Penulis: Mochammad Daffa Putra Anggrianto

Ketika Santri Bertanya kepada Mesin

RisetAnakBangsa.id-Di ruang-ruang kuliah Pendidikan Islam hari ini, ada satu pemandangan yang kian sering dijumpai yakni mahasiswa membuka laptop bukan sekadar untuk mencatat materi, melainkan untuk berdialog dengan ChatGPT. Pertanyaannya pun bukan lagi sebatas hal-hal ringan seperti cuaca atau hiburan, tetapi sudah merambah ke wilayah yang lebih serius mulai dari tafsir ayat, persoalan fikih kontemporer, hingga panduan menulis skripsi yang baik dan benar. Fenomena ini bukan adegan dalam cerita fiksi ilmiah, melainkan realitas yang tengah berlangsung di hadapan para dosen dan kita semua di ruang akademik hari ini.

Survei Tirto bersama Jakpat pada Mei 2024 yang melibatkan 1.501 pelajar SMA dan mahasiswa menemukan bahwa 86,21% dari mereka mengaku memakai AI setidaknya sekali sebulan untuk mengerjakan tugas. Artinya, hampir sembilan dari sepuluh mahasiswa termasuk yang duduk di Fakultas Tarbiyah atau Ushuluddin sudah pernah pakai ChatGPT. Pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka pakai?” tapi justru lebih penting: mereka pakai untuk apa, dan apakah ada bimbingan dari kampusnya?

Indonesia Sudah di Garis Depan, Tapi Siapkah Kita?

Mungkin banyak yang belum tahu seberapa besar Indonesia dalam urusan ChatGPT ini. Per Agustus 2025, Indonesia berada di posisi kelima negara pengakses ChatGPT terbanyak di seluruh dunia, dengan 216 juta kunjungan mengalahkan Jepang, Jerman, dan Prancis sekaligus. Secara global, ChatGPT kini punya lebih dari 400 juta pengguna aktif setiap minggu, dan sebagian besar dari mereka berusia di bawah 24 tahun persis sama dengan usia rata-rata mahasiswa kita. Ironisnya, sementara angkanya meledak seperti ini, respons dari kampus-kampus Islam masih belum jelas. Sebagian melarang tanpa alasan yang kuat, sebagian lain membiarkan tanpa aturan sama sekali. Dua sikap yang sama-sama tidak membantu mahasiswa untuk berkembang.

Perlu di Waspadai Ketika AI Jadi Jalan Pintas

Ini sisi yang perlu diakui dengan jujur. Dari survei yang sama, 51% mahasiswa menyatakan hampir separuh tugas mereka dikerjakan dengan bantuan AI. Bahkan 9,43% menggunakan AI untuk menyelesaikan sekitar 90% tugas kuliah mereka. Bayangkan: seorang calon guru agama yang hampir tidak pernah benar-benar berpikir sendiri dalam membuat tugas. Bukan hanya masalah akademis ini bisa jadi masalah serius di kemudian hari.

Dalam konteks Pendidikan Islam, ancamannya lebih dalam lagi. Mahasiswa yang kelak jadi guru, da’i, atau penyuluh agama, bisa kehilangan kemampuan berpikir sendiri, membaca situasi, dan mengambil keputusan moral secara mandiri. Kalau nalar tumpul, ilmu agama pun ikut dangkal. Penelitian juga menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada ChatGPT bisa melemahkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dan ini bukan sekadar kekhawatiran teori.

Sangat Menjanjikan Ketika AI Sebagai Teman Belajar yang Sabar

Tapi langsung menghakimi ChatGPT sebagai musuh pendidikan Islam juga terlalu terburu-buru. Dalam penelitian terhadap 100 mahasiswa di Indonesia, 75% menyatakan bahwa pakai ChatGPT justru bikin mereka lebih semangat belajar. Masuk akal ChatGPT tidak pernah lelah menjelaskan ulang, tidak pernah menghakimi pertanyaan yang dianggap “noob,” dan bisa diakses kapan saja, bahkan jam dua pagi sebelum ujian.

Bagi mahasiswa Pendidikan Islam yang kesulitan memahami metodologi penelitian atau konsep ilmu kalam yang rumit, ini adalah akses belajar yang merata dan murah. Bahkan 66% dari dosen dan guru yang disurvei dalam penelitian internasional justru mendukung penggunaan ChatGPT bagi mahasiswa sebuah tanda bahwa orang-orang di dalam dunia akademik sendiri sudah mulai melihat potensinya, bukan hanya risikonya.

Lalu, Di Mana Posisi Pendidikan Islam?

Pendidikan Islam punya warisan berpikir yang kaya dari tradisi ijtihad sampai musyawarah ulama dalam menjawab persoalan zaman. Nah, semangat itulah yang seharusnya jadi pedoman dalam menyikapi ChatGPT. Bukan menolak mentah-mentah seperti menutup pintu dari tamu yang belum dikenal, dan bukan juga menerima begitu saja tanpa dipilah-pilah.

Penelitian terkini menyimpulkan bahwa penggunaan ChatGPT sebenarnya bisa meningkatkan kemandirian belajar mahasiswa tapi hanya kalau dipakai dengan cara yang tepat dan ada bimbingan yang jelas. Integrasi AI secara etis dalam program seperti MBKM bukan sesuatu yang mustahil malah sudah direkomendasikan oleh para peneliti. Jadi yang dibutuhkan bukan pelarangan, melainkan panduan yang masuk akal.

Saatnya Kurikulum Bergerak

Masalah utamanya bukan pada ChatGPT itu sendiri masalahnya adalah tidak adanya panduan yang jelas dari institusi. Mahasiswa sebenarnya sudah cukup sadar soal risiko AI, tapi mereka masih lemah dalam mengenali risiko sejak awal memakai. Mereka butuh bimbingan, bukan larangan. Kurikulum Pendidikan Islam sudah saatnya memasukkan literasi AI sebagai bagian nyata dari proses belajar bukan sekadar pelengkap atau sisipan kecil yang tidak dianggap penting.

Kampus-kampus Islam perlu merumuskan aturan main penggunaan AI yang berangkat dari nilai-nilai Islam itu sendiri: kejujuran (shidq), tanggung jawab (amanah), dan kebijaksanaan (hikmah). Karena pada akhirnya, ChatGPT hanyalah alat. Dan seperti pisau, bahayanya bukan pada bendanya tapi pada siapa yang memegangnya dan untuk apa ia digunakan. Mahasiswa Pendidikan Islam punya potensi besar untuk menjadi pengguna AI yang cerdas dan beretika, asalkan kampus mau hadir membimbing, bukan hanya melarang atau diam.