Muhmin Adrian Daulay
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan
RisetAnakBangsa.id-Perkembangan teknnologi AI kini telah membawa perubahan yang signifikan dari berbgai sektor, termasuk perguruan tinggi. Salah satu implementasi dengan potensi yang menjanjikan dari AI di bidang pendidikan adalah personalisasi pembelajaran yang bertujuan untuk membantu meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa dengan menyesuaikan kebutuhan mahasiswa. Penggunaan AI dalam pembelajaran mahasiswa juga menawarkan potensi untuk meningkatkan efektifitas pendidikan, meningkatkan keterlibatan mahasiswa, yang ada akhirnya membeerikan dampak positif pada hasil belajar mahasiswa. (Maulina M,ett.all.,2024)
Salah satu kecerdasan buatan atau AI yang populer di kalangan mahasiswa saat berdiskusi di perguruan tinggi adalah ChatGPT, singkatan dari Generative Pre-trained Transformer, merupakan salah satu model kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh OpenAI. Pertama kali diperkenalkan pada tahun 2018, model ini terus mengalami perkembangan hingga mencapai versi terbaru yang dirilis pada tahun 2020. Awalnya, desain model ini ditujukan untuk menyelesaikan tugas-tugas pemrosesan bahasa alami, seperti penerjemahan mesin, analisis sentimen, dan pengenalan entitas. Namun, dengan perkembangan pesat, model ini mampu diimplementasikan dalam berbagai aplikasi seperti chatbot, penulis otomatis, dan bahkan pembuatan gambar. Dalam implementasinya, ChatGPT menggunakan set data pelatihan yang sangat besar untuk memahami bahasa secara umum, kemudian menerapkannya pada tugastugas beragam yang melibatkan pemahaman dan penyelesaian masalah teks. Hasilnya, ChatGPT dapat menghasilkan teks yang sangat mirip dengan gaya manusia dan berinteraksi dengan pengguna seperti teman atau asisten virtual. (Enri Akbar, 2024)
Artificial Intelligence (AI) memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan yang memudahkan orang-orang saat menggunakannya, menurut M.Husaini & Luluk dalam penelitiannya dikatakan bahwa kelebihan dari AI (ChatGPT) yaitu :
- Mudah diakses, keunggulan dari ChatGPT adalah bahasa yang digunakan mudah dipahami, karena informasi yang diberikan muncul secara spesifik dan jelas sesuai dengan perintah dari pengguna, dikarenakan ChatGPT menggunakan bahasa yang natural atau human friendly dalam menjawab ataupun memberikan informasi, sehingga pengguna dapat berinteraksi seperti layaknya manusia,
- Bersifat adaptif, karena bisa menyesuaikan dengan kemampuan dari para penggunanya yaitu menyesuaikan tingkat kesulitan konten secara real time untuk memastikan bahwa konten tersebut sesuai.
- Mampu untuk melakukan perintah dari pengguna dalam hal penulisan, seperti membuat puisi, kerangka penelitian, pantu novel, dan lain sebagainya dalam waktu yang sangat singkat.
Sedangkan kekurangan ChatGPT ialah:
- Informasi atau data yang diberikan ChatGPT belum update kurang lebih selama dua tahun terakhir
- Teks yang dihasilkan sebagian besar dangkal, hambar, kering, dan umum, tidak memiliki “suara” yang berbeda, masih terlihat bahasa robotic
- Belum mampu memberikan data yang bersumber dari jurnal-jurnal yang
- Informasi yang diberikan oleh ChatGPT masih terdapat beberapa kekeliruan. (M Husaini & Luluk, 2024)
ChatGPT atau AI memberikan pengaruh positif dan negatif kepada mahasiswa dalam penggunaan ChatGPT. Salah satu alasan utama mahasiswa memandang ChatGPT positif ialah kemudahan akses dan penggunannya, mampu menyediakan informasi yang luas dan relevan untuk berbagai bidang. Ada juga beberapa mahasiswa menyampaikan bahwa ChatGPT mendorong mereka untuk belajar lebih aktif. Sedangkan persepsi negatif mahasiswa terhadap penggunaan ChatGPT ialah,
ketergantungan pada ChatGPT yang dapat mengurangi motivasi untuk belajar secara mandiri serta cenderung menjadi pasif saat proses pembelajaran dikelas. ChatGPT juga dianggap berkontribusi pada penurunan keterampilan berpikir kritis di kalangan mahasiswa. Karena alat ini memberikan jawaban langsung dan sering kali dianggap valid, mahasiswa cenderung tidak mempertanyakan keakuratan atau relevansi informasi yang diterima. (M Hafidz, 2024)
Salah satu bentuk ketergantungan ini terlihat pada penggunaan ChatGPT sebagai alat bantu belajar. Banyak mahasiswa cenderung mengandalkan ChatGPT untuk menyelesaikan tugas akademik tanpa melakukan analisis mendalam, yang berpotensi menghambat perkembangan keterampilan berpikir kritis mereka. Oleh karena itu, diperlukan regulasi serta pendekatan yang bijak dalam pemanfaatan AI agar teknologi ini tetap menjadi alat yang mendukung pembelajaran tanpa menggantikan peran utama mahasiswa dalam proses akademi. (Risqah, 2025 ,Burhan & Munir, 2025)
Secara keseluruhan AI memberikan dampak positif dan negatif kepada mahasiswa, akan tetapi perguruan tinggi harus dapat memastikan jika mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi praktis. Keterampilan seperti berpikir kritis, komunikasi efektif, kerjasama tim, serta kepemimpinan menjadi aspek yang sangat penting untuk dikembangkan, supaya mahasiswa bisa mencapai kesuksesan di berbagai konteks pekerjaan. Pendidikan tinggi, sebagai entitas pembelajaran, memegang peranan penting dalam menghadapi kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI). (Khoirul Marlina, 2023)

Leave a Reply