RisetAnakBangsa.id-Ada masa ketika hari Minggu tidak lagi berarti istirahat. Ketika sebagian orang memilih menghabiskan akhir pekan bersama keluarga atau sekadar memulihkan tenaga setelah bekerja selama enam hari, seorang ahli gizi justru kembali mengenakan seragamnya dan berjalan menuju rumah sakit.

Hampir satu tahun ia menjalani kehidupan dengan ritme yang tidak biasa. Senin hingga Sabtu dihabiskan untuk mengikuti pendidikan profesi dietisien. Hari-harinya dipenuhi praktik di berbagai institusi, mendiskusikan kasus pasien, membaca jurnal, menyusun laporan, hingga mempersiapkan presentasi. Ketika Minggu tiba, ia kembali bekerja sebagai ahli gizi untuk tetap memberikan pelayanan kepada pasien.

Bukan karena lelah tak pernah datang. Justru kelelahan menjadi bagian yang hampir selalu hadir dalam kesehariannya. Namun di antara jadwal yang padat dan waktu istirahat yang semakin sedikit, ada satu keyakinan yang membuat langkahnya tetap berjalan: mimpi besar terkadang memang meminta seseorang mengorbankan kenyamanan hari ini demi menjadi lebih baik pada masa depan.

Perjalanan itu bukan dimulai ketika ia mengambil pendidikan profesi dietisien. Jauh sebelumnya, dunia gizi telah lebih dahulu mempertemukannya dengan banyak kisah manusia.

Saat pertama kali bekerja sebagai ahli gizi di rumah sakit, ia sempat membayangkan pekerjaan itu akan banyak berkaitan dengan makanan dan penyusunan menu. Kenyataannya jauh lebih dalam.

Di rumah sakit, ia bertemu dengan pasien yang kehilangan nafsu makan akibat kemoterapi. Ia melihat pasien stroke yang harus perlahan belajar makan kembali. Ia juga berhadapan dengan pasien diabetes yang harus mengubah kebiasaan hidup setelah bertahun-tahun menjalani pola makan yang kurang sehat.

Dari pengalaman itulah ia mulai memahami bahwa makanan yang diberikan kepada pasien tidak hanya berisi kalori dan zat gizi.

Di dalamnya ada harapan.

Harapan agar tubuh kembali kuat. Harapan agar pengobatan berjalan lebih baik. Bahkan bagi sebagian pasien, terapi gizi menjadi salah satu bagian penting dalam perjuangan mereka untuk pulih.

Pandangan terhadap profesinya pun berubah. Menjadi ahli gizi bukan lagi sekadar pekerjaan menghitung kebutuhan kalori. Ada tanggung jawab besar untuk membantu seseorang memiliki kesempatan menjalani kehidupan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik.

Perjalanan karier kemudian membawanya melihat dunia gizi dari sisi yang lebih luas.

Selain bekerja di rumah sakit, ia juga pernah berkecimpung sebagai ahli gizi olahraga. Di lingkungan ini, tantangannya berbeda. Jika di rumah sakit ilmu gizi digunakan untuk membantu pasien pulih dari penyakit, di dunia olahraga pengetahuan yang sama digunakan untuk membantu atlet mencapai performa terbaik.

Febri Dwisinta Mahasiswa Asal Muara Dua, Sumatera Selatan

Ia terlibat dalam pengelolaan katering atlet, menghitung kebutuhan energi, menyusun menu sebelum pertandingan, memastikan keamanan makanan, hingga menyesuaikan kebutuhan protein dengan program latihan.

Pengalaman tersebut semakin membuka matanya bahwa ilmu gizi tidak memiliki ruang kerja yang sempit.

Seorang ahli gizi bisa berada di ruang perawatan pasien, tetapi juga dapat berdiri di dekat lapangan pertandingan. Bisa mendampingi seseorang yang sedang berjuang sembuh, sekaligus membantu seorang atlet mencapai kemampuan terbaiknya.

Semakin lama menekuni profesinya, ia semakin menyadari bahwa dunia kesehatan terus bergerak. Ilmu berkembang, pedoman terapi diperbarui, dan tuntutan terhadap kompetensi tenaga kesehatan semakin tinggi.

Kesadaran itulah yang kemudian membawanya mengambil keputusan besar untuk melanjutkan pendidikan profesi dietisien.

Keputusan tersebut terdengar sederhana, tetapi pelaksanaannya jauh dari mudah.

Pendidikan profesi menuntut praktik hampir setiap hari. Sementara di sisi lain, ia telah memiliki pekerjaan dan tanggung jawab terhadap pasien di rumah sakit.

Sebelum memulai pendidikan, berbagai koordinasi harus dilakukan dengan pihak rumah sakit. Jadwal kerja perlu disesuaikan agar pendidikan dapat tetap berjalan tanpa membuatnya meninggalkan tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan.

Akhirnya, sebuah jalan tengah ditemukan.

Senin hingga Sabtu ia menjalani pendidikan profesi. Setiap Minggu ia kembali ke rumah sakit.

Hari libur berubah menjadi hari pengabdian.

Keputusan itu membuat waktu istirahatnya berkurang drastis. Namun kepercayaan yang diberikan rumah sakit justru menjadi salah satu sumber kekuatan. Ia masih dapat menjaga komitmen kepada tempatnya mengabdi, sekaligus terus mengembangkan kemampuan melalui pendidikan profesi.

Baginya, perjalanan tersebut bukan sekadar perjuangan membagi waktu antara bekerja dan belajar. Ada dua tanggung jawab yang sedang ia jaga sekaligus: tanggung jawab untuk terus berkembang dan tanggung jawab untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.

Pendidikan profesi itu kemudian membawanya memasuki berbagai lingkungan pelayanan kesehatan.

Ia menjalani praktik di rumah sakit tipe A, rumah sakit tipe B, puskesmas, hingga institusi penyelenggaraan makanan. Setiap tempat menghadirkan persoalan, pengalaman, dan pelajaran yang berbeda.

Di rumah sakit, ia berhadapan dengan pasien gagal ginjal, kanker, stroke, diabetes, hingga pasien dengan kondisi kritis di ruang ICU.

Ruang ICU menjadi salah satu tempat yang semakin memperdalam penghargaan terhadap profesinya.

Di ruangan itu, nutrisi tidak lagi dapat dipandang sebagai sesuatu yang sederhana. Ada pasien yang hidupnya sangat bergantung pada terapi nutrisi. Setiap gram protein harus diperhitungkan dengan cermat. Setiap mililiter cairan harus diperhatikan. Setiap keputusan dapat berpengaruh terhadap kondisi dan proses penyembuhan pasien.

Di sanalah makna pekerjaannya terasa semakin nyata.

Apa yang terlihat sebagai angka dalam sebuah perhitungan gizi sesungguhnya berkaitan dengan kehidupan seseorang.

Pengalaman di puskesmas kembali memperluas sudut pandangnya. Jika rumah sakit banyak mengajarkannya tentang membantu orang yang telah sakit, puskesmas memperlihatkan pentingnya menjaga masyarakat agar tidak jatuh sakit.

Ia belajar menyusun program gizi, melakukan advokasi, turun langsung ke masyarakat, berinteraksi dengan ibu hamil, mendampingi kader, membahas persoalan stunting, hingga menyusun solusi bersama lintas sektor.

Dari sana ia menyadari bahwa peran seorang dietisien jauh melampaui ruang rumah sakit.

Profesi ini bukan hanya berbicara tentang penyembuhan, tetapi juga pencegahan. Bukan hanya mendampingi pasien, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar mampu menjaga kesehatannya.

Pendidikan profesi bahkan membawanya melihat kemungkinan lain yang sebelumnya mungkin tidak terlalu terpikirkan.

Ia belajar mengelola penyelenggaraan makanan, membangun praktik mandiri, menghadapi klien, memberikan konsultasi secara daring, hingga melihat peluang membangun usaha di bidang gizi.

Dunia dietisien ternyata jauh lebih luas daripada sekadar bekerja di sebuah rumah sakit.

Ada ruang pelayanan, pendidikan, olahraga, masyarakat, konsultasi, bahkan kewirausahaan.

Namun dari seluruh pengalaman itu, pelajaran terbesar yang ia bawa pulang bukanlah tentang banyaknya peluang pekerjaan.

Pelajaran terbesarnya adalah kesadaran bahwa seorang tenaga kesehatan tidak boleh berhenti belajar.

Hampir satu tahun menjalani hari-hari yang panjang, kehilangan banyak waktu istirahat, berpindah dari ruang praktik ke rumah sakit, dan berhadapan dengan beragam kondisi pasien tidak membuatnya menyesali jalan yang telah dipilih.

Sebaliknya, perjalanan itu semakin meneguhkan keyakinannya bahwa memperbarui ilmu merupakan bagian dari tanggung jawab profesi.

Karier memang penting. Gelar juga memiliki arti. Namun kompetensi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar ketika profesi yang dijalani bersentuhan langsung dengan kesehatan dan kehidupan manusia.

Sebab ilmu yang dipelajari seorang tenaga kesehatan pada akhirnya tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Ilmu itu hadir kembali ketika seorang pasien membutuhkan bantuan. Ketika seorang ibu membutuhkan pendampingan. Ketika seorang atlet berusaha mencapai performa terbaik. Ketika masyarakat membutuhkan edukasi. Dan ketika seseorang sedang berjuang mendapatkan kembali kesehatannya.

Perjalanan panjang itu akhirnya menunjukkan satu hal sederhana: tidak semua perjuangan besar terlihat dramatis.

Kadang perjuangan hadir dalam bentuk bangun pagi setelah tubuh kelelahan.

Dalam bentuk kembali membuka jurnal ketika mata ingin terpejam.

Dalam bentuk tetap mengenakan seragam pada hari Minggu ketika orang lain sedang beristirahat.

Dalam bentuk memilih terus belajar ketika sebenarnya seseorang sudah memiliki pekerjaan dan karier.

Semua itu dilakukan bukan semata-mata untuk menambah gelar di belakang nama.

Karena gelar mungkin akan tetap tertulis pada satu nama. Namun ilmu yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dapat menjangkau kehidupan banyak orang.

Dan barangkali, di situlah arti paling indah dari sebuah profesi: ketika perjuangan untuk menjadi lebih baik pada akhirnya menjadi harapan bagi orang lain.