RisetAnakBangsa.id-Harta atau kekayaan adalah salah satu hal yang paling sering dibahas di dalam Al-Qur’an, mulai dari hakikat, cara mendapatkannya, sampai cara menggunakannya. Pembahasan ini tidak disampaikan sekaligus, tapi turun perlahan-lahan mengikuti perkembangan zaman dan keadaan masyarakat saat itu. Para ahli membagi ayat Al-Qur’an jadi dua kelompok besar: ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah. Pembagian ini bukan cuma soal tempat turunnya, tapi juga isi, tujuan, dan cara penyampaiannya.
Ayat Makkiyah turun waktu Nabi Muhammad SAW masih berdakwah di Mekkah, sebelum pindah ke Madinah. Waktu itu dakwah masih tahap awal, jumlah umat Islam masih sedikit, dan belum ada pemerintahan yang kuat. Sedangkan ayat Madaniyah turun setelah Nabi hijrah ke Madinah, saat umat Islam sudah banyak, sudah terbentuk negara, dan kehidupan masyarakat sudah teratur rapi.
Konsep Harta dalam Ayat-Ayat Makkiyah
Dulu masyarakat Arab punya pandangan kalau harta itu tanda kemuliaan, kehormatan, dan kekuasaan. Orang kaya dianggap paling mulia, paling dekat sama tuhan-tuhan mereka, sedangkan orang miskin dianggap rendah dan tidak berharga. Kebiasaan mereka suka mengumpulkan harta, menimbun emas dan perak, enggan berbagi, dan bangga banget kalau punya banyak barang.
Ayat Makkiyah turun buat meluruskan pemahaman yang salah ini, lebih menekankan hubungan manusia sama Tuhan, hati, keimanan, dan pembentukan karakter.
Harta Milik Allah, Manusia Cuma Penitip Hakikatnya, semua kekayaan di langit dan di bumi itu milik Allah semata. Manusia cuma dikasih amanah buat mengelola dan menikmati sebentar saja, bukan pemilik asli. Di dalam Surah Al-Ankabut ayat 60, Allah berfirman yang berbunyi:
وَكَاَيِّنْ مِّنْ دَاۤبَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَاۖ اللّٰهُ يَرْزُقُهَا وَاِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Dan Kami jadikan apa yang ada di bumi sebagai hiasan buat manusia, supaya Kami uji mereka, siapa yang paling baik amalnya.”Zulfikar (2018) menjelaskan kalau harta bisa jadi berkah atau malah bencana, semua tergantung gimana sikap pemiliknya.
Allah mau lihat, kalau dikasih banyak, kita jadi orang yang bersyukur dan taat, atau malah lupa diri dan sombong. Diingatkan berkali-kali kalau harta dan anak itu cuma hiasan dunia yang tidak bakal awet selamanya.
Dilarang Menimbun, Wajib Berbagi Walaupun aturan zakat yang rinci belum turun di masa Mekkah, semangat berbagi sudah ditanamkan dengan kuat. Di Surah Al-Ma’un ayat 1-3, Allah mengingatkan yang berbunyi.
اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ ١
فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ ٢
وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ ٣
Orang beriman dipuji kalau mau menyisihkan sebagian hartanya buat kerabat, anak yatim, orang miskin, dan musafir. Kebiasaan menimbun harta tanpa dipakai diperingati keras sebagai perbuatan yang buruk dan merugikan diri sendiri.
Sifat Harta yang Sementara dan Mudah Hilang Ayat Makkiyah sering banget mengingatkan kalau dunia dan isinya itu sementara saja, bakal habis dan pasti ditinggal. Di Surah Al-Hadid ayat 20 yang berbunyi:
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ ٢٠
“Ketahuilah, hidup di dunia itu cuma main-main, hiburan, hiasan, dan bangga-banggain diri sama harta dan anak. Itu kayak hujan yang bikin tanaman tumbuh subur, lalu kering dan jadi jerami yang diterbang angin.
Konsep Harta dalam Ayat-Ayat Madaniyah
Setelah pindah ke Madinah, keadaan berubah drastis. Umat Islam jadi banyak, terbentuk negara, ada aturan pemerintahan, hubungan sosial dan ekonomi makin rumit. Ayat Madaniyah turun dengan pembahasan yang lebih lengkap, ada hukum, aturan nyata, dan pengaturan kemasyarakatan. Kalau ayat Makkiyah tugasnya mengubah hati dan cara pandang, ayat Madaniyah tugasnya mengatur tindakan dan sistem kehidupan.
Kewajiban Zakat: Membersihkan Harta dan Membagi Rezeki Di sini zakat ditetapkan jadi kewajiban mutlak dan salah satu tiang agama. Di Surah At-Taubah ayat 103, Allah berfirman:
خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ١
“Ambillah sebagian harta mereka jadi zakat, supaya kamu bersihkan dan sucikan mereka dengan harta itu, dan doakanlah buat mereka. Doamu itu jadi ketenangan hati buat mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Riwayati (2018) menjelaskan di sini sudah diatur rinci jenis harta yang wajib dizakati, berapa ukurannya, jumlah yang harus dikeluarkan, dan siapa saja yang berhak menerimanya. Zakat fungsinya menyucikan harta dan jiwa pemiliknya, sekaligus menjamin sebagian kekayaan mengalir ke orang yang butuh, supaya harta tidak cuma berputar di tangan orang kaya saja. Jadi jelas, harta itu bukan milik pribadi murni, tapi ada hak masyarakat di dalamnya.
Aturan Halal Haram: Cara Cari Harta yang Benar Dijelaskan tegas cara mencari dan mengelola harta yang halal dan yang haram. Termasuk larangan riba, menipu, curang timbangan, menimbun barang supaya harga naik, berjudi, dan cara curang lainnya. Di Surah Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi:
اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ٢٧٥
“Celaka buat orang yang suka curang menakar atau menimbang. Kalau dia terima ukuran dari orang lain, dia minta penuh banget. Tapi kalau dia yang ukur atau timbang buat orang lain, dia kurangi.”
Rodin (2015) menekankan ekonomi Islam mewajibkan keadilan, tidak boleh merugikan orang lain. Jual beli yang benar harus jujur, jelas, dan saling ridho satu sama lain. Harta itu cuma bernilai dan berkah kalau didapat dari jalan yang halal.
Pembagian Warisan: Menjaga Hak Milik dan Persaudaraa Hukum pembagian harta warisan diatur sangat rinci dan adil dalam Surah An-Nisa ayat 11.yang berbunyi:
يُوْصِيْكُمُ اللّٰهُ فِيْٓ اَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۚ فَاِنْ كُنَّ نِسَاۤءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَۚ وَاِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُۗ وَلِاَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ اِنْ كَانَ لَهٗ وَلَدٌۚ فَاِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلَدٌ وَّوَرِثَهٗٓ اَبَوٰهُ فَلِاُمِّهِ الثُّلُثُۚ فَاِنْ كَانَ لَهٗٓ اِخْوَةٌ فَلِاُمِّهِ السُّدُسُ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْ بِهَآ اَوْ دَيْنٍۗ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًاۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا ١١
Harta untuk Kepentingan Umum dan Negara Harta juga diatur buat keperluan masyarakat luas, seperti biaya pertahanan negara, menolong orang yang punya utang berat, memerdekakan budak, dan kemajuan umat. Di Surah At-Taubah ayat 41 diperintahkan yang berbunyi:
اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٤١
“Berangkatlah kamu, baik yang ringan maupun yang berat, dan berjuanglah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Itu lebih baik buat kamu, kalau kamu paham.”
Ulya & Hafizullah (2020) menyebutkan konsep jihad itu juga ada hubungannya sama pengorbanan harta demi tegaknya agama dan kesejahteraan umum. Jadi jelas, harta punya fungsi sosial yang besar, bukan cuma buat diri sendiri dan keluarga dekat saja.
Sanksi Tegas buat Penyalahgunaan Harta Di ayat Madaniyah ada ancaman keras bagi yang suka salah pakai harta, pelit, menimbun, atau cari uang dari jalan haram. Di Surah At-Taubah ayat 34 yang berbunyi:
يَّوْمَ يُحْمٰى عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوٰى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْۗ هٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ ٣
“Wahai orang beriman, banyak ahli agama dan rahib yang makan harta orang dengan cara salah dan menghalangi orang dari jalan Allah. Dan orang yang menimbun emas dan perak tapi tidak infakkan di jalan Allah, kabarkan hukuman yang pedih buat mereka.”Diingatkan sanksi di dunia dan di akhirat, supaya orang takut dan mau menjaga aturan Allah soal kekayaan.
Hubungan dan Keselarasan Makkiyah dan Madaniyah
Kedua jenis ayat ini sama sekali tidak bertentangan, malah saling isi dan melengkapi sampai jadi satu pandangan yang utuh. Solahudin (2016) menyebutkan penurunan ayat bertahap ini adalah kebijaksanaan Allah, menyesuaikan kemampuan dan kesiapan manusia saat itu.
Ayat Makkiyah tugasnya membangun pondasi: mengubah cara pandang, menanamkan iman, menjelaskan hakikat harta, dan menanamkan rasa suka berbagi. Tanpa pondasi ini, aturan hukum di ayat Madaniyah cuma jadi beban berat tanpa ada rasa ikhlas di hati.
Ayat Madaniyah tugasnya membangun bangunan di atas pondasi itu: mengubah prinsip jadi aturan nyata, kewajiban yang jelas, sistem ekonomi, dan hukum yang tegas. Tanpa ini, ajaran Makkiyah cuma jadi angan-angan saja tanpa bukti nyata di kehidupan.
Keseimbangan ini bikin pandangan Islam jadi pas dan indah: tidak melarang orang jadi kaya tapi melarang orang jadi gila harta; tidak melarang nikmati dunia tapi selalu ingat akhirat; mengajarkan cari uang halal dan harus mau berbagi. Suryani (2017) menambahkan penjelasan Surah At-Taubah juga mempertegas kewajiban mengeluarkan harta demi kepentingan agama dan sesama manusia.
Kesimpulan
Konsep harta dalam Al-Qur’an diturunkan secara bertahap, ayat Makkiyah dan Madaniyah saling isi dan lengkapi satu sama lain. Ayat Makkiyah menanamkan pemahaman dasar: harta itu milik Allah, amanah yang harus dijaga, ujian hidup, bersifat sementara, dan harus ada yang dibagi ke orang lain. Ayat Madaniyah mewujudkan pemahaman itu jadi aturan nyata: ada zakat, aturan halal haram, hukum warisan, dan fungsi sosial yang jelas. Paham lengkap kedua-duanya bikin sikap kita sebagai muslim jadi benar dan seimbang: berusaha sekuat tenaga cari harta dari jalan halal, sadar itu cuma titipan Allah, siap berbagi dan tunaikan kewajiban, serta jadikan harta sebagai alat buat beribadah.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan, Mohammad. “Wajah Islam Priode Makkah-Madinah dan Khulafaurrasyidin,”
Cendekia: Jurnal Studi Keislaman 5, no. 1 (2019).
Ahyuni, Alfi. “Konteks Hijrah Nabi Muhammad Saw Dari Mekkah Ke Madinah
Melalui Dakwah Individual Ke Penguatan Masyarakat.” Mamba’ul ‘Ulum (2019).
Al-Baqi, Muhammad Fuad ‘Abd. al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fazi al-Qur’an al-
Karim. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Al Kausari, M. Arif. “Etika Bisnis Islam Telaah Surat Al-Isra’ayat 35, Hud: 84, Dan
Surat Al-A’raf Ayat: 34 Tentang Memenuhi Takaran Dalam Timbangan.” el-Umdah 4, no. 2 (2021).
Al-Qurthubi, Muhammad al-Anshari. al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an. Beirut: al-Risalah,
2006.
Al-Razi, Muhammad Fakhruddin. Tafsir Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Al-Sa’di, Abdurrahman. Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan. Riyad:
Dar al-Salam, 2002.
Al-Thabari, Muhammad Ibn Jarir. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an. Beirut:
Muassasah al-Risalah, 1994.

Elsa Febrianti
Mahasiswa Teknologi Informasi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Leave a Reply