RisetAnakBangsa.id-Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang menjadi pedoman hidup bagi manusia. Sebagai wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Keistimewaan tersebut tidak hanya terletak pada kandungan ajarannya, tetapi juga pada proses pemeliharaan dan penjagaannya yang berlangsung secara berkesinambungan sejak masa Rasulullah SAW hingga sekarang. Allah SWT bahkan menegaskan bahwa Al-Qur’an akan senantiasa dijaga dari segala bentuk perubahan dan penyimpangan.

Salah satu bentuk penjagaan terhadap Al-Qur’an dapat dilihat melalui sistem penulisannya yang dikenal dengan istilah rasm Al-Qur’an. Dalam kajian Ulumul Qur’an, rasm merujuk pada tata cara penulisan mushaf Al-Qur’an yang digunakan oleh para sahabat ketika menyalin mushaf pada masa Khalifah Utsman bin Affan.( Hakmi Hidayat dkk., “Ilmu Rasm Al-Qur’an,” Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia, Vol. 3, No. 3, 2024, hlm. 106.). Sistem penulisan ini kemudian dikenal dengan istilah Rasm Utsmani dan menjadi standar penulisan mushaf hingga saat ini.

Perbedaan tersebut sering menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat. Mengapa beberapa kata dalam Al-Qur’an ditulis tidak sesuai dengan kaidah ejaan Arab yang berlaku saat ini? Apakah bentuk penulisan tersebut memiliki makna tertentu? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan kajian rasm Al-Qur’an menarik untuk dibahas. Dengan memahami rasm, seseorang tidak hanya mempelajari aspek teknis penulisan mushaf, tetapi juga memahami salah satu bukti nyata penjagaan Al-Qur’an sepanjang sejarah.

Pengertian Rasm Al-Qur’an

Secara bahasa, kata rasm berarti jejak, gambar, atau tulisan. Dalam terminologi Ulumul Qur’an, rasm adalah pola atau tata cara penulisan mushaf Al-Qur’an yang digunakan oleh para sahabat berdasarkan petunjuk yang berlaku pada masa kodifikasi mushaf ( Hakmi Hidayat dkk., “Ilmu Rasm Al-Qur’an,” hlm. 107). Penulisan tersebut kemudian dibakukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan sehingga dikenal dengan istilah Rasm Utsmani.

Rasm Utsmani memiliki beberapa kaidah utama, yaitu al-hadzf (penghilangan huruf), az-ziyadah (penambahan huruf), al-badl (penggantian huruf), al-fashl wa al-washl (pemisahan dan penyambungan kata), serta penulisan hamzah dalam bentuk tertentu.( Raudhatul Fidyani dkk., “Analisis Kaidah Al-Badal pada Rasm ‘Utsmani dalam Mushaf Al-Qur’an,” JIQTA, Vol. 4, No. 2, 2025, hlm. 87). Kaidah-kaidah tersebut menunjukkan bahwa penulisan Al-Qur’an memiliki aturan tersendiri yang tidak selalu mengikuti kaidah bahasa Arab modern.

Sejarah Lahirnya Rasm Utsmani

Sejarah rasm Al-Qur’an berkaitan erat dengan sejarah pengumpulan mushaf. Pada masa Rasulullah SAW, wahyu yang turun dicatat oleh para penulis wahyu di berbagai media seperti pelepah kurma, tulang, batu tipis, dan kulit hewan. Namun, seluruh ayat belum dihimpun dalam satu mushaf karena wahyu masih terus turun hingga akhir kehidupan Rasulullah SAW.( M. Ulil Abshor, “Kodifikasi Rasm Al-Qur’an (Sebuah Tinjauan Historis),” Ar Rosyad, Vol. 1, No. 2, 2023, hlm. 46.)

Setelah Rasulullah SAW wafat, banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam Perang Yamamah. Kejadian ini mendorong Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Tugas tersebut dipercayakan kepada Zaid bin Tsabit yang dikenal sebagai salah satu penulis wahyu Rasulullah SAW. (Ibid., hlm. 48.)

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, wilayah Islam berkembang sangat luas. Masyarakat dari berbagai daerah mulai membaca Al-Qur’an dengan dialek yang berbeda. Perbedaan tersebut berpotensi menimbulkan perselisihan. Oleh karena itu, Utsman membentuk tim yang bertugas menyalin mushaf standar berdasarkan mushaf yang telah dihimpun sebelumnya. Mushaf tersebut kemudian disebarluaskan ke berbagai wilayah Islam. (Ibid., hlm. 50.)

Karakteristik dan Keunikan Rasm Al-Qur’an

Salah satu keunikan rasm Al-Qur’an adalah adanya bentuk penulisan yang berbeda dengan ejaan Arab modern. Misalnya kata الصلاة ditulis الصلوة dan الزكاة ditulis الزكوة. Bagi sebagian orang, bentuk tersebut mungkin tampak tidak biasa.  (Fathul Amin, “Kaidah Rasm Utsmani dalam Mushaf Al-Qur’an Indonesia,” Tadris, Vol. 14, No. 1, 2019, hlm. 15.)

Selain itu, terdapat beberapa kata yang ditulis dengan pengurangan huruf tertentu. Dalam kaidah rasm, penghilangan huruf tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan mengikuti aturan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap bentuk penulisan dalam mushaf memiliki landasan yang jelas.

Keunikan lainnya adalah kemampuan rasm dalam mengakomodasi berbagai qira’at yang sahih. Bentuk tulisan tertentu memungkinkan satu kata dibaca dengan beberapa cara yang semuanya bersumber dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu, rasm tidak hanya berfungsi sebagai sistem penulisan, tetapi juga sebagai sarana pelestarian tradisi bacaan Al-Qur’an. (Gunawan Edi B. dkk., hlm. 29. )

Makna di Balik Rasm Al-Qur’an

Rasm Al-Qur’an memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar bentuk tulisan. Pertama, rasm menjadi bukti nyata bahwa umat Islam memiliki perhatian besar terhadap keaslian Al-Qur’an. Penulisan mushaf dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak terjadi perubahan sekecil apa pun terhadap teks wahyu. (Khoirizzuhro Ulya dan Wildan Setiawan, “Konsep Tulisan (Rasm) Al-Qur’an dalam Kitab Al-Itqan fi Ulumul Qur’an Karya Imam As-Suyuthi,” 2025, hlm. 63.) Kedua, rasm merupakan jembatan sejarah yang menghubungkan umat Islam masa kini dengan generasi sahabat. Ketiga, rasm menunjukkan keluasan makna Al-Qur’an. Keempat, rasm mengajarkan pentingnya ketelitian dalam menjaga ilmu pengetahuan.

Analisis Beberapa Contoh Rasm dalam Al-Qur’an

Untuk memahami keunikan rasm Al-Qur’an secara lebih mendalam, perlu diperhatikan beberapa contoh kata yang ditulis berbeda dari kaidah bahasa Arab modern. Salah satu contohnya adalah kata الصلاة yang dalam Mushaf Utsmani ditulis الصلوة. Demikian pula kata الزكاة ditulis الزكوة. Secara linguistik, bentuk penulisan tersebut mungkin tampak tidak sesuai dengan aturan ejaan Arab kontemporer. Namun, para ulama menjelaskan bahwa bentuk tersebut merupakan bagian dari tradisi penulisan yang diwariskan sejak masa sahabat dan dipertahankan sebagai bentuk penjagaan terhadap mushaf Al-Qur’an. (Fathul Amin, “Kaidah Rasm Utsmani dalam Mushaf Al-Qur’an Indonesia sebagai Sumber Belajar Baca Tulis Al-Qur’an,” Tadris, Vol. 14, No. 1, 2019, hlm. 16.)

Urgensi Mempelajari Rasm Al-Qur’an

Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kajian rasm Al-Qur’an tetap memiliki relevansi yang tinggi. Pemahaman terhadap rasm membantu umat Islam memahami sejarah kodifikasi Al-Qur’an serta proses pemeliharaan wahyu yang dilakukan oleh generasi awal Islam. Dengan mempelajari rasm, seseorang akan menyadari bahwa mushaf Al-Qur’an yang ada saat ini bukanlah hasil penulisan yang sembarangan, melainkan hasil proses ilmiah yang sangat teliti. (Hakmi Hidayat dkk., “Ilmu Rasm Al-Qur’an,” Relinesia, Vol. 3, No. 3, 2024, hlm. 112.)

Selain itu, pemahaman terhadap rasm dapat memperkuat keyakinan umat Islam terhadap autentisitas Al-Qur’an. Ketika seseorang mengetahui bahwa bentuk penulisan mushaf yang digunakan saat ini masih mempertahankan pola yang diwariskan sejak masa sahabat, maka akan semakin tampak betapa besar perhatian umat Islam terhadap penjagaan kitab sucinya. (Khoirizzuhro Ulya dan Wildan Setiawan, “Konsep Tulisan (Rasm) Al-Qur’an dalam Kitab Al-Itqan fi Ulumul Qur’an Karya Imam As-Suyuthi,” hlm. 67.)

Dalam dunia pendidikan Islam, kajian rasm juga memiliki manfaat praktis. Guru, dosen, maupun mahasiswa yang mempelajari Ulumul Qur’an akan lebih mudah memahami hubungan antara mushaf, qira’at, dan sejarah kodifikasi Al-Qur’an. Pemahaman tersebut sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman yang sering muncul ketika menemukan bentuk tulisan yang berbeda dari ejaan Arab modern.

Penutup

Rasm Al-Qur’an merupakan salah satu aspek penting dalam kajian Ulumul Qur’an yang menunjukkan betapa besar perhatian umat Islam terhadap pemeliharaan kitab sucinya. Rasm bukan sekadar sistem penulisan, melainkan bagian dari mekanisme penjagaan wahyu yang telah berlangsung sejak masa sahabat hingga sekarang.

Melalui rasm Utsmani, umat Islam dapat melihat bagaimana para sahabat menjaga Al-Qur’an dengan penuh ketelitian dan tanggung jawab. Keberadaan rasm juga menunjukkan bahwa setiap unsur dalam Al-Qur’an, termasuk cara penulisannya, memiliki nilai sejarah, ilmiah, dan spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, memahami rasm Al-Qur’an berarti memahami salah satu bentuk nyata penjagaan Allah SWT terhadap kitab-Nya sepanjang zaman.

Daftar Pustaka

Hidayat, Hakmi, dkk. “Ilmu Rasm Al-Qur’an.” Relinesia, Vol. 3, No. 3, 2024.

Raudhatul Fidyani dkk., “Analisis Kaidah Al-Badal pada Rasm ‘Utsmani dalam Mushaf Al-Qur’an,” JIQTA, Vol. 4, No. 2, 2025, hlm. 87

Ulil Abshor, “Kodifikasi Rasm Al-Qur’an (Sebuah Tinjauan Historis),” Ar Rosyad, Vol. 1, No. 2, 2023, hlm. 46.

Fathul Amin, “Kaidah Rasm Utsmani dalam Mushaf Al-Qur’an Indonesia sebagai Sumber Belajar Baca Tulis Al-Qur’an,” Tadris, Vol. 14, No. 1, 2019, hlm. 16. Abshor, M. Ulil. “Kodifikasi Rasm Al-Qur’an (Sebuah Tinjauan Historis).” Ar Rosyad: Jurnal Keislaman dan Sosial Humaniora 1, no. 2 (2023): 45–55.

Amin, Fathul. “Kaidah Rasm Utsmani dalam Mushaf Al-Qur’an Indonesia sebagai Sumber Belajar Baca Tulis Al-Qur’an.” Tadris: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Pendidikan Islam 14, no. 1 (2019): 13–25.

Fidyani, Raudhatul, Afnan Mu’adzah, dan Misnawati. “Analisis Kaidah Al-Badal pada Rasm ‘Utsmani dalam Mushaf Al-Qur’an.” Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (JIQTA) 4, no. 2 (2025): 85–96.

Hidayat, Hakmi, dkk. “Ilmu Rasm Al-Qur’an.” Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia 3, no. 3 (2024): 106–116.

Ulya, Khoirizzuhro, dan Wildan Setiawan. “Konsep Tulisan (Rasm) Al-Qur’an dalam Kitab Al-Itqan fi Ulumul Qur’an Karya Imam As-Suyuthi.” 2025.

Nisla Safitri Harahap

Mahasiswa UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan