya terbesar, ia menulis buku “Al-Qonun Fi At-Thibb” yang berjumlah satu juta kata dan menjadi buku wajib di Erofa. Dia juga yang pertama kali menemukan dan menjelaskan TBC itu menular serta operasi harus memakai bius.

2.Ilmu Matematika

Tokohnya ialah Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi dialah yang paling berjasa dalam memperkenalkan angka-angka dalam perhitungan sebagai ganti Alfabeta dan dia pula orang pertama yang membicarakan Al-Jabar secara sistematis.

3.Ilmu Kimia

Tokohnya ialah Jabir bin Hayyan merupakan bapak kimia modern yang menemukan cara destilasi, kristalisasi, dan filtrasi. Dia juga menemukan asam sulfat dan nitrat.

4.Ilmu Astronomi

Ilmu Astronomi diperlukan untuk tujuantujuan keagamaan, seperti menentukan waktu shalat, waktu fajar dan munculnya bulan di bulan Ramadhan serta menentukan arah kiblat. Di antara sarjana-sarjana astronom muslim adalah Tsabit bin Qurra, al-Balhi, Hunain bin Ishak, al-Abbadi al-Battani, al-Buzjani al-Farghani dan lain-lain.

5.Ilmu Geografi

Geografi dalam Islam muncul sebagai ilmu akibat perkembangan kota Baghdad sebagai pusat perdagangan. Ahli Geografi Muslim pada masa Dinasti Abbasiyah ialah Ibn Khardazabah yang menulis buku tentang geografi dengan judul al-Masalik wa al-Mamalik. Buku ini merupakan buku geografi tertua dalam bahasa Arab.

6.Falsafat

Kaum Muslimin baru mengenal falsafat setelah mereka bergaul dengan bangsa-bangsa lain, seperti Yunani, Persia, dan India. setelah buku-buku falsafat mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa Dinasti Abbasiyah. Filosof Muslim pertama adalah Al-Kindi (194 – 260 H / 809 – 873 M) dia dijuluki sebagai filosof Arab karena dialah satu-satunya orang Arab yang menekuni falsafat.

Selain Dinasti Abbasiyah, pada masa yang hampir bersamaan juga berkembang Dinasti Umayyah di Andalusia. Dinasti ini didirikan oleh Abdurrahman ad-Dakhil yang berhasil melarikan diri ke Andalusia setelah runtuhnya Dinasti Umayyah di Damaskus. Di bawah kepemimpinannya, Andalusia berkembang menjadi pusat peradaban Islam di Eropa. Kota Cordoba terkenal dengan kemajuan dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, arsitektur, dan kebudayaan.

Meskipun demikian, Dinasti Abbasiyah tetap menjadi pusat peradaban Islam yang paling berpengaruh karena berhasil menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan dan melahirkan banyak ilmuwan yang kontribusinya dirasakan hingga saat ini. Dengan demikian, pada masa Abbasiyah dan Umayyah di Andalusia, peradaban Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga dikenal sebagai salah satu periode kejayaan Islam dalam sejarah dunia.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu masa kejayaan dalam sejarah peradaban Islam. Pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Mansur, Harun Al-Rasyid, dan Al-Makmun, Dinasti Abbasiyah berhasil mencapai berbagai kemajuan dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Keberhasilan para khalifah dalam menjaga kestabilan pemerintahan serta mengembangkan Kota Baghdad sebagai pusat peradaban Islam menjadi faktor penting dalam kemajuan tersebut.

Selain itu, perhatian pemerintah terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan mendorong berkembangnya berbagai lembaga pendidikan, perpustakaan, dan rumah sakit. Kegiatan penerjemahan buku-buku dari berbagai peradaban ke dalam bahasa Arab juga memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa ini lahir banyak ilmuwan terkenal, seperti Al-Khawarizmi dalam bidang matematika, Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Jabir bin Hayyan dalam bidang kimia, serta Al-Farabi dalam bidang filsafat. Oleh karena itu, Dinasti Abbasiyah dikenal sebagai masa keemasan Islam yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia hingga saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Syamsul Munir. (2015). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Amzah.
Hasjmy, A. (1993). Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta : Bulan Bintang.
Nasution, Syamruddin. (2013). Sejarah Peradaban Islam. Pekan Baru : Yayasan Pusaka Riau.
Syalabi, Ahmad. (2003). Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta : Pustaka Al-Husna.
Yatim, Badri. (2018). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Atira Ritonga

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab  UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan