RisetAnakBangsa.id-Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang tidak hanya berisi ajaran tentang ibadah dan hukum, tetapi juga memuat banyak kisah yang penuh pelajaran hidup. Al-Qur’an memuat berbagai kisah umat terdahulu yang memiliki banyak hikmah dan pelajaran hidup. Kisah-kisah tersebut dapat memperkuat keimanan serta membentuk akhlak dan budi pekerti yang baik bagi seorang muslim.
Salah satu kisah yang paling menarik dalam al-Qur’an adalah kisah Nabi Yusuf. Kisah ini terdapat pada Surah Yusuf. Surah ini memiliki keistimewaan dibandingkan surah-surah lain dalam al-Qur’an, terutama dari segi penyampaian kisahnya. Kisah dalam surah ini disampaikan secara lengkap dan tidak diulang pada surah lain, berbeda dengan kisah Nabi Musa yang diceritakan kembali dalam beberapa surah di al-Qur’an.
Sebagai seorang muslim, kita harus memahami nilai-nilai mulia yang terkandung dalam al-Qur’an. Di dalamnya terdapat banyak pelajaran hidup yang dapat dijadikan pedoman agar menjadi pribadi yang lebih baik. Kisah kehidupan umat terdahulu juga dapat dijadikan pelajaran dan bahan refleksi supaya kesalahan yang pernah terjadi tidak terulang kembali di masa mendatang. Dengan demikian, kehidupan yang sebelumnya kurang baik dapat diperbaiki menjadi lebih baik lagi.
Oleh karena itu, artikel ini akan membahas hikmah dari kisah Nabi Yusuf AS serta pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ringkasan Kisah Nabi Yusuf AS
Nabi Yusuf AS adalah putra Nabi Ya’qub AS, beliau sangat disayang dan dimanja oleh ayahnya. Nabi Yusuf AS dikenal memiliki wajah yang tampan dan sangat disayangi oleh ayahnya itu membuat saudara-saudaranya iri dan dengki. Karena rasa iri dan cemburu tersebut saudara-saudaranya berencana menyingkirkan beliau dengan memasukkannya ke dalam sumur.
Pada suatu malam Nabi Yusuf bermimpi. Di dalam mimpinya, Nabi Yusuf melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Lalu beliau menceritakan mimpinya kepada ayahnya. Seperti yang kita ketahui dalam QS. Yusuf (12): 4.
اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ ٤
Artinya: (Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya (Ya‘qub), “Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Aku melihat semuanya sujud kepadaku.”
Namun, Nabi Ya’qub berkata untuk jangan menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Dalam QS. Yusuf (12): 5.
قَالَ يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًاۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٥
Artinya: Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu karena mereka akan membuat tipu daya yang sungguh-sungguh kepadamu. Sesungguhnya setan adalah musuh yang jelas bagi manusia.”
Maksud dari mimpi Nabi Yusuf adalah beliau akan mendapatkan kedudukan yang mulia di kemudian hari. Akan tetapi salah seorang saudaranya mendengar pembicaraan itu. Dan membuat kebenciannya semakin memuncak sehingga mereka melakukan perbuatan jahat kepada Nabi Yusuf, yaitu dengan memasukkannya ke dalam sumur.
Dan datanglah sekelompok musafir yang ingin mengambil air di sumur. Mereka menemukan Yusuf berada di dalamnya, kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan lalu menjualnya ke Mesir sebagai budak.
Setelah dijual di Mesir, Nabi Yusuf AS dibeli oleh seseorang dan dijadikan anak. Karena ketampanan dan akhlaknya, beliau justru mendapatkan fitnah hingga akhirnya Nabi Yusuf AS dipenjara. Meskipun demikian, Nabi Yusuf tetap beribadah kepada Allah SWT. Beliau juga melakukan dakwah di penjara dan bahkan membantu menafsirkan mimpi para tahanan.
Karena kemampuannya itu beliau akhirnya dipanggil oleh Raja Mesir untuk menafsirkan mimpinya. Setelah berhasil menafsirkan mimpi raja dengan benar, Nabi Yusuf AS dipercaya menjadi orang penting di Mesir. Hingga akhirnya beliau dipertemukan kembali dengan keluarganya dan memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan saudara-saudaranya kepadanya.
Hikmah Kisah Nabi Yusuf AS
Mengajarkan Sikap Sabar
Kisah Nabi Yusuf AS memberikan pelajaran tentang pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian hidup. Nabi Yusuf AS mengalami banyak cobaan, mulai dari dibenci saudara-saudaranya, dimasukkan ke dalam sumur, dijual sebagai budak, hingga dipenjara karena fitnah. Meskipun mengalami berbagai penderitaan, beliau tetap bersabar dan tidak pernah putus asa terhadap pertolongan Allah SWT. Sikap sabar tersebut akhirnya membawa Nabi Yusuf AS menjadi seseorang yang dihormati dan dipercaya di Mesir. Dari kisah ini dapat dipahami bahwa setiap ujian yang diberikan Allah SWT pasti memiliki hikmah dan tujuan yang baik bagi kehidupan manusia.
Pentingnya Bersikap Jujur
Selain sabar, Nabi Yusuf AS juga memiliki sifat jujur dan amanah. Dalam keadaan sulit sekalipun, beliau tetap menjaga kehormatan dan tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Sikap jujur yang dimiliki Nabi Yusuf AS membuat beliau dipercaya oleh banyak orang hingga akhirnya diangkat menjadi orang penting di Mesir. Oleh karena itu, kejujuran merupakan salah satu sikap yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Belajar Menjadi Pemaaf
Nabi Yusuf AS juga menunjukkan sikap pemaaf kepada saudara-saudaranya yang dahulu telah berbuat jahat kepadanya. Ketika bertemu kembali, beliau tidak membalas dendam, melainkan memaafkan kesalahan mereka dengan ikhlas. Sikap tersebut menunjukkan bahwa memaafkan orang lain merupakan akhlak yang mulia dan dapat menciptakan hubungan yang harmonis antarsesama manusia.
Selalu Bertawakal kepada Allah SWT
Dalam setiap keadaan, Nabi Yusuf AS selalu berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT. Beliau percaya bahwa Allah SWT akan memberikan jalan terbaik dalam setiap ujian kehidupan. Sikap tawakal ini menjadi pelajaran penting bagi setiap umat Islam agar selalu berserah diri kepada Allah SWT setelah berusaha dengan sungguh-sungguh. Dengan bertawakal, hati akan lebih tenang dan tidak mudah putus asa ketika menghadapi masalah.
Bentuk ketakwaan dan kepasrahan Nabi Yusuf AS kepada Allah SWT dapat dilihat melalui doa beliau dalam QS. Yusuf (12): 101.
رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ١٠١
Artinya: Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.”
Penutup
Kisah Nabi Yusuf AS merupakan salah satu kisah dalam Al-Qur’an yang mengandung banyak hikmah dan pelajaran hidup. Melalui kisah tersebut, umat Islam dapat belajar tentang pentingnya sikap sabar, jujur, pemaaf, dan selalu bertawakal kepada Allah SWT dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Meskipun Nabi Yusuf AS menghadapi berbagai cobaan, beliau tetap memiliki keimanan yang kuat dan tidak pernah putus asa terhadap pertolongan Allah SWT.
Oleh karena itu, kisah Nabi Yusuf AS dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi generasi muda, agar mampu menjadi pribadi yang berakhlak baik dan selalu berada di jalan yang benar sesuai ajaran Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kementerian Agama RI.
Burhami, Yasir. Yusuf: Sebaik–baik Kisah dalam Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2012.
Hatta, Jauhar. “Urgensi Kisah-kisah dalam Al-Qur’an Al-Karim bagi Proses Pembelajaran PAI pada MI/SD.” Al-Bidayah Jurnal Pendidikan Dasar Islam 1, no. 1, 2009.
Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1998.

Armaisah Sinaga
Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Leave a Reply